RADARBANYUWANGI.ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku sejak 10 Juni 2026 mulai terasa dampaknya terhadap biaya hidup masyarakat Banyuwangi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) pada Juni 2026 mencapai 0,14 persen, dengan kenaikan harga BBM dan bawang merah menjadi penyumbang utama.
Data tersebut juga menunjukkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Banyuwangi mencapai 2,6 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) berada di angka 1,14 persen.
Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam mengatakan, pada Juni 2026 Indeks Harga Konsumen (IHK) Banyuwangi tercatat sebesar 112,26. Inflasi terjadi akibat kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Makanan hingga Transportasi Alami Kenaikan Harga
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 67/07/3510/Th XII yang dirilis BPS Banyuwangi, hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks selama Juni 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 3,55 persen.
Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,98 persen, serta perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 2,12 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok:
-
Kesehatan: 1,57 persen
-
Transportasi: 2,25 persen
-
Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan: 2,49 persen
-
Rekreasi, olahraga, dan budaya: 0,43 persen
-
Pendidikan: 0,38 persen
-
Penyediaan makanan dan minuman/restoran: 2,84 persen
-
Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 5,62 persen
Sementara itu, hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami penurunan indeks sebesar 0,25 persen.
"Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,25 persen," ujar Abdus Salam dalam Berita Resmi Statistik.
Emas, Beras, Minyak Goreng hingga Bensin Dorong Inflasi
BPS mencatat sejumlah komoditas memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan Banyuwangi.
Di antaranya adalah emas perhiasan, beras, minyak goreng, cabai rawit, bawang merah, bensin, mobil, jeruk, daging sapi, ikan tongkol, serta cabai merah.
Selain itu, bahan bakar rumah tangga, sepeda motor, tahu mentah, dan bawang putih juga ikut menyumbang kenaikan inflasi sepanjang tahun.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang justru menahan laju inflasi.
Komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan antara lain tomat, kelapa, telur ayam ras, serta tarif kendaraan roda dua daring.
Bawang Merah dan BBM Dominasi Inflasi Bulanan
Untuk inflasi bulanan Juni 2026, BPS menyebut bawang merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar.
Selain bawang merah, kenaikan harga bensin, bawang putih, beras, dan emas perhiasan juga ikut mendorong inflasi bulan tersebut.
Sebaliknya, beberapa komoditas pangan mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi.
Komoditas yang menyumbang deflasi bulanan meliputi daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, jeruk, udang basah, tongkol diawetkan, telur ayam ras, rampela hati ayam, ketimun, dan terong.
"Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m adalah daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, jeruk, udang basah, tongkol diawetkan, telur ayam ras, rampela hati ayam, ketimun, dan terong," jelas Abdus Salam.
Kenaikan Pertamax Mulai Terasa
Laju inflasi Banyuwangi pada Juni 2026 tidak lepas dari kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Dalam penyesuaian tersebut, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan harga BBM tersebut berdampak pada meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang, yang kemudian ikut mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Banyuwangi.
Meski inflasi masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali, BPS menilai perkembangan harga pangan dan energi tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat pada paruh kedua 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin