RADARBANYUWANGI.ID – Fenomena baru muncul di sejumlah ruas jalan Kota Banyuwangi. Dalam dua pekan terakhir, pedagang telur ayam ras bermunculan di pinggir jalan dengan menawarkan harga lebih murah dibandingkan pasar tradisional maupun toko kelontong. Kondisi ini dipicu merosotnya harga telur di tingkat peternak, sehingga banyak produsen memilih menjual langsung kepada konsumen demi menjaga keuntungan.
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi pada Rabu (2/7) pagi menunjukkan lapak-lapak penjual telur mudah ditemui di sejumlah titik strategis, di antaranya di depan SDN Kepatihan dan Jalan KH Agus Salim, Kelurahan Tamanbaru. Mereka memanfaatkan lapak sederhana, mobil bak terbuka, hingga meja seadanya untuk menjajakan telur.
Harga yang ditawarkan berkisar Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram, lebih murah sekitar Rp2.000 dibandingkan harga di pasar tradisional yang masih berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp24.000 per kilogram.
Peternak Pilih Jual Langsung
Salah seorang pedagang telur di Jalan KH Agus Salim, Sumiyati, mengaku baru sekitar dua pekan berjualan langsung di pinggir jalan. Ia membantu memasarkan hasil peternakan milik anaknya setelah harga telur di tingkat pengepul terus mengalami penurunan.
"Anak saya punya peternakan ayam. Saya ikut membantu menjual. Sehari bisa menjual sekitar 10 kilogram telur. Sejak bulan lalu harganya anjlok. Kalau dijual ke pengepul, untungnya kecil sekali. Makanya saya pilih jual sendiri," ujarnya.
Menurut Sumiyati, penjualan langsung menjadi solusi agar peternak tetap memperoleh margin keuntungan di tengah lesunya harga telur di pasaran.
Harga Turun Dibanding Bulan Lalu
Pedagang sembako di Pasar Banyuwangi, Wagito, membenarkan bahwa harga telur ayam ras memang terus mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
"Sekarang sekitar Rp23 ribu per kilogram, sudah murah sekali. Padahal Juni lalu masih Rp26 ribu sampai Rp28 ribu per kilogram. Mungkin karena stok telur masih melimpah sehingga harganya turun," katanya.
Maraknya pedagang telur di pinggir jalan menjadi gambaran bagaimana peternak berupaya memangkas jalur distribusi agar harga jual tetap kompetitif sekaligus memperoleh keuntungan yang lebih baik dibanding menjual kepada pengepul.
Pembeli Borong untuk Kebutuhan Usaha
Harga yang lebih murah membuat lapak-lapak dadakan tersebut ramai didatangi pembeli, terutama pelaku usaha kuliner yang membutuhkan telur dalam jumlah besar.
Salah satunya Urip, pembeli yang mengaku rutin membeli telur sebagai bahan baku usaha cilok miliknya.
"Saya memang sengaja cari yang lebih murah. Belinya banyak untuk bahan cilok. Selisih Rp2.000 per kilogram sangat berpengaruh kalau belinya dalam jumlah besar," ungkapnya.
Meski selisih harga relatif kecil, bagi pelaku usaha mikro maupun rumah tangga, penghematan tersebut cukup berarti. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perubahan harga di tingkat peternak berdampak langsung terhadap pola distribusi dan perilaku belanja masyarakat di Banyuwangi. (ray)
Editor : Ali Sodiqin