RADARBANYUWANGI.ID – Penghentian sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah diduga berdampak pada anjloknya harga sejumlah bahan pangan di Banyuwangi. Harga telur ayam ras, daging ayam, cabai rawit, hingga bawang merah turun signifikan dalam dua pekan terakhir. Di sisi lain, fenomena baru muncul di sejumlah ruas jalan, yakni pedagang telur ayam ras yang berjualan langsung kepada konsumen dengan harga lebih murah dibandingkan pasar.
Program MBG yang menyasar pelajar dan ibu hamil diketahui mulai berhenti sementara sejak Senin (22/6) seiring dimulainya libur sekolah. Berkurangnya permintaan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi turunnya harga komoditas pangan, meski pelaku pasar juga menyebut melimpahnya pasokan akibat musim panen ikut berkontribusi.
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi pada Rabu (2/7), lapak penjual telur dadakan terlihat di sejumlah titik, di antaranya di depan SDN Kepatihan dan di Jalan KH Agus Salim, Kelurahan Tamanbaru. Harga telur yang ditawarkan berkisar Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram, lebih murah dibandingkan harga di pasar tradisional yang masih berada di kisaran Rp23 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
Peternak Pilih Jual Langsung ke Konsumen
Sumiyati, salah seorang penjual telur di Jalan KH Agus Salim, mengaku baru sekitar dua pekan berjualan di pinggir jalan. Ia membantu anaknya yang memiliki peternakan ayam setelah harga telur di tingkat pengepul terus merosot.
"Anak saya punya peternakan ayam. Saya ikut membantu menjual. Sehari bisa menjual sekitar 10 kilogram telur. Sejak bulan lalu harganya anjlok. Kalau dijual ke pengepul untungnya kecil sekali. Makanya saya pilih jual sendiri," ujarnya.
Menurut Sumiyati, penjualan langsung menjadi salah satu cara agar peternak tetap memperoleh keuntungan di tengah harga telur yang terus melemah.
Selisih harga sekitar Rp2 ribu per kilogram dibandingkan pasar membuat banyak konsumen memilih membeli langsung di lapak pinggir jalan.
Salah satunya Urip. Ia sengaja membeli telur dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan usaha cilok yang dijalaninya.
"Saya beli banyak untuk bahan cilok. Selisih Rp2.000 per kilogram sangat berpengaruh kalau belinya dalam jumlah besar," katanya.
Harga Telur Turun hingga Rp6 Ribu per Kilogram
Pedagang sembako di Pasar Banyuwangi, Wagito, membenarkan harga telur kini jauh lebih rendah dibandingkan Juni lalu.
"Sekarang sekitar Rp23 ribu per kilogram, sudah murah sekali. Padahal bulan lalu masih Rp26 ribu sampai Rp28 ribu per kilogram. Mungkin karena stok telur masih banyak sehingga harganya turun," ujarnya.
Salah seorang pengepul telur yang biasa memasok dapur SPPG juga menduga penghentian sementara MBG menjadi salah satu penyebab melemahnya harga.
"Sudah menjadi hukum pasar. Saat pasokan melimpah dan permintaan terbatas, harga otomatis turun," katanya yang meminta namanya tidak disebutkan.
Ayam, Cabai, dan Bawang Merah Ikut Turun
Penurunan harga juga terjadi di Pasar Srono. Sejumlah pedagang mencatat harga beberapa komoditas turun cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.
Pedagang ayam Kholilah mengatakan harga daging ayam ras turun bertahap dari Rp30 ribu menjadi Rp23 ribu per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp22 ribu.
"Kata orang-orang, karena MBG libur, permintaan jadi berkurang sehingga banyak barang yang harganya turun," ujarnya.
Hal serupa disampaikan pedagang sembako Inayah. Menurutnya, harga bawang merah kini turun dari Rp50 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Cabai rawit juga merosot dari Rp60 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram, sedangkan telur turun dari Rp26 ribu menjadi Rp22 ribu per kilogram.
Meski demikian, Inayah menilai penurunan harga tidak semata-mata dipengaruhi liburnya MBG. Faktor panen raya yang meningkatkan pasokan di pasar juga diduga turut menekan harga.
"Kalau imbas ke pedagang, harga mahal atau murah sebenarnya sama saja. Tetapi ketika harga murah, daya beli masyarakat meningkat sehingga penjualan juga ikut naik," pungkasnya. (ray/why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin