Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pasar Cermati Defisit Neraca Perdagangan Indonesia, Rupiah Berpeluang Kembali Melemah terhadap Dolar AS

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 2 Juli 2026 | 09:04 WIB
Rupiah berpotensi kembali melemah setelah pasar merespons negatif defisit neraca perdagangan Indonesia Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar. (Pexels/Burst)
Rupiah berpotensi kembali melemah setelah pasar merespons negatif defisit neraca perdagangan Indonesia Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar. (Pexels/Burst)

RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Pelemahan berpotensi terjadi setelah pelaku pasar merespons negatif rilis neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2026 yang mencatatkan defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (1/7/2026), rupiah ditutup menguat 43 poin ke level Rp17.950 per dolar AS. Meski demikian, tekanan dari faktor domestik diperkirakan masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari data neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.010 per dolar AS," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Kamis (2/7/2026), dikutip JawaPos.com.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar memberikan respons negatif terhadap defisit neraca perdagangan tersebut karena menjadi yang pertama setelah Indonesia membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Defisit terjadi karena nilai impor melampaui ekspor. Pada Mei 2026, impor Indonesia tercatat mencapai USD24,81 miliar, sedangkan nilai ekspor sebesar USD23,20 miliar.

Ia menjelaskan, penyumbang terbesar defisit berasal dari sektor minyak dan gas (migas) yang mencatatkan defisit sebesar USD3,76 miliar. Komoditas hasil minyak dan minyak mentah menjadi penyebab utama tingginya defisit di sektor tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan impor Indonesia pada Mei 2026 meningkat 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor ini turut memperlebar selisih antara nilai impor dan ekspor.

Selain mencermati neraca perdagangan, pelaku pasar juga memperhatikan perkembangan inflasi nasional. Inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara year on year (yoy).

Angka tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026. Meski mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat inflasi masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan Bank Indonesia.

Kombinasi defisit neraca perdagangan dan perkembangan inflasi menjadi faktor yang diperkirakan akan memengaruhi sentimen investor terhadap aset domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah dalam perdagangan hari ini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Neraca Perdagangan Indonesia #dolar as #rupiah