RADARBANYUWANGI.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pengembangan CNG Merah Putih 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Pemerintah menargetkan tabung berbahan bakar gas bumi tersebut mulai diimplementasikan kepada masyarakat pada 2026 setelah melalui tahapan uji coba, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus menekan beban subsidi energi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan saat ini pemerintah tengah menyiapkan sekitar 15 unit prototipe tabung CNG Merah Putih untuk memasuki proses pengujian.
"Pak Menteri sudah mengumumkan tabung Merah Putih. Bulan Juli ini sedang dibuat prototipe untuk diuji. Belasan lah, mungkin sekitar 15 tabung. Satu tahap lagi sudah bisa diimplementasikan dan diedarkan tahun ini," ujar Laode di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (29/6).
Gunakan Material Komposit yang Lebih Ringan
Berbeda dengan tabung LPG konvensional berbahan logam, CNG Merah Putih menggunakan tabung tipe 4 yang dibuat dari material komposit.
Menurut Laode, teknologi tersebut dipilih karena menghasilkan tabung dengan bobot jauh lebih ringan sehingga lebih mudah digunakan oleh masyarakat, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga.
"Material tabung ini sudah sampai tipe 4. Tipe 1 semuanya logam, tipe 2 mulai ada campuran, tipe 3 masih cukup berat. Karena itu kita buat yang lebih ringan agar emak-emak nanti tidak merasa penggantinya berat," jelasnya.
Pemerintah berharap desain baru tersebut dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus mempercepat penerimaan masyarakat terhadap program konversi energi dari LPG ke gas bumi.
Prototipe Masih Impor dari China
Untuk tahap awal, tabung CNG Merah Putih masih didatangkan dari China karena teknologi pembuatannya belum diproduksi di dalam negeri.
Meski demikian, seluruh prototipe akan menjalani serangkaian pengujian di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) guna memastikan aspek keselamatan sebelum digunakan masyarakat.
Pengujian meliputi ketahanan tabung terhadap tekanan tinggi serta keamanan katup (valve), yang menjadi komponen penting dalam penyimpanan gas bertekanan.
"Saat ini dari China dulu. Kita uji di Lemigas, harus ada uji tekanan. Yang paling penting adalah keamanan valve dan tabungnya," kata Laode.
Harga Disamakan dengan LPG 3 Kg
Pemerintah memastikan harga jual CNG Merah Putih akan dipatok setara dengan harga LPG 3 kg bersubsidi agar tidak membebani masyarakat.
Menurut simulasi Kementerian ESDM, meskipun dijual dengan harga yang sama, penggunaan CNG berbasis gas bumi domestik berpotensi mengurangi subsidi energi hingga sekitar 30 persen.
"Sekarang simulasinya masih disamakan. Dengan harga yang sama pun subsidi bisa turun sampai 30 persen. Kalau nanti jumlahnya besar, kita punya posisi tawar agar mereka membangun pabriknya di Indonesia," ungkapnya.
Prioritas Kota Besar di Pulau Jawa
Program konversi menuju CNG Merah Putih akan dilakukan secara bertahap.
Tahap awal difokuskan di kota-kota besar di Pulau Jawa yang telah memiliki jaringan pipa gas sehingga pasokan bahan baku lebih terjamin.
Kementerian ESDM juga telah berkoordinasi dengan SKK Migas untuk memastikan ketersediaan alokasi gas bumi sebelum implementasi dilakukan secara luas.
"Iya, kita prioritaskan dulu daerah yang sudah memiliki jaringan pipa gas. Uji cobanya di kota-kota besar di Pulau Jawa. Kami juga sudah membahasnya dengan SKK Migas agar pasokan gas tersedia ketika program ini berjalan," ujar Laode.
Melalui program CNG Merah Putih, pemerintah berharap pemanfaatan gas bumi domestik semakin optimal, ketergantungan terhadap impor LPG berkurang, dan efisiensi anggaran subsidi energi dapat terus ditingkatkan tanpa mengurangi akses masyarakat terhadap energi bersih dan terjangkau. (*)
Editor : Ali Sodiqin