RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah terus mematangkan rencana mengalihkan penggunaan LPG 3 kilogram ke Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor elpiji. Program yang masih dalam tahap pengembangan ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menekan beban subsidi sekaligus memanfaatkan cadangan gas bumi domestik yang melimpah.
Di tengah pembahasan mengenai konversi tersebut, muncul pertanyaan di masyarakat mengenai perbedaan CNG dengan LPG yang selama puluhan tahun digunakan untuk memasak di rumah.
Meski sama-sama berfungsi sebagai bahan bakar, kedua jenis gas ini memiliki karakteristik, sistem distribusi, hingga tingkat emisi yang berbeda.
Berikut lima fakta penting mengenai perbedaan CNG dan LPG yang perlu diketahui.
1. Berasal dari Sumber Energi yang Berbeda
Perbedaan paling mendasar terletak pada asal bahan bakunya.
LPG (Liquefied Petroleum Gas) merupakan campuran gas propana dan butana yang diperoleh dari proses pengolahan minyak bumi maupun gas alam.
Sementara itu, CNG (Compressed Natural Gas) berasal dari gas bumi dengan kandungan utama metana yang kemudian dimampatkan menggunakan tekanan tinggi agar mudah disimpan dan didistribusikan.
Karena berasal dari gas alam domestik, pemerintah menilai CNG memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
2. Distribusi Menggunakan Jaringan Pipa dan Tabung Khusus
Jika LPG selama ini didistribusikan menggunakan tabung baja bertekanan rendah, CNG memerlukan sistem penyimpanan yang berbeda.
Pemerintah bersama PT PGN mengembangkan konsep GasKita, yaitu distribusi gas melalui jaringan gas rumah tangga (jargas) maupun tabung CNG berteknologi khusus.
Tabung tersebut dirancang mampu menahan tekanan gas yang jauh lebih tinggi dibandingkan tabung LPG konvensional sehingga memenuhi standar keselamatan untuk penggunaan rumah tangga.
3. Harga Berpotensi Lebih Murah dan Stabil
Salah satu alasan pemerintah mendorong konversi ke CNG adalah faktor keekonomian.
Karena memanfaatkan gas bumi yang tersedia di dalam negeri, harga CNG tidak terlalu dipengaruhi fluktuasi harga minyak dunia maupun acuan internasional seperti Contract Price (CP) Aramco yang selama ini menjadi referensi harga LPG.
Dengan biaya produksi yang lebih kompetitif, CNG diproyeksikan memiliki harga yang lebih stabil dan berpotensi lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi.
Selain itu, pemerintah berharap penggunaan CNG dapat mengurangi beban subsidi energi dan menekan impor LPG dalam jangka panjang.
4. Emisi Lebih Rendah
Dari sisi lingkungan, CNG dikenal sebagai salah satu bahan bakar fosil dengan tingkat emisi yang lebih rendah.
Pembakaran gas metana menghasilkan emisi karbon, partikulat, dan polutan lain yang lebih sedikit dibandingkan LPG maupun minyak tanah.
Karena itu, pengembangan CNG dinilai sejalan dengan target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui pemanfaatan energi yang lebih bersih.
5. Sistem Keamanan Berbeda
Perbedaan lainnya terletak pada karakteristik fisik kedua jenis gas.
LPG memiliki massa jenis lebih berat daripada udara. Ketika terjadi kebocoran, gas cenderung mengendap di lantai atau ruang tertutup sehingga berpotensi memicu ledakan apabila terkena sumber api.
Sebaliknya, CNG memiliki massa jenis lebih ringan daripada udara. Jika terjadi kebocoran, gas akan segera naik dan menyebar ke atmosfer sehingga risiko penumpukan gas di dalam ruangan menjadi lebih kecil.
Meski demikian, CNG disimpan dalam tekanan yang sangat tinggi, mencapai sekitar 200 bar, sehingga tabung penyimpanannya harus memenuhi standar keamanan yang jauh lebih ketat dibandingkan tabung LPG.
Masih Hadapi Tantangan Infrastruktur
Meski menawarkan berbagai keunggulan, implementasi CNG sebagai pengganti LPG masih menghadapi sejumlah tantangan.
Pemerintah harus menyiapkan infrastruktur jaringan pipa gas, stasiun pengisian, serta distribusi tabung bertekanan tinggi agar dapat menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
Selain itu, proses edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan CNG juga menjadi faktor penting agar transisi energi dapat berlangsung aman dan efektif.
Apabila seluruh infrastruktur dan standar keselamatan telah siap, CNG berpotensi menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi impor LPG, meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik, serta memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin