RADARBANYUWANGI.ID – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) di sektor rumah tangga. Arahan itu disampaikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam pertemuan di Istana Negara, Kamis (11/6/2026), sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Pertemuan tersebut membahas dua agenda besar pemerintah, yakni penguatan sektor energi dan percepatan hilirisasi sumber daya alam. Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi harga energi dunia, Presiden meminta pemerintah segera menghadirkan sumber energi alternatif berbasis potensi domestik.
"Kami baru selesai menghadap Bapak Presiden. Kami melakukan rapat untuk membicarakan sektor energi dan sektor hilirisasi," kata Bahlil usai pertemuan di Istana Negara.
Menurut Bahlil, Presiden memberikan perhatian khusus terhadap percepatan transisi dari LPG menuju CNG karena Indonesia masih bergantung pada impor elpiji dalam jumlah besar.
"Bapak Presiden memerintahkan untuk segera mencari energi-energi alternatif. Khususnya yang sekarang kita fokus itu adalah percepatan peralihan LPG ke CNG," ujar Bahlil.
Impor LPG Jadi Beban, CNG Dipilih sebagai Solusi
Program konversi ke CNG tidak lepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor.
Data Kementerian ESDM menunjukkan kebutuhan LPG nasional telah mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 hingga 1,7 juta ton, sehingga sekitar 80–84 persen kebutuhan nasional masih dipenuhi melalui impor.
Kondisi tersebut membuat pemerintah mencari sumber energi alternatif yang seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Berbeda dengan LPG yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri, CNG diproduksi dari gas bumi domestik yang kandungan utamanya berupa metana (C1).
Bahlil optimistis program ini akan memperkuat kemandirian energi nasional karena Indonesia memiliki cadangan gas yang besar, termasuk temuan lapangan gas sekitar 3.000 MMscf di Kalimantan Timur yang diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Subsidi Tetap Diberikan kepada Masyarakat
Pemerintah memastikan program konversi tidak akan mengurangi perlindungan terhadap masyarakat.
Bahlil menegaskan subsidi energi tetap diberikan kepada pengguna CNG sebagaimana subsidi LPG saat ini. Kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden agar transisi energi tidak membebani masyarakat kecil.
"Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat," tegas Bahlil.
Selain itu, pemerintah juga mengupayakan harga jual CNG dapat setara dengan LPG bersubsidi 3 kilogram sehingga masyarakat tidak merasakan kenaikan biaya energi saat program mulai diterapkan.
Tabung CNG 3 Kg Masih Dalam Tahap Uji
Meski konsep konversi telah disiapkan, pemerintah masih menyempurnakan aspek teknis penggunaan CNG untuk rumah tangga.
Berbeda dengan LPG yang disimpan dalam tekanan relatif rendah, CNG harus dimampatkan hingga 200–250 bar. Tekanan yang sangat tinggi tersebut membuat pemerintah harus mengembangkan tabung khusus berukuran 3 kilogram yang memenuhi standar keselamatan.
"Untuk yang 3 kilo memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya besar sekali. Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah dua sampai tiga bulan ini kita akan dapat hasilnya," ujar Bahlil.
Apabila seluruh proses pengujian dinyatakan aman, pemerintah akan memulai konversi secara bertahap.
Lebih Murah dan Ramah Lingkungan
Selain mengurangi impor, pemerintah mengklaim penggunaan CNG juga lebih ekonomis.
Menurut Bahlil, harga CNG berpotensi 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan LPG, bahkan sebelum memperhitungkan subsidi pemerintah. Efisiensi tersebut berasal dari biaya distribusi yang lebih rendah karena memanfaatkan gas bumi domestik.
Dari sisi lingkungan, CNG juga menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan LPG sehingga dinilai mendukung agenda transisi menuju energi yang lebih bersih.
DPR Dukung Percepatan Konversi
Rencana pemerintah mendapat dukungan dari kalangan legislatif.
Anggota Komisi XII DPR RI Jamaludin Malik menilai pengembangan CNG merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan cadangan gas bumi nasional sekaligus mengurangi beban APBN akibat impor LPG.
Ia mendorong agar pemanfaatan CNG tidak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga sektor transportasi, hotel, restoran, hingga kawasan komersial sehingga tercipta skala ekonomi yang lebih besar.
Sementara itu, Anggota Komisi XII DPR RI Yulisman mengusulkan pemanfaatan konsep virtual pipeline agar distribusi CNG dapat menjangkau daerah-daerah penghasil gas seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan yang belum terkoneksi jaringan pipa nasional.
Lebih Aman Saat Terjadi Kebocoran
Secara teknis, CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG.
CNG tersusun dari metana yang memiliki massa jenis lebih ringan daripada udara. Jika terjadi kebocoran, gas akan cepat naik ke atmosfer sehingga risiko akumulasi di dalam ruangan lebih kecil.
Sebaliknya, LPG yang terdiri atas propana dan butana memiliki massa jenis lebih berat dari udara. Saat bocor, gas cenderung mengendap di lantai atau ruang tertutup sehingga berpotensi memicu ledakan apabila terkena sumber api.
Meski demikian, penggunaan CNG tetap memerlukan standar keselamatan yang tinggi. Studi dalam Journal of Safety Science and Resilience (2024) menyebut risiko penggunaan CNG tergolong rendah dan tidak beracun, tetapi implementasi skala rumah tangga harus didukung kualitas tabung bertekanan tinggi, katup pengaman otomatis (shut-off valve), serta excess flow valve untuk mencegah kebocoran gas.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, ketersediaan gas bumi domestik, serta penyempurnaan teknologi tabung CNG, program konversi dari LPG menuju CNG diproyeksikan menjadi salah satu langkah besar Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin