RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah terus mempercepat pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas elpiji. Bahan bakar alternatif ini dinilai memiliki karakteristik yang mirip dengan LPG, dapat memanfaatkan sebagian besar infrastruktur yang sudah ada, sekaligus mendukung program hilirisasi energi nasional.
DME menjadi salah satu proyek strategis yang kembali diprioritaskan pemerintah pada 2025–2026. Selain memanfaatkan sumber daya dalam negeri, pengembangan DME diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi beban devisa akibat tingginya impor LPG.
Apa Itu DME?
DME atau Dimethyl Ether (CH₃OCH₃) merupakan senyawa kimia berbentuk gas yang dapat dicairkan seperti LPG. Gas ini tidak berwarna, tidak mengandung sulfur, serta menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dibandingkan LPG konvensional.
Salah satu keunggulan DME adalah fleksibilitas bahan bakunya. Gas sintetis tersebut dapat diproduksi dari berbagai sumber energi domestik, mulai batubara berkalori rendah, gas alam, biomassa, sampah organik, Coal Bed Methane (CBM), hingga metanol. Fleksibilitas ini membuat DME dipandang sebagai solusi untuk memanfaatkan sumber daya energi yang melimpah di Indonesia.
Mengapa DME Dipilih sebagai Pengganti LPG?
Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan LPG nasional untuk memenuhi konsumsi rumah tangga. Ketergantungan tersebut membuat pemerintah mencari energi substitusi yang bisa diproduksi di dalam negeri.
DME dipilih karena sifat fisik dan karakteristik pembakarannya sangat mirip dengan LPG, sehingga proses transisi dinilai lebih mudah dibandingkan penggunaan bahan bakar alternatif lainnya.
Kelebihan DME Dibanding LPG
Salah satu alasan utama DME menjadi kandidat kuat pengganti LPG adalah kemampuannya memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia.
Campuran 20 persen DME dan 80 persen LPG masih dapat digunakan pada kompor LPG yang beredar di masyarakat tanpa memerlukan perubahan besar. Selain itu, tabung penyimpanan, tangki distribusi, hingga jaringan penyaluran juga dapat dimanfaatkan dengan sejumlah penyesuaian teknis.
Dari sisi lingkungan, DME menawarkan sejumlah keunggulan.
Menurut Kementerian ESDM, penggunaan DME berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 20 persen. Selain itu, bahan bakar ini tidak menghasilkan sulfur, tidak merusak lapisan ozon, menghasilkan partikulat lebih rendah, serta memiliki nyala api biru yang stabil dengan pembakaran lebih sempurna.
Kekurangan DME Masih Menjadi Tantangan
Di balik berbagai keunggulannya, DME masih memiliki beberapa kelemahan.
Nilai kalor DME hanya sekitar 7.749 kkal per kilogram, lebih rendah dibandingkan LPG yang mencapai 12.076 kkal per kilogram.
Konsekuensinya, konsumsi bahan bakar menjadi lebih besar untuk menghasilkan panas yang sama. Pada penggunaan DME murni, waktu memasak diperkirakan sekitar 10 hingga 20 persen lebih lama dibandingkan menggunakan LPG.
Selain itu, penggunaan DME 100 persen juga memerlukan kompor yang dirancang khusus karena karakteristik pembakarannya berbeda. Sementara untuk campuran 20 persen DME, masyarakat masih dapat memakai kompor LPG yang digunakan saat ini.
Sudah Diuji di Indonesia
Balitbang Kementerian ESDM telah melakukan uji coba penggunaan DME di sejumlah daerah, antara lain Marunda (Jakarta), Palembang, dan Muara Enim.
Pengujian yang melibatkan lebih dari 250 kepala keluarga tersebut menunjukkan hasil positif. DME dinilai mudah dinyalakan, menghasilkan api yang stabil, diterima masyarakat, serta layak digunakan sebagai bahan bakar pengganti LPG dari sisi teknis.
Potensi Menghemat Devisa Negara
Selain memperkuat ketahanan energi, penggunaan DME juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi.
Kajian LEMIGAS bersama Universitas Indonesia memperkirakan implementasi DME dapat mengurangi impor LPG dan menghemat devisa negara hingga sekitar Rp10,71 triliun per tahun.
Namun demikian, kajian tersebut juga mencatat adanya potensi peningkatan subsidi pemerintah sekitar Rp3,97 triliun, tergantung harga produksi DME dan kebijakan yang diterapkan.
Masuk Prioritas Hilirisasi Energi
Pemerintah masih menempatkan proyek DME sebagai salah satu program prioritas hilirisasi energi nasional. Pada periode 2025–2026, proyek ini kembali didorong melalui penyelesaian investasi dan pengembangan industri sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor LPG.
Meski demikian, keberhasilan implementasi DME secara luas masih bergantung pada kesiapan industri, keekonomian produksi, pembangunan fasilitas pendukung, serta penerimaan masyarakat terhadap bahan bakar alternatif tersebut.
Selain DME, Ini Alternatif Pengganti LPG
Selain DME, sejumlah teknologi juga dikembangkan sebagai pengganti LPG, meski tingkat kesiapannya berbeda-beda.
Kompor induksi menawarkan efisiensi tinggi karena memanfaatkan listrik sebagai sumber energi, tetapi masih bergantung pada keandalan pasokan listrik. Biogas menjadi pilihan ramah lingkungan untuk skala rumah tangga dan komunal, sedangkan BioLPG masih menghadapi keterbatasan kapasitas produksi.
Sementara itu, hidrogen dipandang sebagai bahan bakar masa depan dengan emisi yang sangat rendah, namun penerapannya masih terkendala kesiapan infrastruktur dan biaya investasi yang tinggi.
Dengan berbagai kelebihan dan tantangan tersebut, DME saat ini menjadi opsi yang paling realistis sebagai pengganti LPG di Indonesia. Dukungan kebijakan pemerintah, ketersediaan bahan baku domestik, serta kompatibilitas dengan infrastruktur LPG yang telah ada menjadi faktor utama yang membuat DME berada di garis terdepan dalam transisi energi sektor rumah tangga. (*)
Editor : Ali Sodiqin