RADARBANYUWANGI.ID – Puluhan tahun masyarakat Sipiongot, Kabupaten Padang Lawas Utara, harus hidup berdampingan dengan jalan berlumpur yang menyulitkan aktivitas sehari-hari. Membawa hasil panen ke pasar berarti berjalan kaki selama berjam-jam, sementara akses menuju layanan pendidikan dan kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri. Kini, harapan itu mulai menjadi kenyataan setelah pembangunan jalan membuka konektivitas kawasan yang selama ini terisolasi.
Perubahan tersebut membuat masyarakat Sipiongot memberikan upah-upah kepada Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution di kediaman Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara Ihwan Ritonga, Kompleks Menteng Indah, Medan, Minggu (28/6). Upah-upah merupakan tradisi masyarakat Batak sebagai bentuk doa, rasa syukur, sekaligus penghormatan kepada seseorang.
Kegiatan itu berlangsung dalam rangkaian pengajian Ikatan Keluarga Dolok Sipiongot dan Sekitarnya (IKDS). Suasana penuh haru mewarnai pertemuan ketika warga mengenang perjuangan panjang menghadapi keterbatasan infrastruktur yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Delapan Dekade Menanti Jalan Layak
Wakil Ketua DPRD Sumut Ihwan Ritonga mengatakan pembangunan yang tengah berlangsung menjadi momentum bersejarah bagi Sipiongot. Menurutnya, wilayah tersebut selama 81 tahun belum pernah menikmati pembangunan jalan secara menyeluruh.
"Selama 12 tahun saya di DPRD terus mengawal persoalan ini. Dulu dibangun sedikit demi sedikit, dua kilometer, lima kilometer, tetapi tidak pernah tuntas. Sekarang jalan yang menghubungkan daerah terisolir langsung ditangani secara serius," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan anggaran sekitar Rp283 miliar untuk pembangunan dan perbaikan 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot dan sekitarnya.
Pembangunan itu mulai memberikan dampak nyata. Mobilitas masyarakat semakin mudah, distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar, dan akses menuju pusat pelayanan publik perlahan membaik. Warga pun berharap biaya angkut hasil panen yang selama ini tinggi dapat ditekan sehingga pendapatan petani meningkat.
"Dulu daerah ini sering disebut tertinggal. Sekarang masyarakat merasa diperhatikan dan memiliki harapan baru untuk masa depan," kata Ihwan.
Perjalanan Tiga Jam Demi Menjual Hasil Panen
Cerita yang disampaikan masyarakat menggambarkan beratnya kehidupan sebelum pembangunan jalan dimulai.
Kepala Desa Janji Manahan, Ali Mutarman Dalimunthe, masih mengingat masa kecilnya ketika harus berjalan kaki menuju Pasar Sipiongot sambil memikul hasil panen.
"Saya lahir tahun 1980. Saat kelas enam SD kalau ke Pasar Sipiongot harus berjalan kaki sambil memikul hasil panen. Jalannya berlumpur dan sangat berat dilalui," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Siburbur, Sahbuddin Ritonga, mengatakan masyarakat harus menghabiskan waktu hingga tiga jam hanya untuk menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju pasar tradisional.
Kondisi tersebut membuat biaya distribusi hasil pertanian dan perkebunan membengkak. Akibatnya, harga jual komoditas, termasuk kelapa sawit, lebih rendah dibandingkan daerah lain yang memiliki akses transportasi lebih baik.
Bagi warga, jalan bukan sekadar infrastruktur. Jalan menjadi penghubung menuju pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga berbagai layanan pemerintahan yang selama ini sulit dijangkau.
Bobby: Jalan Dibangun karena Kebutuhan Masyarakat
Menanggapi apresiasi masyarakat, Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution menegaskan pembangunan jalan merupakan tanggung jawab pemerintah sehingga tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang layak dipuji secara berlebihan.
Namun, Bobby mengaku memiliki pengalaman yang tidak pernah dilupakannya saat pertama kali meninjau Sipiongot.
Ia bercerita pernah melintasi kawasan tersebut sekitar pukul 02.00 dini hari ketika akses jalan masih sangat sulit dilalui. Dalam perjalanan dari Labuhanbatu menuju Tapanuli Selatan, kendaraan yang ditumpanginya terjebak sehingga rombongan harus bermalam di tengah hutan.
"Saya pernah lewat jam dua pagi. Di tengah jalan kendaraan kami terpacak, tidur di tengah hutan. Baru sekali itu saya melihat kondisi kampung yang membuat saya menangis di tempat sejak menjadi kepala daerah," tuturnya.
Menurut Bobby, pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk menuntaskan pembangunan jalan di Sipiongot.
"Jalan Sipiongot dibangun karena masyarakat membutuhkannya. Jangan ada lagi istilah daerah tertinggal atau daerah yang seolah tidak masuk dalam peta pembangunan," tegasnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga berkomitmen menyiapkan program beasiswa bagi putra-putri Sipiongot agar memiliki kesempatan lebih besar melanjutkan pendidikan.
Harapan Baru bagi Sipiongot
Pembangunan jalan di Sipiongot tidak hanya menghadirkan akses transportasi yang lebih baik, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Distribusi hasil pertanian diharapkan menjadi lebih efisien, biaya logistik menurun, dan konektivitas menuju pusat perdagangan serta pelayanan publik semakin lancar.
Bagi masyarakat, perubahan yang mulai dirasakan hari ini menjadi penanda berakhirnya keterisolasian yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Jalan yang perlahan terbuka bukan sekadar hamparan aspal, melainkan jalur menuju kesempatan yang lebih luas bagi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan masa depan generasi Sipiongot.
Editor : Lugas Rumpakaadi