RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas UBS di Pegadaian kembali menunjukkan pergerakan positif pada perdagangan Selasa (23/6). Kenaikan terutama terjadi pada pecahan kecil yang menjadi favorit investor ritel, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aset safe haven di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Penguatan harga logam mulia produksi PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) tersebut menjadi sorotan pelaku pasar yang terus memantau instrumen investasi berbasis emas. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi pasar keuangan, emas masih dianggap sebagai salah satu pilihan utama untuk menjaga nilai aset.
Berdasarkan data terbaru dari Pegadaian, harga emas UBS ukuran 0,5 gram berada di kisaran Rp1.451.000. Sementara untuk ukuran 1 gram, harga tercatat Rp2.767.000.
Pergerakan harga tersebut terjadi seiring tren penguatan yang juga sempat dialami sejumlah produk logam mulia lainnya di pasar domestik.
Investor Ritel Kian Aktif
Kenaikan harga pada pecahan kecil menjadi sinyal meningkatnya aktivitas investor ritel. Ukuran 0,5 gram hingga 5 gram selama ini menjadi pilihan masyarakat karena lebih terjangkau dan mudah diperjualbelikan.
Di Pegadaian, emas UBS tersedia dalam berbagai ukuran mulai 0,5 gram hingga 500 gram. Variasi tersebut memberikan fleksibilitas bagi investor untuk menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan finansial mereka.
Minat terhadap emas juga meningkat karena instrumen ini dinilai lebih tahan terhadap gejolak ekonomi dibandingkan sejumlah aset berisiko tinggi.
Rupiah Tertekan, Harga Emas Ikut Bergerak
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga emas saat ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing utama dunia.
Berdasarkan Kurs Transaksi Bank Indonesia per 22 Juni 2026, dolar Amerika Serikat diperdagangkan pada level Rp17.915,13 untuk kurs jual dan Rp17.736,87 untuk kurs beli. Sementara euro berada di Rp20.507,45 dan pound sterling mencapai Rp23.640,81.
Tekanan terhadap rupiah membuat harga komoditas yang berkaitan dengan pasar global, termasuk emas, ikut mengalami penyesuaian.
Dalam kondisi seperti ini, emas biasanya menjadi instrumen yang dicari investor karena dianggap mampu melindungi nilai kekayaan dari risiko inflasi maupun pelemahan mata uang.
"Ketika rupiah melemah dan ketidakpastian global meningkat, permintaan emas cenderung naik karena investor mencari aset yang lebih aman," demikian pola yang umum terjadi di pasar komoditas.
Peluang dan Risiko Tetap Harus Diperhitungkan
Meski harga emas tengah menguat, investor tetap perlu memperhatikan mekanisme transaksi, terutama saat melakukan penjualan kembali atau buyback.
Nilai buyback tidak hanya ditentukan oleh harga pasar saat itu, tetapi juga dipengaruhi kondisi fisik emas yang dijual. Setiap transaksi biasanya melalui proses verifikasi dan penilaian sebelum harga akhir ditetapkan.
Karena itu, investor disarankan menyimpan sertifikat dan menjaga kondisi fisik emas agar nilai jual kembali tetap optimal.
Selain itu, pergerakan harga emas bersifat fluktuatif dan dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral, kondisi geopolitik, hingga dinamika nilai tukar mata uang.
Emas Masih Jadi Pilihan Safe Haven
Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, emas UBS tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diminati masyarakat.
Penguatan harga pada perdagangan hari ini menunjukkan bahwa logam mulia masih memiliki daya tarik kuat sebagai aset lindung nilai. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu kepemilikan, dan profil risiko sebelum mengambil keputusan.
Dengan kondisi pasar yang terus bergerak dinamis, pemantauan perkembangan harga emas dan indikator ekonomi makro menjadi langkah penting untuk memaksimalkan potensi keuntungan sekaligus meminimalkan risiko investasi. (*)
Editor : Ali Sodiqin