Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Cetak Inflasi Terendah se-Jatim, Kalahkan Gresik dan Kediri

Sigit Hariyadi • Jumat, 19 Juni 2026 | 05:50 WIB
Petugas Polsek Tegalsari melakukan patroli di salah satu toko perhiasan emas di Pasar Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, pada Februari lalu (23/2). Perhiasan menjadi salah satu penyumbang inflasi di Banyuwangi. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
Petugas Polsek Tegalsari melakukan patroli di salah satu toko perhiasan emas di Pasar Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, pada Februari lalu (23/2). Perhiasan menjadi salah satu penyumbang inflasi di Banyuwangi. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gejolak harga sejumlah kebutuhan pokok, Banyuwangi justru mampu menjaga stabilitas ekonominya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahun kalender atau year to date (y-t-d) Banyuwangi sejak Januari hingga Mei 2026 hanya sebesar 1 persen, menjadi yang terendah di antara seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai upaya pengendalian harga dan sinergi lintas sektor yang dilakukan di Bumi Blambangan mulai membuahkan hasil. Bahkan, inflasi Banyuwangi tercatat lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jawa Timur maupun nasional.

Data BPS menunjukkan, inflasi tahun kalender Jawa Timur hingga Mei mencapai 1,43 persen. Sementara secara nasional berada di angka 1,35 persen. Adapun Banyuwangi hanya mencatatkan inflasi 1 persen.

Dibandingkan 11 daerah IHK di Jawa Timur, Banyuwangi menempati posisi paling rendah. Di bawahnya terdapat Kabupaten Gresik dengan inflasi 1,06 persen dan Kota Kediri sebesar 1,15 persen.

Meski demikian, secara tahunan atau year on year (y-o-y), Banyuwangi tetap mengalami kenaikan harga sejumlah komoditas yang cukup signifikan. Pada Mei 2026, inflasi tahunan Banyuwangi tercatat sebesar 3,10 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,10.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada pada level 1,74 persen.

Secara bulanan atau month to month (m-t-m), Banyuwangi juga mengalami inflasi sebesar 0,18 persen pada Mei dibanding April. Sedangkan inflasi tahun kalender tetap terjaga pada level 1 persen.

Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam menjelaskan, kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat masih menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Banyuwangi.

Menurut dia, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kelompok ini mengalami kenaikan indeks sebesar 6,02 persen dan memberikan andil 1,93 persen terhadap inflasi tahunan.

"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar," ujarnya melalui Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 65/06/3510/Th. XII.

Sejumlah komoditas pangan tercatat mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Mulai cabai rawit, beras, daging ayam ras, cabai merah, minyak goreng, ikan lamuru, jeruk, hingga bawang merah.

Kenaikan harga komoditas tersebut berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga, mengingat sebagian besar merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Tak hanya sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi.

Abdus Salam menyebut, kelompok ini mengalami kenaikan indeks sebesar 5,72 persen dengan andil inflasi mencapai 0,53 persen.

"Selain sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami kenaikan cukup tinggi, sebesar 5,72 persen dengan andil inflasi mencapai 0,53 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan yang mendorong kelompok ini," katanya.

Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, Banyuwangi tetap mampu menjaga laju inflasi lebih rendah dibanding daerah lain di Jawa Timur. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi daerah sekaligus menunjukkan efektivitas langkah pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan.

Dengan inflasi yang terkendali, daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi Banyuwangi dapat terus tumbuh di tengah tantangan ekonomi yang masih dinamis. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#IHK Jatim #Inflasi Jatim #harga pangan #bps banyuwangi #inflasi Banyuwangi