Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Inflasi Banyuwangi Tembus 3,10 Persen, Harga Cabai hingga Emas Perhiasan Melonjak

M Ksatria Raya • Rabu, 17 Juni 2026 | 04:30 WIB
ILUSTRASI: Pedagang aneka bumbu masakan melayani pembeli di Pasar Banyuwangi beberapa hari lalu (7/6). (Sigit Hariyadi/Radar Banyuwangi)
ILUSTRASI: Pedagang aneka bumbu masakan melayani pembeli di Pasar Banyuwangi beberapa hari lalu (7/6). (Sigit Hariyadi/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Tekanan harga kebutuhan pokok dan komoditas perhiasan terus membayangi daya beli masyarakat Banyuwangi. Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-o-y) pada Mei 2026 mencapai 3,10 persen, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya berada di angka 1,74 persen.

Kenaikan inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Banyuwangi yang mencapai 112,10. Lonjakan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, beras, hingga daging ayam ras menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi selama setahun terakhir.

Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam menjelaskan, sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi daerah.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan indeks sebesar 6,02 persen dengan andil inflasi mencapai 1,93 persen,” ujarnya dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 65/06/3510/Th. XII.

Cabai Rawit dan Beras Jadi Penyumbang Terbesar

BPS mencatat sejumlah komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan sepanjang Mei 2026. Di antaranya cabai rawit, beras, daging ayam ras, cabai merah, minyak goreng, ikan lemuru, jeruk, hingga bawang merah.

Komoditas-komoditas tersebut menjadi penyumbang utama kenaikan biaya hidup masyarakat Banyuwangi dalam beberapa bulan terakhir.

Selain sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi cukup tinggi, yakni sebesar 5,72 persen dengan kontribusi inflasi mencapai 0,53 persen.

Menurut Abdus Salam, kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor utama yang mendorong kelompok tersebut mengalami lonjakan indeks.

“Naiknya harga emas perhiasan menjadi faktor dominan yang memengaruhi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” katanya.

Harga Makanan Jadi di Restoran Ikut Naik

Inflasi juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran. Kelompok ini mencatat kenaikan sebesar 2,61 persen.

Penyebabnya adalah meningkatnya harga berbagai menu makanan siap santap yang banyak dikonsumsi masyarakat, seperti nasi dengan lauk, rawon, soto, hingga bakso.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi pada bahan baku pangan, tetapi juga mulai merambah sektor kuliner dan jasa makanan.

Transportasi dan Teknologi Ikut Menyumbang Inflasi

Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 1,26 persen. Harga mobil, sepeda motor, dan tiket angkutan udara menjadi faktor pendorong utama.

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat inflasi sebesar 1,98 persen, dipicu oleh kenaikan harga laptop dan telepon seluler.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari kebutuhan pokok, tetapi juga dari sektor teknologi dan transportasi yang semakin dibutuhkan masyarakat.

Ada Dua Kelompok yang Mengalami Deflasi

Di tengah tren kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, BPS mencatat terdapat dua kelompok yang justru mengalami penurunan indeks harga.

Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi sebesar 0,35 persen, sedangkan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami deflasi tipis sebesar 0,02 persen.

Selain itu, beberapa komoditas juga menjadi penyumbang deflasi, seperti bawang putih, kelapa, susu bubuk, kangkung, tomat, kentang, serta tarif kendaraan roda dua daring.

Tren Inflasi Kembali Meningkat

Jika dibandingkan beberapa tahun terakhir, inflasi Banyuwangi pada Mei 2026 menunjukkan tren peningkatan yang cukup tajam.

Pada Mei 2024, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,83 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 1,74 persen pada Mei 2025 sebelum kembali melonjak menjadi 3,10 persen pada Mei 2026.

Secara bulanan (month to month), Banyuwangi juga mengalami inflasi sebesar 0,18 persen pada Mei 2026 dibanding April 2026. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) dari Desember 2025 hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1 persen.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan harga di Banyuwangi masih cukup kuat, terutama dari sektor pangan dan emas perhiasan yang hingga kini menjadi kontributor terbesar inflasi daerah. Masyarakat pun diharapkan tetap bijak mengelola konsumsi di tengah fluktuasi harga yang masih berlangsung. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#harga pangan #cabai rawit #emas perhiasan #bps banyuwangi #inflasi Banyuwangi