Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lebih dari Seabad Menghubungkan Ekonomi, Jalur Kereta Api Sumsel Catat 2,3 Juta Pelanggan dan 11,66 Juta Ton Angkutan Barang

Lugas Rumpakaadi • Senin, 15 Juni 2026 | 17:54 WIB
LRT Sumsel menambah perjalanan dan memperpanjang jam operasional. (JawaPos.com)
KAI Group melayani 2,31 juta penumpang dan mengangkut 11,66 juta ton logistik di Sumatera Selatan sepanjang 2026. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Peran transportasi kereta api dalam mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang di Sumatera Selatan terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group mencatat telah melayani 2.315.580 pelanggan serta mengangkut 11,66 juta ton komoditas logistik di wilayah tersebut.

Capaian itu menegaskan posisi kereta api sebagai salah satu tulang punggung konektivitas dan distribusi ekonomi di Sumatera bagian selatan. Selain melayani perjalanan masyarakat, moda berbasis rel juga berperan penting menjaga kelancaran arus barang dari sentra produksi menuju berbagai wilayah tujuan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penguatan layanan perkeretaapian sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkokoh konektivitas nasional melalui transportasi berbasis rel.

Menurut Anne, kereta api memiliki peran strategis dalam membuka akses masyarakat, memperlancar distribusi barang, sekaligus menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah.

“Layanan penumpang berbasis rel KAI Group di Sumatera Selatan melayani 2.315.580 pelanggan dan layanan barang Divre III Palembang mencapai 11,66 juta ton komoditas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/6/2026), dikutip Antara.

Di Sumatera Selatan, jaringan rel telah berkembang selama lebih dari satu abad. Jalur kereta menghubungkan berbagai wilayah penting seperti Palembang, Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Lubuklinggau hingga Lampung.

Anne menjelaskan, sejak awal keberadaannya, jalur kereta api di Sumatera Selatan memang dirancang sebagai penghubung antara pusat kota, kawasan pedalaman, wilayah produksi, dan pelabuhan. Fungsi tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini melalui layanan kereta penumpang, angkutan barang, maupun LRT Sumsel yang melayani akses menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sejarah perkeretaapian di wilayah tersebut dimulai pada 1914 pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Saat itu, pembangunan rel dilakukan oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) untuk menghubungkan Pelabuhan Panjang di Lampung dengan wilayah pedalaman Sumatera Selatan yang kaya sumber daya alam, termasuk batu bara.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1 November 1915 ketika jalur Kertapati–Prabumulih sepanjang 78 kilometer mulai beroperasi. Jalur itu kemudian menjadi bagian utama jaringan rel yang terus berkembang hingga menjangkau kawasan tambang dan sentra ekonomi lainnya.

Pengembangan rel berlanjut ke Gunung Megang pada 1916, kemudian diperpanjang ke Muara Enim dan Tanjung Enim. Pada periode berikutnya, jalur kereta juga terkoneksi hingga Lahat, Tebing Tinggi, Muara Saling, dan akhirnya mencapai Lubuklinggau pada 1933.

Pasca-kemerdekaan, pengelolaan jaringan rel beralih kepada bangsa Indonesia melalui Djawatan Kereta Api. Hingga kini, jalur tersebut tetap menjadi sarana vital yang menghubungkan berbagai daerah sekaligus menopang aktivitas ekonomi masyarakat.

Pada layanan penumpang, KAI mengoperasikan sejumlah perjalanan utama, di antaranya KA Sindang Marga relasi Kertapati–Lubuklinggau pulang-pergi, KA Bukit Serelo relasi Kertapati–Lubuklinggau pulang-pergi, serta KA Rajabasa relasi Kertapati–Tanjungkarang pulang-pergi.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, layanan kereta api penumpang Divre III Palembang melayani 500.563 pelanggan. Sementara itu, LRT Sumsel mencatat jumlah pengguna mencapai 1.815.017 pelanggan pada periode yang sama.

Kombinasi kedua layanan tersebut mendorong total pelanggan angkutan berbasis rel KAI Group di Sumatera Selatan mencapai 2.315.580 orang.

Di sektor logistik, kereta api juga memegang peranan penting dalam menjaga kelancaran distribusi komoditas strategis. Hingga Mei 2026, volume angkutan barang Divre III Palembang mencapai 11,66 juta ton yang didominasi batu bara, bahan bakar minyak (BBM), pulp, serta berbagai komoditas pendukung industri lainnya.

Besarnya volume angkutan tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan sektor industri terhadap moda transportasi rel. Dengan kapasitas angkut besar, jadwal yang terencana, dan konektivitas ke sentra produksi maupun pelabuhan, kereta api dinilai mampu meningkatkan efisiensi distribusi.

Efisiensi tersebut tidak hanya membantu pelaku usaha menjaga kelancaran pasokan, tetapi juga memperkuat daya saing industri serta berkontribusi terhadap stabilitas harga barang di masyarakat.

Anne menilai kekuatan perkeretaapian Sumatera Selatan terletak pada kombinasi sejarah panjang, jaringan yang terhubung dengan pusat kegiatan ekonomi, dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.

“Rel di Sumatera Selatan memiliki sejarah panjang sebagai penghubung masyarakat dan ekonomi daerah. Dengan kapasitas besar dan jaringan yang terhubung ke simpul produksi, kereta api membantu logistik lebih efisien, menjaga pasokan, serta mendukung harga yang lebih terkendali,” katanya.

Ke depan, KAI Group berkomitmen terus memperkuat layanan perkeretaapian di Sumatera Selatan sejalan dengan agenda pembangunan konektivitas nasional. Dengan jaringan yang menghubungkan pusat kota, kawasan industri, pelabuhan, hingga bandara, kereta api diyakini akan tetap menjadi elemen penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Transportasi Rel Indonesia #KAI Sumatera Selatan #Angkutan Logistik KAI #Kereta Api Palembang #LRT Sumsel