Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kereta Api Barang Jadi Andalan Tekan Biaya Distribusi, Potensi Efisiensi Ekonomi Capai Ratusan Triliun Rupiah

Lugas Rumpakaadi • Senin, 15 Juni 2026 | 17:39 WIB
KAI mengangkut 26,48 juta ton barang selama Januari-Mei 2026. (Antara)
KAI mengangkut 26,48 juta ton barang selama Januari-Mei 2026. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat peran angkutan barang berbasis rel sebagai salah satu tulang punggung efisiensi logistik nasional. Selain memiliki kapasitas angkut besar, kereta api barang dinilai mampu menghadirkan jadwal distribusi yang lebih terukur sekaligus menghubungkan berbagai pusat produksi, kawasan industri, pelabuhan, hingga pusat distribusi di berbagai wilayah.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, KAI mencatat volume angkutan barang mencapai 26.486.417 ton. Komoditas yang diangkut didominasi batu bara sebanyak 21.563.901 ton. Selain itu terdapat angkutan petikemas sebesar 2.428.471 ton, bahan bakar minyak (BBM) 1.096.998 ton, semen dan klinker 977.983 ton, hasil perkebunan 268.728 ton, retail 48.684 ton, serta berbagai komoditas lainnya sebanyak 101.652 ton.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kereta api barang memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran distribusi berbagai kebutuhan utama masyarakat maupun industri.

Menurut dia, layanan angkutan barang berbasis rel mampu mendukung distribusi energi, bahan baku industri, material pembangunan, hingga barang konsumsi dengan lebih efisien karena dapat mengangkut volume besar dalam satu perjalanan.

“Kereta api barang membantu membuat biaya distribusi lebih efisien karena mampu melayani volume besar dalam satu perjalanan. Bagi dunia usaha, biaya distribusi yang lebih terkendali dapat membantu menjaga harga barang. Bagi masyarakat, rantai pasok yang lancar dapat mendukung harga yang lebih stabil,” ujarnya, dikutip Antara.

Biaya logistik sendiri mencakup seluruh pengeluaran yang muncul dalam proses perpindahan barang dari lokasi produksi hingga sampai ke tangan konsumen. Komponen biaya tersebut meliputi pengiriman, penyimpanan, bongkar muat, serta berbagai proses distribusi lainnya.

Ketika biaya logistik meningkat, harga barang berpotensi ikut terdorong naik. Sebaliknya, penurunan biaya logistik memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga harga tetap kompetitif sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun. Dengan nilai ekonomi sebesar itu, setiap penurunan satu persen poin biaya logistik terhadap PDB setara dengan potensi efisiensi sekitar Rp238,2 triliun per tahun.

Perhitungan tersebut diperoleh dari simulasi sederhana dengan mengalikan selisih persentase biaya logistik terhadap nilai PDB nasional. Meski bersifat ilustratif, angka tersebut menunjukkan besarnya dampak efisiensi logistik terhadap perekonomian nasional.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, biaya logistik Indonesia tercatat sebesar 14,29 persen terhadap PDB sebagai baseline tahun 2022. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 13,52 persen dan selanjutnya mencapai 12,50 persen.

Jika menggunakan nilai PDB Indonesia tahun 2025 sebagai dasar simulasi, penurunan biaya logistik dari 14,29 persen menjadi 13,52 persen berpotensi menciptakan ruang efisiensi sekitar Rp183,4 triliun per tahun. Sementara itu, apabila biaya logistik berhasil ditekan hingga 12,50 persen terhadap PDB, potensi efisiensi ekonomi nasional dapat mencapai sekitar Rp426,4 triliun per tahun.

“Angka ini menunjukkan bahwa logistik bukan urusan industri saja. Ketika biaya distribusi turun, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pelaku usaha bisa lebih efisien, harga barang lebih terjaga, dan daya beli masyarakat dapat ikut terdorong,” kata Anne.

Secara global, efisiensi logistik menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan daya saing sebuah negara. Kajian Bank Dunia menunjukkan biaya logistik di kawasan Amerika Latin dan Karibia masih berada pada kisaran 16 hingga 26 persen terhadap PDB. Sementara kelompok negara maju berada di kisaran sekitar 9 persen PDB. Adapun India mencatat biaya logistik sebesar 7,97 persen PDB pada periode 2023–2024.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang bagi Indonesia untuk terus meningkatkan efisiensi distribusi barang. Penguatan angkutan kereta api barang, pembangunan terminal logistik, peningkatan fasilitas bongkar muat, modernisasi teknologi operasi, hingga integrasi layanan distribusi dari dan menuju stasiun barang menjadi bagian penting dalam upaya menekan biaya logistik nasional.

KAI pun terus mengoptimalkan layanan angkutan barang melalui penguatan pola operasi, peningkatan keandalan sarana dan prasarana, serta perluasan kerja sama dengan pelanggan korporasi dan mitra logistik. Langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan distribusi yang semakin terjadwal, stabil, dan efisien sehingga mendukung daya saing industri nasional.

“Investasi pada logistik berbasis rel adalah investasi untuk daya saing Indonesia. Semakin besar barang yang dapat dilayani melalui kereta api secara efisien, semakin besar peluang Indonesia menekan biaya logistik, memperkuat industri, dan menjaga daya beli masyarakat,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#logistik nasional #kereta api barang #Biaya Distribusi #ekonomi indonesia #KAI