Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fundamental Kuat, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak terhadap Pasar Modal

Ali Sodiqin • Jumat, 12 Juni 2026 | 08:57 WIB
BRI ungkap alasan investor masih percaya saham Bank BUMN meski IHSG lesu. (foto: BRI)
BRI ungkap alasan investor masih percaya saham Bank BUMN meski IHSG lesu. (foto: BRI)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada di zona negatif sepanjang tahun berjalan (year-to-date), perhatian terhadap saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali meningkat. Sejumlah pemangku kepentingan nasional mulai membahas langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor, termasuk wacana pembelian kembali atau buyback saham emiten BUMN.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta pada 9 Juni 2026. Pertemuan itu dihadiri Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, para pimpinan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah perusahaan BUMN.

Pertemuan tersebut digelar sebagai respons atas dinamika pasar modal yang masih menghadapi tekanan. Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah upaya menjaga kepercayaan investor terhadap emiten BUMN yang selama ini menjadi tulang punggung pasar saham nasional.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai keterlibatan berbagai pihak dalam pembahasan tersebut menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang perusahaan-perusahaan pelat merah, terutama sektor perbankan yang dinilai masih memiliki fundamental kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan nasional ditopang oleh kinerja industri yang tetap resilien di tengah dinamika ekonomi global. Industri perbankan masih mencatatkan pertumbuhan kredit yang positif, kualitas aset yang terjaga, serta kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat,” ujarnya.

Hery yang juga menjabat Ketua Umum Perbanas menjelaskan, kondisi industri perbankan nasional hingga saat ini masih menunjukkan performa yang sehat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan hingga April 2026 tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year on year), sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,40 persen.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa fungsi intermediasi perbankan masih berjalan efektif sekaligus mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tetap tinggi terhadap sektor keuangan nasional.

“Pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan masih terjaga dengan baik,” jelasnya.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap saham-saham BUMN, isu buyback juga menjadi salah satu opsi yang mulai diperbincangkan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga saham dan memperkuat sentimen pasar.

Meski demikian, Hery menegaskan bahwa setiap aksi korporasi harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai aspek bisnis serta mengikuti ketentuan regulator yang berlaku.

Menurut dia, fokus utama BRI saat ini tetap pada penguatan fundamental perusahaan melalui pengelolaan kualitas aset, penguatan likuiditas, serta peningkatan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

“Terkait wacana buyback, setiap aksi korporasi tentu akan dikaji secara cermat dan dilaksanakan sesuai ketentuan regulator yang berlaku. Saat ini fokus utama kami tetap pada penguatan fundamental perusahaan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.

Penguatan kepercayaan investor terhadap saham BUMN dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar modal nasional. Di tengah tekanan global dan volatilitas pasar, emiten perbankan BUMN masih dianggap memiliki daya tahan yang kuat berkat dukungan fundamental bisnis yang sehat, permodalan yang memadai, serta kemampuan menjaga pertumbuhan kinerja secara berkelanjutan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#saham BUMN #IHSG 2026 #buyback saham #bri #Pasar Modal