RADARBANYUWANGI.ID – Meningkatnya aktivitas industri, perdagangan, dan konsumsi masyarakat tercermin dari semakin tingginya pergerakan barang di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu indikatornya terlihat dari layanan angkutan peti kemas PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang tumbuh hampir 20 persen dalam lima bulan pertama tahun ini.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, KAI melayani angkutan peti kemas sebanyak 2.428.471 ton. Angka tersebut meningkat 393.720 ton atau 19,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.034.751 ton.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan transportasi berbasis rel dalam mendukung rantai pasok nasional, mulai dari kawasan industri, pusat distribusi, hingga pelabuhan ekspor.
Angkutan Peti Kemas Tembus 2,4 Juta Ton
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kenaikan volume angkutan peti kemas mencerminkan meningkatnya kebutuhan distribusi barang yang mengikuti perkembangan sektor industri, perdagangan, dan konsumsi masyarakat.
“Pertumbuhan angkutan peti kemas menunjukkan meningkatnya aktivitas distribusi barang di berbagai sektor. Kereta api hadir untuk memastikan arus logistik berlangsung secara terjadwal, efisien, dan mampu mendukung kebutuhan dunia usaha maupun masyarakat,” ujarnya, dikutip Antara.
Menurut Anne, layanan logistik berbasis rel menjadi salah satu solusi untuk mendukung distribusi barang yang lebih efisien dan andal, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pengiriman barang antardaerah.
Pertumbuhan Hampir Empat Kali Laju Ekonomi Nasional
Kinerja angkutan peti kemas KAI juga menarik jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen. Sementara itu, volume angkutan peti kemas KAI pada lima bulan pertama 2026 meningkat 19,35 persen.
Artinya, laju pertumbuhan layanan peti kemas KAI hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi ini menjadi indikasi meningkatnya aktivitas produksi, perdagangan, distribusi, serta kebutuhan logistik yang semakin mengandalkan transportasi kereta api.
Bagi pelaku usaha, peningkatan aktivitas logistik biasanya mencerminkan tingginya pergerakan bahan baku, barang setengah jadi, hingga produk akhir yang didistribusikan ke pasar domestik maupun ekspor.
Logistik Masih Menjadi Tantangan Nasional
Di tengah pertumbuhan tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menekan biaya logistik. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas, biaya logistik nasional masih berada pada kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat ditekan hingga 8 persen terhadap PDB pada 2045. Karena itu, peningkatan efisiensi distribusi menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Moda transportasi berbasis rel dinilai memiliki keunggulan dalam mengangkut barang dalam jumlah besar secara terjadwal dan efisien, sehingga dapat membantu menekan biaya distribusi dalam jangka panjang.
Dampak bagi Dunia Usaha dan Masyarakat
Peningkatan volume peti kemas tidak hanya mencerminkan perpindahan barang dari satu tempat ke tempat lain. Setiap peti kemas yang bergerak membawa bahan baku industri, produk manufaktur menuju pasar, komoditas ekspor ke pelabuhan, hingga berbagai kebutuhan masyarakat yang harus tersedia tepat waktu.
Kelancaran distribusi tersebut berkontribusi terhadap ketersediaan pasokan barang, menjaga stabilitas rantai pasok, serta mendukung produktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Bagi masyarakat, sistem logistik yang lebih efisien berpotensi membantu menjaga kelancaran distribusi kebutuhan pokok dan berbagai produk konsumsi. Sementara bagi dunia usaha, distribusi yang lebih cepat dan terukur dapat meningkatkan efisiensi operasional.
Dukung Konektivitas Kawasan Industri dan Pelabuhan
Secara global, peti kemas memegang peran strategis dalam perdagangan internasional. Data World Bank menunjukkan lebih dari 80 persen perdagangan dunia diangkut melalui jalur laut. Selain itu, sekitar 35 persen volume perdagangan global dan lebih dari 60 persen nilai perdagangan dunia ditransportasikan menggunakan peti kemas.
Di Indonesia, pertumbuhan angkutan peti kemas berbasis rel turut memperkuat konektivitas antara kawasan industri, pusat logistik, dan pelabuhan yang menjadi simpul utama aktivitas ekonomi.
Bagi wilayah Jawa Timur, termasuk Banyuwangi dan kawasan tapal kuda, peningkatan efisiensi logistik nasional berpotensi mendukung distribusi hasil pertanian, perikanan, manufaktur, hingga komoditas ekspor menuju berbagai pasar di dalam maupun luar negeri.
“Logistik yang kuat akan memperkuat ekonomi. Karena itu KAI terus mengembangkan layanan peti kemas agar mampu mendukung konektivitas kawasan industri, pusat distribusi, dan pelabuhan yang menjadi simpul penting pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Anne.
Di tengah target pemerintah menekan biaya logistik nasional hingga 8 persen terhadap PDB pada 2045, pertumbuhan angkutan peti kemas berbasis rel menjadi sinyal positif bahwa transformasi sistem distribusi nasional terus bergerak menuju layanan yang lebih efisien, terintegrasi, dan berdaya saing.
Editor : Lugas Rumpakaadi