Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pabrik INKA Banyuwangi Disiapkan Jadi Basis Produksi KRL dan MRT, Didukung Suntikan PMN Rp473 Miliar

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 9 Juni 2026 | 10:07 WIB
INKA mengalokasikan PMN Rp473 miliar untuk mengembangkan propulsi kereta lokal, meningkatkan kapasitas bogie, dan memperkuat pabrik Banyuwangi. (Antara)
INKA mengalokasikan PMN Rp473 miliar untuk mengembangkan propulsi kereta lokal, meningkatkan kapasitas bogie, dan memperkuat pabrik Banyuwangi. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – Peran pabrik PT Industri Kereta Api (INKA) di Banyuwangi kian strategis. Melalui dukungan Penyertaan Modal Negara (PMN) Tahun 2025 senilai Rp473 miliar, perusahaan pelat merah itu menyiapkan fasilitas produksi di Banyuwangi sebagai salah satu basis pengembangan kereta berpenggerak modern untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional maupun ekspor.

Investasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri melalui pengembangan sistem propulsi kereta yang selama ini masih bergantung pada impor.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang INKA dalam membangun kemandirian industri perkeretaapian nasional sekaligus meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada berbagai produk kereta api.

Fokus Kembangkan Propulsi Lokal

Direktur Utama Eko Purwanto mengatakan pengembangan sistem propulsi menjadi salah satu prioritas utama penggunaan PMN 2025.

Propulsi merupakan sistem penggerak utama yang menentukan performa kereta. Selama ini, komponen tersebut masih banyak dipenuhi dari luar negeri sehingga menjadi salah satu fokus pengembangan teknologi di lingkungan INKA.

"Propulsi ini untuk penggerak, sehingga propulsi bisa kita produksi di INKA sendiri yang selama ini kita lakukan impor," ujar Eko dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, dikutip Antara.

Menurutnya, pengembangan propulsi akan ditopang oleh penguatan desain dan rekayasa (engineering) serta peningkatan aktivitas riset dan pengembangan (research and development/R&D). Dengan kemampuan tersebut, INKA diharapkan mampu menghasilkan teknologi penggerak kereta yang lebih mandiri dan kompetitif.

Kapasitas Produksi Bogie Naik Hampir Dua Kali Lipat

Selain propulsi, PMN juga dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas produksi bogie, yakni komponen rangka bawah kereta yang menopang roda dan sistem suspensi.

Saat ini kapasitas produksi bogie INKA mencapai 300 carset per tahun. Setelah fasilitas baru beroperasi, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 586 carset per tahun.

Artinya, kapasitas produksi akan bertambah sekitar 95 persen dibandingkan kondisi saat ini. Peningkatan tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kebutuhan proyek kereta api yang terus berkembang.

Untuk mencapai target itu, perusahaan akan menambah fasilitas bogie frame dan membangun jalur robotic welding khusus bogie guna meningkatkan efisiensi serta kualitas hasil produksi.

Pabrik Banyuwangi Jadi Basis Kereta Berpenggerak

Bagi Banyuwangi, pengembangan yang dilakukan INKA membawa arti penting. Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 83,49 hektare tersebut diproyeksikan menjadi pusat produksi berbagai jenis kereta berpenggerak modern.

Di lokasi ini, INKA akan memproduksi kereta rel listrik (KRL), light rail transit (LRT), mass rapid transit (MRT), serta kereta rel diesel elektrik (KRDE).

Saat ini pabrik Banyuwangi baru mengoperasikan satu lini produksi dengan kapasitas sekitar 125 unit KRL per tahun. Penguatan fasilitas melalui PMN diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan fleksibilitas produksi untuk berbagai jenis kereta masa depan.

Keberadaan fasilitas tersebut semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu kawasan strategis industri manufaktur nasional. Selain mendukung pengembangan industri perkeretaapian, ekspansi fasilitas juga berpotensi mendorong aktivitas ekonomi daerah melalui rantai pasok industri dan kebutuhan tenaga kerja pendukung.

Pabrik Madiun Ikut Dimodernisasi

Tidak hanya Banyuwangi, PMN juga digunakan untuk memperbarui fasilitas produksi di pabrik Madiun.

Modernisasi mencakup pembaruan mesin surface treatment, mesin milling, mesin press, serta berbagai peralatan manufaktur lainnya guna meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi.

Saat ini pabrik Madiun memiliki kapasitas produksi sekitar 800 gerbong barang per tahun, 336 unit kereta penumpang per tahun, dan 15 lokomotif per tahun.

Penguatan fasilitas di dua lokasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk INKA di tengah kebutuhan transportasi massal yang terus berkembang.

Realisasi PMN dan Target Penyelesaian

Dari total PMN 2025 sebesar Rp473 miliar, sebanyak Rp440 miliar dialokasikan untuk pengembangan fasilitas dan peningkatan kapasitas produksi. Sementara Rp33 miliar lainnya digunakan untuk fasilitas pendukung, seperti gedung pemeliharaan, transverser, serta digitalisasi operasional perusahaan.

Hingga Mei 2026, realisasi penggunaan PMN telah mencapai sekitar Rp62,5 miliar atau 13 persen dari total anggaran. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 35 persen pada Juni 2026.

INKA menargetkan proses pengadaan dapat diselesaikan pada triwulan III 2026. Selanjutnya, pengerjaan proyek dilakukan secara bertahap hingga triwulan III 2027.

Dengan pengembangan propulsi lokal, peningkatan kapasitas bogie, dan penguatan fasilitas produksi di Banyuwangi, INKA tengah menyiapkan fondasi baru bagi industri perkeretaapian nasional. Di sisi lain, Banyuwangi berpeluang semakin dikenal sebagai salah satu pusat produksi kereta modern Indonesia yang mendukung kebutuhan transportasi masa depan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#PMN 2025 #KRL MRT LRT #Propulsi Kereta Lokal #INKA Banyuwangi #industri Kereta Api