RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gencarnya pengembangan sapi hasil persilangan yang dinilai memiliki ukuran tubuh lebih besar dan nilai ekonomi lebih tinggi, keberadaan Sapi Peranakan Ongole (PO) atau yang lebih dikenal sebagai Sapi Jawa menghadapi ancaman serius.
Populasi sapi lokal yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung peternakan rakyat itu dilaporkan terus tergerus dan berisiko kehilangan eksistensinya apabila tidak segera dilakukan langkah penyelamatan.
Padahal, di balik ukuran tubuhnya yang tidak sebesar sapi-sapi hasil persilangan, Sapi PO memiliki keunggulan yang sulit ditandingi. Hewan ternak asli Indonesia tersebut dikenal sangat adaptif terhadap lingkungan tropis, tahan terhadap berbagai kondisi cuaca, serta memiliki tingkat reproduksi yang baik.
Kondisi itu mendorong Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah nyata melalui program penyelamatan plasma nutfah Sapi Peranakan Ongole berbasis teknologi reproduksi, nutrifikasi, dan digitalisasi peternakan modern.
Program tersebut dilaksanakan di Dusun Bolu, Kalurahan Margokaton, Kecamatan Seyegan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan menggandeng kelompok ternak Mergo Andhini Makmur sebagai mitra utama.
Sapi Jawa Punya Keunggulan yang Sulit Ditiru Sapi Silangan
Guru Besar Departemen Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM, Prof. Agung Budiyanto, menjelaskan bahwa Sapi Peranakan Ongole merupakan salah satu aset genetik penting yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, sapi berwarna putih yang banyak ditemukan di Pulau Jawa tersebut memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik terhadap kondisi lingkungan lokal.
Selain itu, tingkat kesuburannya juga tergolong tinggi dibandingkan sejumlah jenis sapi lainnya.
"Nah di Indonesia itu asli Indonesia, terutama Jawa. Sapi putih ini sangat adaptif, gampang bunting. Cuma kelemahannya sapinya ukurannya kecil," ujar Prof. Agung.
Karakteristik tersebut menjadikan Sapi PO sebagai salah satu plasma nutfah strategis yang perlu dijaga keberlangsungannya untuk mendukung sektor peternakan nasional.
Ancaman Datang dari Masifnya Sapi Persilangan
Dalam beberapa tahun terakhir, tren pengembangan sapi persilangan terus meningkat di berbagai daerah.
Peternak banyak beralih ke sapi cross breeding karena memiliki ukuran tubuh lebih besar dan dianggap memberikan keuntungan ekonomi lebih tinggi dalam waktu relatif singkat.
Namun di sisi lain, fenomena tersebut secara perlahan menyebabkan populasi Sapi PO semakin terpinggirkan.
Apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa upaya konservasi yang serius, Indonesia berpotensi kehilangan salah satu sumber daya genetik ternak lokal yang telah beradaptasi selama puluhan tahun dengan lingkungan tropis nusantara.
Karena itu, program yang dijalankan UGM tidak hanya berorientasi pada peningkatan populasi, tetapi juga menjaga keberlanjutan plasma nutfah nasional.
UGM Terapkan Teknologi Reproduksi Modern untuk Perbanyak Populasi
Sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset aplikatif, FKH UGM menerapkan berbagai teknologi reproduksi modern guna meningkatkan populasi Sapi PO.
Beberapa teknologi yang diterapkan meliputi:
-
Sinkronisasi estrus atau pengaturan siklus birahi
-
Inseminasi buatan
-
Transfer embrio
-
Manajemen reproduksi berbasis teknologi
-
Monitoring kesehatan reproduksi ternak
Menurut Prof. Agung, pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan populasi sapi lokal tanpa menghilangkan kemurnian genetik yang dimiliki.
"Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada peningkatan populasi sapi PO, tetapi juga pada peningkatan kapasitas peternak dalam mengelola reproduksi, kesehatan, dan nutrisi ternak secara lebih modern dan efisien," katanya.
Mendukung Swasembada Daging Nasional
Program penyelamatan Sapi PO juga diarahkan untuk mendukung agenda besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada daging nasional.
Dengan meningkatkan produktivitas sapi lokal, ketergantungan terhadap impor sapi maupun daging diharapkan dapat dikurangi secara bertahap.
Selain itu, program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan kedua yaitu menghapus kelaparan atau Zero Hunger.
Peningkatan produktivitas ternak lokal dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan.
Smart Farm dan Digitalisasi Masuk Kandang Sapi
Salah satu inovasi menarik dalam program ini adalah penerapan sistem digitalisasi peternakan berbasis QR Code.
Melalui teknologi tersebut, setiap sapi memiliki identitas digital yang memuat berbagai informasi penting terkait kesehatan dan reproduksi.
Peternak dapat melakukan pencatatan secara lebih terstruktur dan akurat dibandingkan metode konvensional.
Data yang terdokumentasi meliputi:
-
Riwayat kesehatan
-
Status reproduksi
-
Jadwal vaksinasi
-
Riwayat pengobatan
-
Perkembangan produktivitas ternak
Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat dalam pengelolaan peternakan.
Konsep smart farm tersebut menjadi salah satu langkah transformasi peternakan rakyat menuju sistem yang lebih modern dan berbasis data.
Peternak Dilatih Produksi Pakan Berkualitas
Selain fokus pada reproduksi, tim FKH UGM juga memberikan pelatihan mengenai penyediaan pakan berkualitas.
Peternak diajarkan cara membuat complete feed berbasis hijauan dan bahan pakan lokal menggunakan metode silase.
Teknologi silase memungkinkan peternak menyimpan cadangan pakan dalam jangka waktu panjang dengan kualitas nutrisi yang tetap terjaga.
Pendekatan ini juga membantu pemanfaatan limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Dengan kualitas pakan yang lebih baik, produktivitas dan kesehatan ternak diharapkan meningkat secara signifikan.
Skrining Penyakit dan Pengobatan Terintegrasi
Program ini juga mencakup pemeriksaan kesehatan ternak secara menyeluruh.
Tim pengabdian melakukan skrining penyakit melalui pemeriksaan darah lengkap dan analisis sampel feses.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar pelaksanaan pengobatan terintegrasi yang mencakup:
-
Pemberian vitamin
-
Obat cacing
-
Suplemen kesehatan
-
Antimikroba herbal
-
Terapi pendukung kesehatan ternak
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan sapi tetap optimal sehingga mendukung keberhasilan program reproduksi.
Gandeng Jepang dan Malaysia
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKH UGM, Prof. Aris Haryanto, menjelaskan bahwa program tahun ini memiliki karakteristik berbeda karena melibatkan kolaborator internasional.
Sejumlah perguruan tinggi luar negeri yang terlibat antara lain:
-
Yamaguchi University
-
Universiti Malaysia Sabah
-
Universiti Putra Malaysia
Kolaborasi tersebut menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada peternak sekaligus memperkuat kerja sama akademik internasional.
"Tahun ini agak lebih khas karena kami melibatkan mitra dari Jepang dan Malaysia. Bersama-sama kami turun langsung ke kelompok ternak untuk mendukung pengembangan peternakan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Aris.
Menjadi Laboratorium Lapangan bagi Mahasiswa
Selain memberi manfaat bagi peternak, program ini juga menjadi wahana pembelajaran bagi mahasiswa.
Mahasiswa jenjang sarjana hingga doktoral dilibatkan secara langsung dalam berbagai aktivitas lapangan.
Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa dapat memahami persoalan nyata yang dihadapi peternak sekaligus mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
UGM berharap pendekatan kolaboratif antara kampus, peternak, pemerintah, dan mitra internasional dapat menjadi model pengembangan peternakan berkelanjutan sekaligus menjaga keberadaan Sapi Peranakan Ongole sebagai salah satu warisan genetik ternak asli Indonesia.
Di tengah derasnya arus modernisasi peternakan dan dominasi sapi persilangan, upaya penyelamatan Sapi Jawa kini tidak hanya menjadi urusan peternak, tetapi juga bagian penting dari menjaga kedaulatan pangan dan kekayaan plasma nutfah bangsa. (*)
Editor : Ali Sodiqin