Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kurs Dolar Hari Ini Menguat di Atas Rp18.000, Pelaku Usaha dan Masyarakat Diminta Waspada

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:30 WIB
Dolar AS kembali menembus level Rp18.000 dan menekan nilai tukar rupiah. (Pexels/DΛVΞ GΛRCIΛ)
Dolar AS kembali menembus level Rp18.000 dan menekan nilai tukar rupiah. (Pexels/DΛVΞ GΛRCIΛ)

RADARBANYUWANGI.ID – Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami pelemahan.

Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (4/6/2026), kurs dolar AS bergerak di atas level Rp18.000. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan internasional, investasi, hingga daya beli masyarakat.

Data Investing mencatat dolar AS menguat sekitar 49,4 basis poin atau 0,28 persen ke posisi Rp18.015. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang AS tersebut bergerak dalam rentang Rp17.937 hingga Rp18.024 per dolar.

Sementara itu, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp18.010 pada pukul 23.23 UTC atau sekitar 06.23 WIB. Beberapa saat kemudian, kurs mengalami koreksi tipis dan bergerak ke posisi Rp17.971 pada pukul 00.15 UTC atau sekitar 07.15 WIB.

Adapun data Bloomberg mencatat penguatan dolar AS terhadap rupiah mencapai 0,71 persen secara harian. Posisi terakhir yang tercatat berada di level Rp17.966 per dolar AS.

Meski terdapat perbedaan angka antarplatform penyedia data, tren umum yang terlihat masih menunjukkan penguatan dolar AS terhadap rupiah. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berlangsung.

Sejumlah faktor global dan domestik dinilai menjadi penyebab pelemahan rupiah. Secara umum, dolar AS cenderung menguat ketika investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau saat perekonomian Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan negara berkembang.

Situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan yang lebih besar. Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya impor sehingga memengaruhi harga barang dan bahan baku yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Level Rp18.000 sendiri dianggap sebagai salah satu batas psikologis penting dalam pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS. Ketika level tersebut ditembus, perhatian pelaku pasar biasanya meningkat karena dapat memengaruhi sentimen dan ekspektasi ekonomi ke depan.

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan terus memantau perkembangan pasar keuangan global maupun domestik. Bank sentral juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan yang tersedia.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan pihaknya akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional.

“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026), dikutip Detik.com.

Menurut Denny, Bank Indonesia akan terus mengambil langkah yang diperlukan agar volatilitas nilai tukar tetap terkendali dan aktivitas pasar keuangan domestik berjalan secara sehat. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#rupiah melemah #dolar AS hari ini #kurs rupiah terbaru #ekonomi Indonesia 2026 #Bank Indonesia