Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belajar dari Jepang dan Rusia, KAI Optimistis Integrasi dengan INKA Tingkatkan Daya Saing

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:16 WIB
KAI menargetkan akuisisi INKA rampung pada November 2026. (Pexels/Rai Achmadipura)
KAI menargetkan akuisisi INKA rampung pada November 2026. (Pexels/Rai Achmadipura)

RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan proses akuisisi PT Industri Kereta Api (INKA) dapat dituntaskan pada November 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda integrasi kedua perusahaan yang mendapat dukungan dari Danantara untuk memperkuat industri perkeretaapian nasional.

Mengutip Antara, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan penandatanganan akuisisi diharapkan dapat terealisasi sesuai roadmap yang telah disusun bersama.

Dengan target tersebut, berbagai program strategis hasil integrasi diproyeksikan mulai dijalankan pada 2027. Di antaranya penjajakan kerja sama dengan mitra teknologi global serta persiapan pengembangan bisnis maintenance, repair, and overhaul (MRO).

Menurut Gede, Danantara telah memberikan mandat kepada KAI dan INKA pada 18 Mei 2026 untuk melaksanakan proses uji tuntas (due diligence) dan kajian komprehensif terkait rencana integrasi. Kajian itu mencakup aspek operasional, bisnis, hingga penguatan fundamental perusahaan.

Integrasi dinilai penting untuk menjamin kepastian pasokan sarana perkeretaapian, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat sinergi jangka panjang, serta mendukung pemulihan kinerja bisnis INKA.

KAI juga telah memetakan kebutuhan sarana dalam lima tahun mendatang. Kebutuhan tersebut meliputi sekitar 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 kereta penumpang, serta 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk kawasan Jabodetabek.

Selain memenuhi kebutuhan armada, integrasi dilakukan sebagai respons terhadap sejumlah tantangan dalam pengadaan sarana perkeretaapian. Ketepatan waktu pengiriman dan kualitas produk menjadi aspek yang ingin diperkuat melalui kolaborasi yang lebih erat antara operator dan manufaktur.

Melalui integrasi tersebut, KAI dan INKA diharapkan dapat menyusun peta jalan pengadaan sarana jangka panjang. Dengan demikian, perencanaan riset, pengembangan, hingga proses manufaktur dapat dilakukan secara lebih terukur sejak tahap awal.

Kepastian order jangka panjang juga diyakini mampu memperkuat investasi manufaktur dan rantai pasok yang dimiliki INKA. KAI memperkirakan nilai pesanan yang dapat diamankan untuk INKA dalam lima tahun ke depan mencapai sekitar Rp18,9 triliun.

Di sisi lain, bisnis MRO diproyeksikan menjadi sumber pendapatan berulang yang signifikan. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun atau sekitar Rp15 triliun dalam periode lima tahun.

KAI menargetkan pada 2029 INKA dapat berkembang menjadi perusahaan manufaktur kereta api yang lebih sehat secara finansial dengan dukungan bisnis MRO yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam menyusun skema integrasi, KAI melakukan benchmarking terhadap sejumlah negara yang telah menerapkan model serupa. Salah satunya adalah Rusia, di mana operator nasional kereta api mengakuisisi perusahaan manufaktur untuk menyelaraskan pengembangan produk dan arah riset.

Model serupa juga diterapkan di Jepang melalui integrasi operator kereta dengan perusahaan manufaktur. Pendekatan tersebut memungkinkan pengendalian desain sarana sejak tahap awal sekaligus mendukung penerapan konsep design for maintenance yang lebih efisien.

Pengalaman kedua negara tersebut menunjukkan bahwa integrasi operator dan manufaktur dapat menghasilkan efisiensi biaya pengadaan, kepastian perencanaan jangka panjang, serta arah penelitian dan pengembangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

KAI juga menyoroti keberhasilan industri perkeretaapian China dalam membangun kapasitas manufaktur nasional. Ke depan, integrasi KAI dan INKA diharapkan dapat mendorong lahirnya kemitraan strategis dengan prinsipal global yang tidak hanya berfokus pada pengadaan sarana, tetapi juga pada transfer teknologi, transfer fasilitas, serta penguatan kemampuan industri dalam negeri.

Dengan dukungan tersebut, integrasi KAI dan INKA diharapkan menjadi fondasi baru bagi pengembangan ekosistem perkeretaapian nasional yang lebih mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Akuisisi INKA #Industri Perkeretaapian #inka #KAI #Danantara