Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Volume Angkutan Barang Retail Lewat Kereta Api Naik pada 2026, Distribusi Efisien Didorong Perkuat Daya Saing Ekonomi Nasional

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:07 WIB
Volume angkutan retail KAI mencapai 101.652 ton hingga Mei 2026. (Antara)
Volume angkutan retail KAI mencapai 101.652 ton hingga Mei 2026. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Efisiensi distribusi menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi harga barang di tingkat konsumen. Selain biaya produksi, komponen logistik masih memiliki kontribusi besar dalam pembentukan harga berbagai produk yang beredar di pasar.

Di tengah kebutuhan distribusi yang semakin tinggi, angkutan barang berbasis kereta api terus menunjukkan peran strategis dalam mendukung kelancaran rantai pasok nasional. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat volume angkutan retail selama periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 101.652 ton.

Jumlah tersebut meningkat 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 98.453 ton. Jika dibandingkan dengan capaian Januari–Mei 2024 sebesar 84.391 ton, volume angkutan retail KAI tumbuh 20,45 persen dalam dua tahun terakhir.

Peningkatan tersebut mencerminkan semakin tingginya kebutuhan pelaku usaha terhadap moda transportasi yang mampu menyediakan kapasitas angkut besar, jadwal perjalanan yang terukur, serta efisiensi operasional. Beragam komoditas didistribusikan melalui layanan retail KAI setiap hari, mulai dari kebutuhan konsumsi masyarakat, produk manufaktur, barang perdagangan, hingga bahan baku industri.

Vice President Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, mengatakan bahwa pertumbuhan volume angkutan barang menjadi indikator bergeraknya aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Menurut dia, setiap pengiriman barang berperan menghubungkan sentra produksi dengan pasar, pelaku usaha dengan pelanggan, serta mendukung berbagai aktivitas ekonomi yang berlangsung di berbagai wilayah.

“Ketika distribusi berjalan lancar, industri dapat menjaga produktivitasnya, pelaku usaha dapat mengelola persediaan secara lebih efisien, dan masyarakat memperoleh akses terhadap barang yang lebih terjamin. Karena itu, efisiensi logistik memiliki dampak yang sangat luas terhadap perekonomian,” ujarnya, dikutip Antara.

Anne menjelaskan, efisiensi logistik juga menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Saat ini, biaya logistik nasional masih berada pada kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan perhitungan yang digunakan pemerintah melalui Bappenas, BPS, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Pemerintah menargetkan porsi tersebut dapat ditekan menjadi 12 persen pada 2029 sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.

Besarnya biaya logistik tersebut menunjukkan bahwa sektor distribusi masih menjadi salah satu komponen penting dalam struktur biaya ekonomi nasional. Sejumlah kajian juga memperkirakan biaya logistik menyumbang sekitar 14 persen dari harga barang yang beredar di pasar domestik.

Dengan kata lain, dari setiap Rp100 yang dibayarkan masyarakat untuk membeli suatu produk, sekitar Rp14 di antaranya berkaitan dengan proses distribusi dan logistik.

“Semakin efisien proses distribusi yang digunakan, semakin besar peluang pelaku usaha mengendalikan biaya operasionalnya. Dampaknya akan terlihat pada kelancaran pasokan, biaya usaha yang lebih kompetitif, serta kemampuan industri menghadirkan produk dengan harga yang lebih terjangkau,” lanjut Anne.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan pusat-pusat ekonomi yang tersebar di berbagai wilayah. Tingginya biaya logistik dapat memengaruhi daya saing produk nasional, memperlebar disparitas harga antarwilayah, hingga mengurangi efisiensi rantai pasok.

Sebaliknya, sistem distribusi yang semakin efisien akan memperkuat konektivitas ekonomi serta mempercepat pergerakan barang dari sentra produksi menuju pusat konsumsi.

Dalam konteks tersebut, kereta api dinilai memiliki sejumlah keunggulan karena mampu mengangkut barang dalam volume besar secara terjadwal dan berkelanjutan. Karakteristik itu memberikan kepastian distribusi bagi pelaku usaha sekaligus membantu mengurangi beban angkutan di jalan raya.

Di Pulau Jawa, yang menjadi pusat aktivitas industri dan perdagangan nasional, kebutuhan terhadap sistem logistik yang efisien terus meningkat. Berbagai kajian memperkirakan sekitar 60 persen aktivitas logistik nasional berada di wilayah ini.

Dengan nilai ekonomi logistik yang diperkirakan mencapai Rp2.400 triliun hingga Rp2.500 triliun per tahun, peningkatan efisiensi distribusi dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya usaha, kelancaran perdagangan, serta daya saing industri nasional.

“Logistik merupakan salah satu bagian penting pertumbuhan ekonomi. Ketika bahan baku tiba tepat waktu, proses produksi dapat berjalan lancar. Ketika barang bergerak lebih cepat dan lebih efisien, pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan daya saingnya,” kata Anne.

Ke depan, KAI menyatakan akan terus memperkuat layanan logistik melalui peningkatan kapasitas angkut, pengembangan jaringan distribusi, serta integrasi dengan berbagai simpul logistik strategis. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya rantai pasok yang semakin efisien seiring pertumbuhan kebutuhan ekonomi nasional.

“Kami ingin memastikan pertumbuhan angkutan retail berjalan seiring dengan peningkatan efisiensi logistik nasional, sehingga distribusi semakin lancar, biaya usaha semakin kompetitif, dan daya saing ekonomi Indonesia terus meningkat,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#logistik nasional #distribusi barang #Angkutan Barang Kereta Api #ekonomi indonesia #KAI