Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Kedelai Impor Meroket, Perajin Tempe dan Tahu Banyuwangi Terancam Gulung Tikar: Bertahan atau Menyerah

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 3 Juni 2026 | 10:00 WIB
MASIH BERTAHAN: Salah satu perajin tempe di Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
MASIH BERTAHAN: Salah satu perajin tempe di Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kenaikan harga kedelai impor kembali menjadi mimpi buruk bagi ribuan perajin tahu dan tempe di Banyuwangi. Biaya produksi yang terus membengkak membuat para pelaku usaha kecil ini berada dalam tekanan berat. Bahkan, sebagian mulai mempertimbangkan menutup usaha yang telah mereka jalankan selama puluhan tahun karena keuntungan yang semakin menipis.

Di balik tempe dan tahu yang setiap hari tersaji di meja makan masyarakat, tersimpan kegelisahan para perajin yang kini harus berjibaku menghadapi lonjakan harga bahan baku. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: memperkecil ukuran produk, mengurangi produksi, atau menyerah dan menghentikan usaha.

Kondisi itu dirasakan langsung oleh Samiatun, 74, perajin tempe asal Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Usaha yang dirintis bersama suaminya, Romlan, 80, sejak tahun 1962 kini berada di titik yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Setelah lebih dari enam dekade bertahan menghadapi berbagai tantangan ekonomi, lonjakan harga kedelai saat ini menjadi salah satu ujian terberat yang pernah mereka hadapi.

“Usia saya sudah tua, selain karena harga bahan bakunya mahal, ya karena sudah capek,” ujar Samiatun saat ditemui Jawa Pos Radar Genteng.

Perempuan yang puluhan tahun menggantungkan hidup dari usaha tempe itu mengaku mulai diliputi kebimbangan untuk melanjutkan produksi. Beban modal yang semakin besar tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

“Kalau kondisinya begini terus, rasanya kok berat mau lanjut. Modal makin besar, tapi untungnya hampir tidak ada,” tuturnya.

Menurut Samiatun, kenaikan harga kedelai terjadi sangat cepat. Baru sekitar sebulan lalu, harga kedelai impor masih berada di kisaran Rp 8.500 per kilogram. Namun dalam beberapa pekan terakhir, harga melonjak menjadi Rp 10.500 per kilogram.

Padahal, untuk menghasilkan tempe berkualitas, dirinya tidak bisa menggunakan sembarang bahan baku. Kedelai dengan kualitas terbaik tetap menjadi pilihan meski harganya jauh lebih mahal.

“Dulu juga pernah mahal sampai Rp 14 ribu per kilogram. Masalahnya harus pakai kedelai kualitas bagus, itu yang mahal,” keluhnya.

Setiap kali membeli bahan baku, Samiatun biasanya langsung mendatangkan 10 sak kedelai berkapasitas 50 kilogram. Persediaan tersebut digunakan untuk kebutuhan produksi sekitar 20 hari. Dalam sehari, ia rata-rata mengolah 25 kilogram kedelai menjadi tempe siap jual.

Namun sejak harga kedelai kembali melonjak, strategi bertahan terpaksa dilakukan. Salah satunya dengan mengecilkan ukuran tempe yang dijual kepada pelanggan.

“Panjangnya saya kurangi sekitar satu sentimeter. Dibuat lebih kecil supaya tidak rugi,” ungkapnya.

Langkah itu dipilih karena dinilai lebih aman dibandingkan menaikkan harga jual. Menurut Samiatun, pelanggan saat ini juga sedang menghadapi tekanan ekonomi sehingga kenaikan harga berisiko menurunkan penjualan.

“Kalau harganya dinaikkan, pembeli pasti keberatan. Pelanggan jelas protes semua,” katanya.

Fenomena serupa juga dialami perajin tahu di wilayah lain Banyuwangi. Rusmini, 62, warga Dusun Sawahan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, mengaku terpaksa melakukan efisiensi produksi akibat mahalnya bahan baku.

Tidak hanya mengecilkan ukuran tahu, Rusmini kini juga memangkas jumlah produksi harian untuk menyesuaikan kemampuan modal usaha yang dimiliki.

“Kondisi normal mengolah sampai 20 kilogram kedelai per hari. Sekarang sekitar 15 kilogram saja,” ujarnya.

Penurunan volume produksi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap industri rumah tangga tahu dan tempe semakin nyata. Jika harga kedelai terus bergerak naik tanpa diimbangi stabilitas pasokan dan dukungan pemerintah, bukan tidak mungkin semakin banyak perajin yang memilih menghentikan usaha.

Padahal, usaha tahu dan tempe selama ini menjadi salah satu sektor ekonomi rakyat yang menopang kebutuhan pangan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kondisi ini juga berpotensi berdampak pada konsumen. Jika harga bahan baku terus meningkat, pilihan yang tersedia bagi perajin hanya dua: mengecilkan ukuran produk atau menaikkan harga jual. Kedua opsi tersebut sama-sama berisiko menurunkan daya beli masyarakat.

Para perajin berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai impor dan menjaga ketersediaan pasokan di pasar. Sebab tanpa intervensi yang tepat, usaha kecil yang telah bertahan puluhan tahun terancam tumbang satu per satu.

Bagi Samiatun, persoalannya kini bukan hanya soal keuntungan. Lebih dari itu, usaha tempe yang telah dijalankan sejak 1962 merupakan bagian dari perjalanan hidupnya. Namun di tengah lonjakan harga kedelai yang terus berulang, pertanyaan besar mulai muncul di benaknya: masih mampukah usaha keluarga itu bertahan, atau justru harus berakhir setelah lebih dari enam dekade menghidupi keluarga mereka? (sas)

Editor : Ali Sodiqin
#perajin tempe Banyuwangi #perajin tahu Banyuwangi #usaha tempe terancam tutup #harga bahan baku tempe #Harga Kedelai Impor