RADARBANYUWANGI.ID – Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak hingga sektor transportasi udara di daerah. Bandara Banyuwangi mencatat penurunan jumlah penumpang selama April hingga Mei 2026. Salah satu penyebab utama yang diduga memicu kondisi tersebut adalah lonjakan harga tiket pesawat yang mencapai sekitar 40 persen dibandingkan harga normal.
Kenaikan tarif penerbangan itu disebut tidak lepas dari melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur) dan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat. Situasi tersebut terjadi di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok energi global.
General Manager Bandara Banyuwangi, Holik Muardi, mengatakan tren penurunan penumpang terlihat dalam operasional penerbangan selama dua bulan terakhir. Salah satu indikatornya adalah berkurangnya frekuensi penerbangan rute Banyuwangi–Jakarta yang sebelumnya beroperasi setiap hari.
“Rute Banyuwangi–Jakarta seharusnya beroperasi setiap hari. Namun dalam dua bulan terakhir, yakni April dan Mei, ada dua hari dalam sepekan yang tidak beroperasi, yaitu Selasa dan Sabtu,” ujarnya, Senin (2/6).
Berkurangnya jadwal penerbangan tersebut menjadi sinyal melemahnya permintaan pasar. Meski demikian, pihak bandara belum merilis data rinci mengenai jumlah penumpang yang mengalami penurunan selama periode tersebut.
“Kalau detail angkanya harus melihat data terlebih dahulu. Saat ini masih ada rapat,” kata Holik.
Menurut dia, salah satu faktor paling dominan yang memengaruhi turunnya jumlah penumpang adalah kenaikan harga tiket pesawat yang cukup signifikan dalam dua bulan terakhir. Tarif penerbangan yang sebelumnya berada di kisaran Rp 1,2 juta untuk rute Banyuwangi–Jakarta kini melonjak menjadi Rp 1,7 juta hingga Rp 2 juta per penumpang.
“Harga tiket naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelumnya. Tentu kondisi ini berpengaruh terhadap minat masyarakat menggunakan transportasi udara,” terangnya.
Lonjakan harga tiket tersebut terjadi karena maskapai harus menyesuaikan biaya operasional yang meningkat. Harga avtur sebagai komponen utama biaya penerbangan mengalami kenaikan seiring ketidakpastian pasokan energi dunia. Selain itu, penguatan dolar AS juga ikut menambah beban biaya operasional industri penerbangan nasional.
Holik menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu meningkatnya harga bahan bakar dunia. Gangguan pada jalur distribusi energi global, termasuk di kawasan Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, berdampak langsung pada harga avtur.
“Naiknya harga bahan bakar dan dolar membuat biaya operasional penerbangan meningkat. Dampaknya tiket pesawat ikut naik, dan akhirnya berimbas pada penurunan jumlah penumpang,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor transportasi udara nasional, termasuk di daerah. Sebab, tingginya harga tiket dapat mengurangi mobilitas masyarakat dan berpotensi menekan pertumbuhan sektor pariwisata maupun perjalanan bisnis yang selama ini bergantung pada konektivitas udara.
Pelaku industri penerbangan berharap situasi geopolitik global segera membaik sehingga harga energi kembali stabil. Dengan demikian, tarif penerbangan dapat kembali kompetitif dan mampu mendorong peningkatan jumlah penumpang di berbagai bandara daerah, termasuk Banyuwangi.
Sementara itu, Bandara Banyuwangi terus memantau perkembangan trafik penumpang dalam beberapa bulan ke depan. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat sejauh mana dampak kenaikan harga tiket terhadap tingkat keterisian penerbangan dan aktivitas transportasi udara di wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut. (why)
Editor : Ali Sodiqin