Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Usai Idul Adha, Harga Bawang Merah dan Cabai Merah Melonjak di Pasar Srono, MinyaKita Masih Langka

Zamrozi Wahyu • Selasa, 2 Juni 2026 | 09:00 WIB
LEBIH MAHAL: Pedagang menjual aneka bumbu masakan di Pasar Srono, Senin (1/6). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
LEBIH MAHAL: Pedagang menjual aneka bumbu masakan di Pasar Srono, Senin (1/6). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Dampak perayaan Idul Adha masih terasa di sejumlah pasar tradisional di Banyuwangi. Sejumlah komoditas bahan dapur mengalami kenaikan harga cukup tajam, terutama bawang merah, cabai merah, dan kacang tanah yang menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk mengolah berbagai menu masakan.

Kenaikan harga tersebut terpantau di Pasar Tradisional Srono, Desa Kebaman, Kecamatan Srono. Lonjakan terjadi sejak menjelang Hari Raya Idul Adha dan masih bertahan hingga awal pekan ini.

Di tengah naiknya beberapa komoditas, kabar baik datang dari cabai rawit dan bawang putih yang justru mengalami penurunan harga. Sementara itu, minyak goreng subsidi merek MinyaKita hingga kini masih sulit ditemukan di lapak-lapak pedagang.

Bawang Merah Naik Rp 15 Ribu per Kilogram

Salah satu pedagang di Pasar Srono, Sugito, mengatakan kenaikan harga sejumlah bahan dapur mulai terasa sejak beberapa hari sebelum Idul Adha.

Komoditas yang mengalami lonjakan paling mencolok adalah bawang merah. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp 35 ribu per kilogram, kini harganya mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

Tidak hanya bawang merah, cabai merah juga mengalami kenaikan cukup signifikan. Dari harga sebelumnya Rp 40 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 50 ribu per kilogram.

Menurut Sugito, meningkatnya permintaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan dapur tersebut.

“Cabai merah sekarang Rp 50 ribu per kilogram. Sebelumnya masih sekitar Rp 40 ribu,” ujarnya, Senin (1/6).

Kacang Tanah Ikut Meroket karena Kebutuhan Bumbu Sate

Komoditas lain yang mengalami lonjakan harga adalah kacang tanah.

Harga kacang tanah yang sebelumnya berada di kisaran Rp 29 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 39 ribu per kilogram.

Sugito menilai meningkatnya permintaan pasca-Idul Adha menjadi salah satu penyebab utama kenaikan tersebut. Kacang tanah banyak diburu masyarakat sebagai bahan baku pembuatan bumbu sate yang identik dengan momentum Idul Adha.

“Harga kacang tanah naik karena banyak orang mencari untuk bumbu sate,” katanya.

Selain faktor permintaan, ia menduga kenaikan harga juga dipengaruhi meningkatnya biaya kemasan plastik yang saat ini banyak digunakan dalam aktivitas perdagangan.

“Diduga juga ada pengaruh dari naiknya harga plastik. Sekarang hampir semua wadah menggunakan plastik,” tambahnya.

Cabai Rawit dan Bawang Putih Justru Turun

Di tengah lonjakan sejumlah bahan pokok, beberapa komoditas justru menunjukkan tren sebaliknya.

Cabai rawit yang beberapa waktu lalu sempat menembus Rp 75 ribu per kilogram kini turun cukup drastis menjadi Rp 45 ribu per kilogram.

Penurunan harga juga terjadi pada bawang putih.

Komoditas tersebut saat ini dijual Rp 28 ribu per kilogram, lebih rendah dibanding sebelumnya yang mencapai Rp 30 ribu per kilogram.

Sementara untuk komoditas sayuran, kondisi pasar relatif stabil tanpa gejolak harga yang berarti.

“Kalau sayuran masih normal. Sawi misalnya masih sekitar Rp 6 ribu per kilogram,” ungkap Sugito.

MinyaKita Masih Sulit Dicari

Selain persoalan harga bahan dapur, masyarakat juga masih menghadapi kendala dalam mendapatkan minyak goreng subsidi MinyaKita.

Sejumlah pedagang mengaku stok MinyaKita masih sangat terbatas bahkan nyaris tidak tersedia di pasar tradisional.

Pedagang lainnya, Nur Jannah, mengatakan sebagian besar pedagang kini lebih banyak menjual minyak goreng kemasan non-subsidi.

Harga minyak goreng kemasan yang tersedia di pasar saat ini rata-rata berada di atas Rp 22 ribu per liter.

“Kalau yang subsidi memang banyak yang tidak menjual,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu penyebab minimnya pasokan MinyaKita adalah selisih harga yang semakin tipis dibanding minyak goreng komersial.

Kondisi tersebut membuat produk subsidi itu tidak lagi banyak beredar di pasar tradisional.

“Harganya sekarang hampir sama dengan minyak goreng non-subsidi, jadi sulit ditemukan di sini,” katanya.

Daya Beli Masyarakat Jadi Perhatian

Kenaikan harga sejumlah bahan dapur tentu menjadi perhatian masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner skala kecil.

Meski kenaikan kali ini masih tergolong dalam batas wajar pasca-momentum hari besar keagamaan, pedagang berharap harga segera kembali stabil agar daya beli masyarakat tidak terganggu.

Pasalnya, kebutuhan dapur merupakan komponen penting dalam pengeluaran rumah tangga sehari-hari.

Dengan masih berlangsungnya aktivitas ekonomi pasca-Idul Adha, pedagang dan konsumen kini berharap pasokan bahan pangan kembali normal sehingga harga komoditas utama dapat berangsur turun dalam beberapa pekan ke depan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#harga cabai merah #Minyakita langka #Pasar Srono Banyuwangi #Harga bahan dapur Banyuwangi #Harga bawang merah naik