RADARBANYUWANGI.ID – Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Banyuwangi sepanjang Maret 2026 mengalami penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi mencatat okupansi hotel di Bumi Blambangan hanya mencapai 30,12 persen atau turun dibandingkan Februari yang berada di angka 31,56 persen.
Penurunan okupansi ini menjadi sinyal melambatnya tingkat keterisian hotel di kawasan ujung timur Pulau Jawa tersebut, terutama pada kategori hotel nonbintang dan jasa akomodasi lainnya yang mengalami penurunan cukup tajam.
Berdasarkan data BPS Banyuwangi, tingkat hunian hotel Banyuwangi pada Maret 2026 juga masih berada di bawah rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur maupun nasional.
TPK hotel Banyuwangi tercatat lebih rendah 0,14 poin dibandingkan tingkat okupansi hotel Jawa Timur yang mencapai 30,26 persen. Bahkan, angka tersebut terpaut 3,16 poin dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 33,28 persen.
Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam mengatakan, secara umum keterisian hotel berbintang maupun nonbintang mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
“TPK hotel berbintang di Kabupaten Banyuwangi pada bulan Maret 2026 lebih rendah dibandingkan bulan Februari 2026,” ujarnya dalam Berita Resmi Statistik Nomor 63/05/Th. XII.
Pada kategori hotel berbintang, tingkat keterisian kamar selama Maret 2026 mencapai 37,95 persen. Artinya, dari setiap 100 kamar yang tersedia di hotel berbintang Banyuwangi, rata-rata hanya sekitar 37 hingga 38 kamar yang terisi tamu setiap malam.
Meski masih lebih tinggi dibanding hotel nonbintang, okupansi hotel berbintang juga mengalami penurunan sebesar 0,13 poin dibanding Februari 2026 yang mencapai 38,08 persen.
Tidak hanya itu, capaian hotel berbintang Banyuwangi juga masih tertinggal dibandingkan tingkat okupansi hotel berbintang di Jawa Timur maupun nasional.
BPS mencatat, TPK hotel berbintang di Banyuwangi terpaut 5,46 poin dibandingkan TPK hotel berbintang Jawa Timur yang mencapai 43,42 persen. Sementara dibandingkan rata-rata nasional sebesar 42,78 persen, Banyuwangi masih tertinggal 4,82 poin.
“TPK hotel berbintang Banyuwangi masih lebih rendah dibandingkan Jawa Timur maupun nasional,” kata Abdus Salam.
Penurunan paling signifikan justru terjadi pada hotel nonbintang dan jasa akomodasi lainnya. Pada Maret 2026, tingkat penghunian kategori tersebut hanya mencapai 22,81 persen.
Angka ini turun cukup tajam sebesar 2,62 poin dibanding Februari 2026 yang mencapai 25,43 persen.
Meski demikian, okupansi hotel nonbintang Banyuwangi masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata hotel nonbintang di Jawa Timur yang berada di angka 19,47 persen.
Namun secara nasional, capaian Banyuwangi masih tertinggal 0,67 poin dibanding tingkat okupansi hotel nonbintang nasional yang mencapai 23,47 persen.
“TPK hotel nonbintang dan jasa akomodasi lainnya di Banyuwangi memang mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya,” terang Abdus Salam.
Di tengah penurunan okupansi, jumlah tamu hotel di Banyuwangi justru mengalami peningkatan cukup signifikan. Selama Maret 2026, total tamu hotel yang menginap di hotel berbintang, hotel nonbintang, maupun jasa akomodasi lainnya mencapai 48.962 orang.
Jumlah tersebut meningkat sebanyak 7.130 orang dibanding Februari 2026 yang tercatat sebanyak 41.832 tamu.
Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di Banyuwangi selama Maret 2026 tercatat 1,15 hari. Angka tersebut menunjukkan mayoritas wisatawan maupun tamu bisnis di Banyuwangi hanya menginap antara satu hingga dua hari.
Kondisi ini menunjukkan pola kunjungan wisatawan di Banyuwangi masih didominasi perjalanan singkat atau short trip, meski jumlah kunjungan tamu hotel mengalami kenaikan.
Penurunan okupansi hotel di Banyuwangi diperkirakan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai minimnya agenda wisata skala besar pada Maret hingga persaingan akomodasi nonformal seperti homestay dan penginapan berbasis aplikasi digital.
Selain itu, pola wisatawan yang cenderung melakukan perjalanan singkat juga berdampak terhadap rendahnya rata-rata lama menginap dan tingkat keterisian kamar hotel di Banyuwangi. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin