Sabut Kelapa Banyuwangi Naik Kelas, ITS dan UCL Kembangkan Kemasan Ramah Lingkungan untuk UMKM

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 01:30 WIB
MAJUKAN UMKM: Saat Ketua Tim ITS dari Prodi Teknik Pangan Departemen Teknik Kimia Siti Nurkhamidah menjelaskan tentang produk kemasan dari Serabut Kelapa, Selasa (26/5). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
MAJUKAN UMKM: Saat Ketua Tim ITS dari Prodi Teknik Pangan Departemen Teknik Kimia Siti Nurkhamidah menjelaskan tentang produk kemasan dari Serabut Kelapa, Selasa (26/5). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

Potensi Sabut Kelapa Banyuwangi Dilirik Dunia, ITS-UCL Kembangkan Biodegradable Packaging Bernilai Ekonomi Tinggi

RADARBANYUWANGI.ID – Potensi sabut kelapa di Banyuwangi kini mulai dilirik sebagai bahan baku kemasan ramah lingkungan bernilai ekonomi tinggi. Melalui kolaborasi riset internasional antara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan University College London (UCL), sabut kelapa dikembangkan menjadi biodegradable packaging yang berpeluang membuka pasar baru bagi pelaku UMKM sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap plastik.

Riset tersebut didukung pendanaan Global Engagement Funds (GEF) 2025/2026 dan mulai dikenalkan kepada masyarakat melalui workshop bertajuk “Pemanfaatan Sabut Kelapa untuk Bahan Kemasan Berkelanjutan: Optimalisasi Sumber Daya Lokal Banyuwangi” yang digelar di Rumah Kreatif Banyuwangi, Selasa (26/5).

Kegiatan yang difasilitasi Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop UMP) Banyuwangi itu diikuti puluhan pelaku UMKM dari berbagai wilayah di Banyuwangi. Dalam workshop tersebut, tim peneliti memaparkan proses pengolahan sabut kelapa menjadi biodegradable packaging yang dapat digunakan sebagai kemasan ramah lingkungan, khususnya untuk produk pangan.

Ketua Tim ITS dari Program Studi Teknik Pangan Departemen Teknik Kimia ITS, Siti Nurkhamidah mengatakan, Banyuwangi dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki potensi sabut kelapa yang sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Target utama riset kami adalah membuat food packaging berbahan alami. Banyuwangi dipilih karena memiliki potensi sabut kelapa yang besar, tetapi selama ini sebagian besar hanya dimanfaatkan untuk kompos atau diekspor dalam bentuk bahan mentah,” ujarnya.

Menurut Siti, sabut kelapa sebenarnya masih memiliki banyak peluang pengembangan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Salah satunya sebagai bahan baku biodegradable packaging yang kini semakin dibutuhkan seiring meningkatnya tren produk ramah lingkungan di pasar global.

Ia menjelaskan, pengembangan kemasan berbahan sabut kelapa tidak hanya berorientasi pada inovasi teknologi, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pemberdayaan UMKM lokal agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

“Kami ingin hasil riset ini bisa dimanfaatkan UMKM Banyuwangi sehingga membuka peluang bisnis baru serta berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kolaborasi riset tersebut melibatkan lintas disiplin antara ITS dan UCL. Tim ITS dari Departemen Teknik Kimia fokus pada formulasi material, pemilihan binder, komposisi sabut kelapa, hingga proses produksi kemasan. Sedangkan tim UCL dari Mechanical Engineering Department bertanggung jawab pada aspek desain produk dan pengembangan struktur kemasan.

Ketua tim peneliti dari Mechanical Engineering Department UCL, Dr Zareena Gani, mengatakan Indonesia dipilih karena menjadi salah satu negara penghasil sabut kelapa terbesar di dunia sehingga memiliki peluang besar dalam pengembangan sustainable packaging berbahan alami.

“Saat memikirkan sustainable packaging, yang pertama terlintas adalah sabut kelapa. Saya berasal dari keluarga dengan latar belakang agriculture di India sehingga sudah cukup akrab dengan material ini dan melihat potensinya sangat besar,” ujarnya.

Menurut Zareena, penggunaan bahan alami seperti sabut kelapa menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi penggunaan plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan global.

Ia berharap hasil akhir proyek tersebut tidak hanya dapat dipasarkan di Indonesia, tetapi juga mampu menembus pasar internasional sebagai produk kemasan berkelanjutan berbasis sumber daya alam lokal.

“Kami berharap packaging berbahan sabut kelapa ini bisa membantu mengurangi penggunaan plastik sekaligus menjadi produk sustainable yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Kepala Diskop UMP Banyuwangi Suratno menegaskan pihaknya mendukung penuh berbagai inovasi yang dapat mendorong pertumbuhan UMKM, khususnya yang memanfaatkan potensi bahan lokal yang melimpah di Banyuwangi.

“Kami selalu support terhadap berbagai inovasi untuk pengembangan UMKM Banyuwangi, apalagi memanfaatkan bahan lokal yang jumlahnya melimpah dan bernilai ekonomis,” katanya.

Menurut Suratno, peluang pasar produk berbahan alami saat ini terus berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, inovasi kemasan ramah lingkungan berbahan sabut kelapa dinilai memiliki prospek yang sangat menjanjikan.

“Semoga ini menjadi peluang baru bagi UMKM Banyuwangi, tidak hanya memenuhi pasar lokal tetapi juga karena tren dunia internasional sekarang semakin menyukai produk berbahan alam,” ujarnya.

Diskop UMP Banyuwangi, lanjut Suratno, siap memberikan pendampingan mulai dari pelatihan, pengembangan produksi hingga pemasaran agar inovasi tersebut benar-benar bisa dikembangkan menjadi usaha baru bagi masyarakat.

Pengembangan biodegradable packaging berbahan sabut kelapa tersebut diharapkan mampu menjadi solusi ganda, yakni meningkatkan nilai tambah limbah pertanian sekaligus mendukung pengurangan sampah plastik. Jika berhasil dikembangkan secara masif, Banyuwangi berpotensi menjadi salah satu pusat pengembangan kemasan ramah lingkungan berbasis sabut kelapa di Indonesia. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
sabut kelapa Banyuwangi biodegradable packaging ITS dan UCL kemasan ramah lingkungan UMKM Banyuwangi