Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Kedelai Impor Naik 25 Persen, Pedagang Tahu di Banyuwangi Pilih Perkecil Ukuran demi Bertahan

Ali Sodiqin • Rabu, 27 Mei 2026 | 15:00 WIB
KURANGI UKURAN: Perajin tahu di Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi ikut terdampak naiknya harga kedelai impor. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
KURANGI UKURAN: Perajin tahu di Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi ikut terdampak naiknya harga kedelai impor. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kenaikan harga kedelai impor mulai memukul pelaku usaha tahu di Banyuwangi. Di tengah biaya produksi yang terus merangkak naik, para pedagang terpaksa memutar otak agar tetap bisa bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Alih-alih menaikkan harga jual, sebagian pengusaha tahu memilih jalan lain yang dianggap lebih aman: memperkecil ukuran tahu. Strategi itu dilakukan agar konsumen tidak beralih ke pedagang lain di tengah daya beli masyarakat yang masih fluktuatif.

Kondisi tersebut dirasakan Nurul Hakim, 57, pengusaha tahu asal Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi. Sejak harga kedelai impor melonjak mulai akhir tahun 2025 lalu, Hakim mulai melakukan penyesuaian ukuran produk tahu yang dijualnya.

“Kalau harga tahu saya naikkan, takut pembelinya nanti pindah. Saya tidak tahu pedagang lain menaikkan harga atau tidak,” ujarnya.

Hakim mengatakan, harga kedelai impor kini mengalami kenaikan sekitar 25 persen dibanding tahun sebelumnya. Jika sebelumnya harga kedelai berada di angka Rp 8.500 per kilogram, kini sudah menembus Rp 10.500 per kilogram.

Menurut dia, tren kenaikan harga bahan baku masih berpotensi terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, dirinya memilih mempertahankan harga jual tahu dengan konsekuensi memperkecil ukuran produk.

“Akhirnya saya pilih menyesuaikan ukuran saja. Saya perkecil sedikit, kalau harganya tetap. Tahu mentah Rp 450 per biji, kalau matang Rp 550 per biji,” terangnya.

Kenaikan harga kedelai sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Hakim mengingat, pada tahun 2022 harga kedelai impor bahkan sempat menyentuh Rp 14 ribu per kilogram. Saat itu, dirinya tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual tahu secara signifikan.

“Waktu itu saya naikkan sampai 60 persen. Harga bahan baku naik hampir dua kali lipat,” tegasnya.

Sebagai pelaku usaha kecil yang sudah menjalankan bisnis tahu sejak 2005, Hakim mengaku posisi pengusaha tahu sangat bergantung pada kedelai impor. Sebab, pasokan kedelai lokal kini semakin sulit ditemukan di pasaran.

Padahal menurutnya, kualitas kedelai lokal sebenarnya jauh lebih baik dibanding kedelai impor. Namun minimnya petani yang menanam kedelai membuat pengusaha tahu tidak memiliki banyak pilihan bahan baku.

“Kalau bahan sebenarnya bagus kedelai lokal, tapi sudah tidak ada. Mungkin tidak ada petani yang mau menanam kedelai lokal,” ujarnya.

Tak hanya persoalan bahan baku, kenaikan biaya listrik juga mulai menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha tahu rumahan. Hakim menyebut pengeluaran listrik bulanan di tempat produksinya ikut melonjak cukup tajam.

Jika sebelumnya tagihan listrik berkisar Rp 1,2 juta per bulan, kini meningkat menjadi sekitar Rp 1,7 juta per bulan. Lonjakan biaya operasional tersebut membuat margin keuntungan semakin menipis.

“Listrik sekarang naik. Biasanya satu bulan habis Rp 1,2 juta, sekarang jadi Rp 1,7 juta,” pungkasnya.

Kondisi ini menjadi gambaran beratnya tekanan yang dihadapi pelaku UMKM pangan di daerah. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat pengusaha kecil sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, pelaku usaha juga harus menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat agar tetap mampu mempertahankan pelanggan di tengah persaingan pasar yang ketat.

Meski demikian, para pengusaha tahu di Banyuwangi masih berharap harga kedelai bisa kembali stabil sehingga usaha mereka tetap bertahan tanpa harus terus melakukan penyesuaian ukuran maupun harga jual. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Pedagang tahu Banyuwangi #Harga tahu Banyuwangi #Kenaikan bahan baku tahu #Harga Kedelai Impor #UMKM Banyuwangi