RADARBANYUWANGI.ID - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah di Kalimantan Barat mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para petani sawit karena penurunan harga terjadi saat biaya produksi justru terus meningkat.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari daerah pemilihan Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu, Suyanto Tanjung, mengatakan penurunan harga TBS terjadi secara bertahap dengan total penurunan mencapai Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram.
Menurut dia, pada hari pertama harga turun sekitar Rp300 per kilogram. Penurunan kembali terjadi pada hari berikutnya sebesar Rp400 per kilogram hingga akhirnya total penurunan menyentuh hampir Rp1.000 per kilogram di beberapa wilayah.
Baca Juga: Veda Ega dan Hakim Danish Pernah Taklukkan Mugello, Modal Besar Jelang Moto3 Italia 2026
“Saya bukan pengusaha sawit, saya petani sawit sebenarnya. Memang benar harga TBS di Kalbar ini sudah banyak turun,” ujar Suyanto, Jumat (22/5/2026), dikutip Pontianak Post.
Politisi Partai Hanura tersebut menilai salah satu pemicu gejolak harga berasal dari pernyataan pemerintah pusat mengenai rencana ekspor komoditas melalui mekanisme satu pintu yang dikelola lembaga BUMN. Menurutnya, kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha karena belum adanya kepastian teknis dan regulasi yang jelas.
Ia menegaskan, tujuan kebijakan tersebut sebenarnya baik untuk memperbaiki tata kelola ekspor dan menekan praktik penyimpangan. Namun, dampak di lapangan justru dirasakan langsung oleh petani sawit mandiri.
Baca Juga: Hasil TKA SD dan SMP 2026 Diumumkan 26 Mei, Ini Cara Membaca Nilai dan Kategori Penilaiannya
“Pengusaha sawit mungkin masih bingung bagaimana mekanismenya. Karena belum ada kepastian hukum dan teknis yang jelas, akhirnya imbasnya ke masyarakat kecil,” katanya.
Suyanto menilai kondisi tersebut cukup ironis karena harga crude palm oil (CPO) dunia sebenarnya relatif stabil dan cenderung mengalami kenaikan. Namun, harga TBS di tingkat petani justru merosot tajam.
Sebelum penurunan terjadi, harga TBS di tingkat petani sempat berada di kisaran Rp3.500 per kilogram. Kini, di sejumlah daerah Kalbar, harga turun menjadi sekitar Rp2.500 hingga Rp2.700 per kilogram.
Ia meminta pemerintah memastikan kebijakan baru tidak merugikan pelaku usaha maupun petani yang selama ini menjalankan usaha secara baik dan taat aturan.
“Kalau ada pengusaha nakal, silakan ditindak tegas. Tapi jangan semua pelaku usaha dan petani sawit ikut terkena imbas,” tegas Ketua Umum DPP MABT Indonesia tersebut.
Petani Bengkulu Hadapi Situasi Dilematis
Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Bengkulu. Harga TBS sawit di daerah tersebut dilaporkan terus mengalami penurunan sejak pengumuman kebijakan pemerintah pusat terkait tata kelola ekspor.
Dalam beberapa hari terakhir, harga sawit di Bengkulu turun bertahap mulai Rp300 per kilogram hingga mencapai Rp900 per kilogram. Hingga Minggu (24/5), harga rata-rata TBS sawit di sejumlah pabrik kelapa sawit hanya berada di kisaran Rp2.100 per kilogram.
Padahal sebelumnya harga sawit masih bertahan di angka sekitar Rp3.200 per kilogram.
Ketua DPW APKASINDO Bengkulu, Jakfar, mengatakan para petani kini menghadapi tekanan berlapis. Selain harga sawit turun, biaya pupuk dan agrokimia seperti pestisida serta herbisida juga mengalami kenaikan.
Akibat kondisi tersebut, banyak petani mulai mengurangi penggunaan pupuk demi menekan biaya operasional kebun.
“Kalau biasanya satu batang sawit diberi dua kilogram pupuk, sekarang dikurangi setengahnya menjadi satu kilogram,” ujarnya, dikutip Kantor Berita Sawit.
Petani juga menghadapi kesulitan memasarkan hasil panen karena sejumlah pabrik kelapa sawit mulai membatasi pembelian TBS dari masyarakat. Beberapa pabrik hanya membuka pembelian selama setengah hari, bahkan ada yang menghentikan penerimaan pasokan sementara waktu.
Situasi ini paling dirasakan petani di Kabupaten Mukomuko yang merupakan salah satu sentra sawit terbesar di Bengkulu. Petani harus bersaing untuk mendapatkan kuota penjualan ke pabrik.
“Sekarang situasinya sangat dilematis bagi kami. Di satu sisi harga turun dan pabrik membatasi pembelian,” kata Jakfar.
Harga Sawit Kalteng Ikut Melemah
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga menetapkan penurunan harga TBS sawit swadaya untuk periode pertama Mei 2026.
Dalam rapat tim penetapan harga TBS sawit swadaya, harga sawit dengan komposisi tenera 100 persen turun Rp32,67 per kilogram menjadi Rp3.442,62 per kilogram.
Harga CPO dalam penetapan tersebut berada di angka Rp15.079,85 per kilogram, sedangkan harga inti sawit atau kernel mencapai Rp15.049,74 per kilogram dengan indeks K sebesar 92,05 persen.
Baca Juga: Profil Gus Hilman, Anggota DPR RI dan Pilot Berlisensi yang Selamat dari Tragedi Tol Paspro KM 834
Pemerintah daerah berharap penetapan harga tersebut dapat menjadi acuan bagi petani dan pelaku usaha sawit swadaya di Kalimantan Tengah sambil menunggu evaluasi harga berikutnya pada awal Juni mendatang.
Di tengah tekanan harga yang terjadi di berbagai daerah, para petani berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian regulasi agar pasar kembali stabil dan harga TBS sawit dapat kembali membaik.
Editor : Lugas Rumpakaadi