RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat terhadap rupiah pada perdagangan Senin pagi (25/5/2026). Mata uang Paman Sam tercatat berada di level Rp17.717 atau naik sekitar 50 poin setara 0,28 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, penguatan dolar AS terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung bervariasi. Dolar AS terpantau stagnan terhadap dolar Kanada, franc Swiss, dan dolar Hong Kong. Namun, mata uang tersebut justru melemah terhadap yen Jepang dan won Korea Selatan.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, pasar merespons memburuknya data neraca transaksi berjalan Indonesia yang dinilai lebih besar dari perkiraan pelaku pasar.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Kondisi itu mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
“Defisit transaksi berjalan yang meningkat memicu kekhawatiran pasar, sementara sentimen risk off masih membayangi pasar keuangan domestik,” ujarnya.
Tekanan juga datang dari pelemahan pasar ekuitas domestik dalam beberapa hari terakhir. Situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan memilih instrumen yang dinilai lebih aman.
Baca Juga: Kemenpar Resmi Luncurkan Geopark Run Series 2026, Banyuwangi Jadi Pembuka Lewat Ijen Geopark Run
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang sebelumnya turut mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,11 persen, dolar Singapura turun 0,23 persen, won Korea Selatan melemah 0,56 persen, dan baht Thailand turun 0,18 persen. Ringgit Malaysia dan peso Filipina juga terkoreksi masing-masing 0,11 persen dan 0,24 persen.
Meski demikian, pada perdagangan Senin pagi rupiah sempat menunjukkan penguatan terbatas. Mata uang Garuda berada di level Rp17.696 per dolar AS atau menguat 21 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Penguatan juga terlihat pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Yen Jepang naik 0,19 persen, baht Thailand menguat 0,73 persen, yuan China naik 0,18 persen, serta won Korea Selatan menguat 0,48 persen.
Sementara itu, mata uang negara maju seperti euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss juga bergerak di zona hijau. Dolar Australia dan dolar Kanada turut mencatat penguatan terhadap dolar AS.
Menurut Lukman, peluang penguatan rupiah muncul setelah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah. Pasar merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran dan menyebut proses perundingan berjalan konstruktif.
Harapan meredanya tensi geopolitik turut menekan harga minyak mentah dunia dan memberi ruang bagi mata uang emerging markets untuk bergerak lebih stabil.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS oleh harapan perdamaian di Timur Tengah dan penurunan harga minyak mentah dunia,” kata Lukman.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksi bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.800 per dolar AS. Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang dinilai akan menjadi penentu utama pergerakan pasar keuangan pekan ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi