Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Emas Dunia Melejit ke US$4.577 Usai Isu Damai AS-Iran, Minyak Ambles dan Suku Bunga Terancam Turun

Ali Sodiqin • Senin, 25 Mei 2026 | 08:07 WIB
Harga emas dunia melonjak ke US$4.577 per troy ons dipicu isu damai AS-Iran. Harga minyak jatuh, peluang suku bunga turun terbuka. (ChatGPT)
Harga emas dunia melonjak ke US$4.577 per troy ons dipicu isu damai AS-Iran. Harga minyak jatuh, peluang suku bunga turun terbuka. (ChatGPT)

RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin pagi, 25 Mei 2026, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan geopolitik yang mulai mereda di Timur Tengah memicu pergerakan besar di pasar komoditas global, mulai dari emas hingga minyak mentah.

Pada pukul 06.34 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat menembus US$ 4.577,9 per troy ons atau melonjak 1,35 persen dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Lonjakan harga emas terjadi di tengah spekulasi bahwa AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Pasar global langsung bereaksi terhadap perkembangan tersebut karena perang di Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu pemicu utama lonjakan inflasi energi dan ketidakpastian ekonomi dunia.

AS dan Iran Dikabarkan Tinggal Finalisasi Kesepakatan

Laporan Bloomberg menyebutkan proses negosiasi damai antara AS dan Iran kini memasuki tahap akhir. Kesepakatan dikabarkan hanya tinggal menunggu penyelesaian pemilihan bahasa dalam dokumen resmi.

Sumber diplomatik menyebut proses finalisasi diperkirakan selesai dalam hitungan hari.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat memberi sinyal positif terkait situasi kawasan Timur Tengah.

Ia mengatakan akan ada “kabar baik” mengenai Selat Hormuz dalam beberapa jam ke depan.

Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi pasar bahwa jalur distribusi minyak dunia berpotensi kembali aman setelah sebelumnya terancam terganggu akibat konflik militer.

Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan hubungan Washington dan Teheran mulai membaik.

“Hubungan kami dengan Iran menjadi lebih produktif dan profesional. Mereka menyadari bahwa tidak bisa mengembangkan atau membeli senjata nuklir maupun bom,” tulis Trump di media sosial akhir pekan lalu.

Harga Minyak Anjlok, Pasar Mulai Hitung Risiko Inflasi

Harapan perdamaian membuat pasar energi langsung mengalami tekanan besar.

Harga minyak mentah jenis Brent pada pukul 06.40 WIB tercatat anjlok 5,29 persen ke level US$ 98,04 per barel.

Itu menjadi kali pertama harga Brent kembali turun di bawah level psikologis US$ 100 per barel sejak 20 April 2026.

Penurunan harga minyak memicu optimisme baru bahwa tekanan inflasi global bisa mulai mereda.

Selama perang berlangsung, lonjakan harga energi menjadi ancaman serius bagi ekonomi dunia karena meningkatkan biaya produksi, transportasi, hingga harga pangan.

Kini, ketika harga energi mulai turun, pelaku pasar mulai memperkirakan bank sentral global memiliki ruang lebih besar untuk memangkas suku bunga acuan.

Kenapa Harga Emas Justru Menguat?

Secara historis, emas dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen lindung nilai saat terjadi ketidakpastian global.

Namun kali ini, penguatan emas juga dipicu ekspektasi penurunan suku bunga.

Emas merupakan aset non-yielding atau tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga tinggi, investor biasanya lebih tertarik menempatkan dana di instrumen berbunga seperti obligasi.

Sebaliknya, ketika peluang penurunan suku bunga meningkat, emas menjadi lebih menarik karena biaya peluang memegang logam mulia menjadi lebih rendah.

Dengan mulai meredanya ancaman inflasi akibat penurunan harga minyak, pasar kini memperkirakan bank sentral global termasuk The Fed berpotensi melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang.

Analisis Teknikal: Emas Masih Bayangi Tekanan Bearish

Meski melonjak pada perdagangan pagi ini, secara teknikal harga emas dunia masih berada dalam zona bearish.

Hal tersebut tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 harian yang berada di level 40.

RSI di bawah angka 50 menandakan tren harga masih cenderung melemah meski terjadi penguatan jangka pendek.

Selain itu, indikator Stochastic RSI 14 harian tercatat berada di level 20 yang menunjukkan area jual kuat dan mendekati kondisi jenuh jual atau oversold.

Kondisi tersebut mengindikasikan harga emas masih rawan mengalami volatilitas tinggi dalam perdagangan beberapa hari ke depan.

Level Penting Harga Emas Hari Ini

Pelaku pasar kini mencermati sejumlah level teknikal penting yang berpotensi menentukan arah harga emas selanjutnya.

Area Resistance

Area Support

Apabila harga emas menembus pivot point di US$ 4.533 per troy ons, maka support lanjutan diperkirakan berada di area:

Sementara target paling pesimistis diproyeksikan berada di level US$ 4.409 per troy ons.

Investor Diminta Waspadai Volatilitas Tinggi

Analis menilai pasar emas masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.

Karena itu, investor disarankan tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi dalam jangka pendek.

Selain isu perdamaian AS-Iran, arah suku bunga bank sentral AS, data inflasi global, dan pergerakan dolar AS diperkirakan masih menjadi faktor utama yang menentukan arah harga emas dalam beberapa pekan ke depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#AS Iran #harga emas dunia #harga minyak #prediksi harga emas #emas hari ini