Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Kelapa Sawit di Tingkat Petani Dharmasraya Merosot Tajam, Pekebun Waswas Pendapatan Kian Tergerus

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 22 Mei 2026 | 14:57 WIB
Harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, turun drastis hingga Rp750 per kilogram. (JawaPos.com)
Harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, turun drastis hingga Rp750 per kilogram. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, mengalami penurunan drastis pada Jumat (22/5/2026). Harga sawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.180 per kilogram kini turun menjadi Rp2.430 per kilogram.

Penurunan hingga Rp750 per kilogram tersebut mengejutkan para petani karena dinilai tidak lazim dibanding fluktuasi harga sebelumnya.

Salah seorang petani asal Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang, Syahrial, 54, mengatakan informasi penurunan harga diperoleh dari pengurus koperasi unit desa (KUD) pada Kamis (21/5/2026) malam.

Baca Juga: Wisata Lombok Diuntungkan Kurs Dolar AS, NTB Siapkan Strategi Promosi Global dan Fam Trip 2026

“Informasi harga sawit turun kami peroleh dari pengurus KUD tadi malam, turun cukup jauh mencapai Rp750 per kilo hari ini,” ujarnya, Jumat (22/5/2026), dikutip Antara.

Menurut Syahrial, penurunan harga sawit dalam jumlah besar baru pertama kali dirasakan petani dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya, penurunan harga hanya berkisar Rp75 hingga Rp100 per kilogram.

“Kalaupun turun, itu paling Rp75 sampai Rp100 per kilo. Kalau sekarang kami petani tentu berpikir panjang jadinya, kenapa tiba-tiba turun cukup jauh, karena kemarin masih di harga Rp3 ribuan per kilo,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Masuk Lima Mata Uang Terlemah Dunia, Pemerintah Didorong Perkuat Stabilitas Ekonomi Nasional

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan petani, terutama terhadap keberlangsungan biaya operasional perkebunan yang terus meningkat.

Petani lainnya di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Padang Laweh, Asmanto, 38, mengatakan harga sawit yang rendah dalam waktu lama dapat berdampak serius terhadap ekonomi petani.

“Kalau lama-lama kayak gini, hancur kami petani. Pupuk mahal sekarang, pestisida mahal, upah panen mahal, belum lagi untuk biaya perawatan lainnya,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera mencari solusi agar harga TBS sawit di tingkat petani kembali stabil dan tidak semakin membebani pekebun kecil.

Tidak hanya petani, penurunan harga juga dirasakan pelaku usaha timbangan ram sawit. Salah seorang pemilik timbangan ram di Kecamatan Tiumang, Suherman, mengatakan harga pembelian sawit dari petani turun sekitar Rp700 per kilogram dalam sehari.

“Turunnya jauh mencapai Rp700 rupiah. Sebelumnya kita masih membeli dengan harga Rp3.200 per kilogram,” ujarnya.

Suherman mengaku mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah akibat penurunan harga mendadak tersebut. Ia menyebut sehari sebelumnya masih membeli sekitar 21 ton sawit petani dengan harga tinggi.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Mata Uang Garuda Masih Bergerak di Zona Merah Hari Ini

“Kita rugi, karena kemarin pagi menjelang siang masih beli sawit petani di harga Rp3.200 per kilo. Ada sekitar 21 ton saya membeli dengan harga tinggi, sementara hari ini harga turun. Saat kami mau jual sore hari pabrik juga sudah tidak menerima,” katanya.

Meski demikian, Suherman berharap petani tetap menjaga kualitas TBS agar harga jual dapat kembali membaik ketika kondisi pasar mulai stabil. Menurut dia, kestabilan harga sawit akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat di Kabupaten Dharmasraya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#harga sawit Dharmasraya #TBS kelapa sawit Sumbar #petani sawit rugi #harga sawit turun 2026 #ekonomi perkebunan sawit