RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar mata uang dunia kembali menjadi perhatian setelah Forbes Advisor merilis daftar 10 mata uang terlemah di dunia pada awal Mei 2026. Dalam laporan bertajuk Top 10 Weakest Currencies In The World In 2026, rupiah Indonesia masuk dalam lima besar mata uang dengan nilai tukar terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi pertama ditempati Rial Iran (IRR) dengan kurs mencapai 1.315.000 rial per 1 dolar AS. Kondisi tersebut menjadikan Iran sebagai negara dengan mata uang terlemah di dunia berdasarkan daftar yang dirilis Forbes Advisor.
Di posisi kedua terdapat Pound Lebanon (LBP) dengan nilai tukar 89.432 pound per dolar AS. Sementara posisi ketiga ditempati Dong Vietnam (VND) yang berada di level 26.319 dong per dolar AS.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Mata Uang Garuda Masih Bergerak di Zona Merah Hari Ini
Selanjutnya, Kip Laos (LAK) berada di urutan keempat dengan nilai tukar 21.971 kip per dolar AS. Adapun Indonesia menempati posisi kelima melalui rupiah (IDR) yang tercatat berada di level Rp17.420 per dolar AS pada awal Mei 2026.
Di bawah Indonesia terdapat Som Uzbekistan (UZS) dengan kurs 11.999 som per dolar AS. Kemudian Franc Guinea (GNF) berada di posisi ketujuh dengan nilai tukar 8.777 franc per dolar AS.
Peringkat kedelapan ditempati Guarani Paraguay (PYG) yang berada di angka 6.218 per dolar AS. Sementara Ariary Madagaskar (MGA) berada di posisi kesembilan dengan kurs 4.162 ariary per dolar AS.
Baca Juga: Dari Rp2.500 ke Rp16.800 per Dolar AS, Krisis 1998 Jadi Pengingat Rapuhnya Nilai Tukar Rupiah
Adapun posisi kesepuluh diisi Franc Burundi (BIF) dengan nilai tukar 2.983 franc per dolar AS.
Meski demikian, daftar tersebut merupakan catatan kurs pada awal Mei 2026 sehingga nilainya masih dapat berubah mengikuti dinamika ekonomi global dan pergerakan pasar keuangan internasional.
Melemahnya nilai tukar suatu mata uang umumnya dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari inflasi tinggi, kondisi geopolitik, suku bunga, ketidakstabilan ekonomi, hingga tekanan terhadap perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah dapat berdampak pada meningkatnya biaya impor dan tekanan terhadap sejumlah sektor ekonomi domestik. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Namun demikian, pemerintah dan otoritas keuangan diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui penguatan fundamental ekonomi, pengendalian inflasi, serta menjaga kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Editor : Lugas Rumpakaadi