RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda bahkan terjerembap ke level Rp17.700-an per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat melemah 34 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp17.701 per dolar AS. Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah berada di level Rp17.700-an atau melemah 0,34 persen terhadap dolar AS.
Pelemahan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan perdagangan. Pada awal sesi, rupiah dibuka turun 0,11 persen ke level Rp17.660 per dolar AS.
Baca Juga: Dari Rp2.500 ke Rp16.800 per Dolar AS, Krisis 1998 Jadi Pengingat Rapuhnya Nilai Tukar Rupiah
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung bervariasi terhadap the greenback. Sejumlah mata uang regional turut mengalami pelemahan, seperti dolar Singapura yang turun 0,08 persen, won Korea Selatan melemah 0,17 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,06 persen, dan baht Thailand turun 0,12 persen.
Namun, beberapa mata uang Asia lainnya justru mampu menguat. Rupee India tercatat melonjak 0,65 persen, dolar Taiwan naik 0,14 persen, sedangkan peso Filipina menguat tipis 0,06 persen.
Pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan dunia. Kondisi tersebut mendorong investor memburu aset aman, termasuk dolar AS.
Di sisi lain, tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik turut menambah tekanan terhadap kurs rupiah. Kebutuhan impor dan pembayaran luar negeri dinilai masih cukup tinggi sehingga permintaan dolar AS terus meningkat.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valas. Selain itu, bank sentral juga menaikkan suku bunga acuan atau BI-rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menahan arus keluar modal asing di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi tekanan hingga akhir perdagangan hari ini.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan akan berfluktuasi, namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.660 hingga Rp17.710 per dolar AS,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026), dikutip TVRI.
Editor : Lugas Rumpakaadi