Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Rp2.500 ke Rp16.800 per Dolar AS, Krisis 1998 Jadi Pengingat Rapuhnya Nilai Tukar Rupiah

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 22 Mei 2026 | 14:27 WIB
Pelemahan rupiah kembali memunculkan bayang-bayang krisis moneter 1998. (JawaPos.com)
Pelemahan rupiah kembali memunculkan bayang-bayang krisis moneter 1998. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali terjadi belakangan ini memunculkan kekhawatiran publik terhadap potensi terulangnya krisis moneter 1998. Pada masa tersebut, rupiah pernah terpuruk hingga menyentuh lebih dari Rp16 ribu per dolar Amerika Serikat dan menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah ekonomi nasional.

Berdasarkan catatan sejarah ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah kala itu anjlok drastis dari kisaran Rp2.500 menjadi lebih dari Rp16 ribu per dolar AS dalam waktu relatif singkat. Krisis bermula dari gejolak finansial Asia yang pertama kali mengguncang Thailand sebelum akhirnya menjalar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah semakin besar karena banyak perusahaan nasional saat itu memiliki utang dalam denominasi dolar AS. Kondisi tersebut membuat beban pembayaran meningkat tajam seiring melemahnya mata uang domestik.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.677 per Dolar AS, Investor Cermati Ketidakpastian Kebijakan Ekspor dan Pengumuman MSCI Juni

Dalam catatan sejarah krisis moneter Indonesia, rupiah bahkan sempat menyentuh sekitar Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998. Pelemahan tersebut berdampak luas terhadap perekonomian nasional, mulai dari lonjakan harga kebutuhan pokok, inflasi tinggi, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai sektor usaha.

Krisis moneter 1998 juga menyebabkan daya beli masyarakat turun drastis. Sejumlah perusahaan tidak mampu bertahan akibat tingginya biaya produksi dan beban utang luar negeri yang membengkak.

Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Dana Moneter Internasional (IMF) saat itu mengambil berbagai langkah penyelamatan ekonomi. Upaya tersebut meliputi restrukturisasi sektor perbankan hingga stabilisasi pasar keuangan untuk memulihkan kepercayaan investor.

Baca Juga: Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp 17.704 pada 22 Mei 2026

Di tengah kondisi saat ini, pelemahan rupiah disebut dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, kenaikan harga minyak dunia, serta tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibandingkan masa krisis 1998. Fundamental ekonomi nasional dan sistem perbankan dinilai jauh lebih kuat serta memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi gejolak eksternal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#pelemahan rupiah #nilai tukar dolar AS #krisis moneter 1998 #Bank Indonesia #ekonomi indonesia