RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menembus level Rp 17.704 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih rendah dibanding sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.684 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam sepekan terakhir, kurs dolar AS bahkan sempat mencapai titik tertinggi di angka Rp 17.777 pada Selasa (19/5). Setelah itu, rupiah sempat menguat tipis sehari berikutnya sebelum kembali tertekan pada akhir pekan ini.
Tidak hanya terhadap dolar AS, nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang regional juga menunjukkan pelemahan. Rupiah terhadap dolar Singapura turun dari Rp 13.837 menjadi Rp 13.848 per SGD pada Jumat (22/5/2026).
Sementara itu, kurs rupiah terhadap ringgit Malaysia juga terkoreksi tipis. Dari sebelumnya Rp 4.463,85 per ringgit, kini menjadi Rp 4.466,36 per ringgit.
Pengamat pasar menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal, terutama kondisi geopolitik global yang masih bergejolak. Situasi tersebut mendorong investor cenderung memilih aset aman seperti dolar AS.
Baca Juga: Polisi Buru 8 DPO Illegal Logging di Hutan Banyuwangi, Penggerebekan Diduga Bocor
Meski demikian, pergerakan kurs diperkirakan tetap fluktuatif karena dipengaruhi sentimen pasar dan kebijakan ekonomi global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Pelemahan rupiah juga menjadi perhatian pelaku usaha dan masyarakat karena dapat berdampak pada harga barang impor, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.
Editor : Lugas Rumpakaadi