Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Limbah Sabut Kelapa Jadi Cuan di Banyuwangi, Pemuda Sempu Sulap Sampah Organik Jadi Coco Peat Bernilai Jual Tinggi

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 22 Mei 2026 | 12:00 WIB
BERNILAI EKONOMI: Perajin memisahkan serat sabut dan serbuk sabut kelapa di Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Rabu (20/5). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
BERNILAI EKONOMI: Perajin memisahkan serat sabut dan serbuk sabut kelapa di Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Rabu (20/5). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah meningkatnya tren pertanian modern dan kebutuhan media tanam ramah lingkungan, limbah sabut kelapa yang selama ini kerap dianggap tak bernilai justru mulai menjadi sumber cuan baru di Banyuwangi. Bahan organik yang sebelumnya sering berakhir sebagai sampah kini disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dengan pasar yang terus tumbuh.

Transformasi limbah menjadi produk produktif itu kini mulai dilirik masyarakat. Salah satunya dilakukan pemuda asal Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, yang berhasil melihat peluang besar dari tumpukan sabut kelapa.

Sabut kelapa yang selama bertahun-tahun identik dengan limbah rumah tangga dan sisa hasil pertanian ternyata menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar. Selain bisa diolah menjadi produk rumah tangga dan industri, material tersebut juga menjadi bahan baku utama pembuatan coco peat, media tanam alternatif yang saat ini banyak digunakan kalangan petani hingga pehobi tanaman.

Produk coco peat sendiri merupakan media tanam berbahan dasar serbuk sabut kelapa yang telah melalui proses pengolahan khusus. Media ini dikenal memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air cukup baik sehingga efektif mendukung pertumbuhan tanaman.

Potensi itu yang kemudian dimanfaatkan oleh Danu Aji, 23, warga Desa Gendoh, Kecamatan Sempu. Pemuda tersebut mulai mengembangkan usaha pengolahan limbah sabut kelapa menjadi coco peat dengan menyasar pasar luar daerah.

Menurut Danu, produk yang dihasilkannya banyak digunakan sebagai pengganti tanah maupun campuran media tanam karena memiliki sejumlah keunggulan.

"Dalam coco peat terdapat kandungan tertentu yang dapat membantu mengurangi penyakit dalam media tanam tumbuhan," ujarnya.

Selain mendukung kesehatan tanaman, coco peat juga memiliki karakter ringan dan mampu meningkatkan struktur tanah. Jika dicampur dengan tanah liat maupun pupuk organik, media tanam tersebut dinilai mampu meningkatkan tingkat kegemburan tanah sehingga akar tanaman lebih mudah berkembang.

Permintaan pasar terhadap produk berbasis sabut kelapa pun terus meningkat. Danu mengaku hasil produksinya saat ini rutin dikirim ke Surabaya dan sejumlah daerah lain.

"Biasanya produk kami dikirim ke Surabaya. Harga satu kilogram bisa dibeli mulai Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu," katanya.

Nilai jual tersebut dinilai cukup menjanjikan mengingat bahan baku utama relatif mudah ditemukan di wilayah Banyuwangi yang memiliki produksi kelapa cukup melimpah.

Danu menjelaskan proses produksi coco peat membutuhkan tahapan cukup panjang sebelum siap dipasarkan. Tahap awal dilakukan dengan menggiling sabut kelapa menggunakan mesin penggiling khusus.

Proses tersebut bertujuan memisahkan dua komponen utama, yakni serat sabut atau coco fiber dan serbuk halus yang nantinya menjadi coco peat.

"Sabut kelapa digiling untuk memisahkan serat sabut kelapa atau coco fiber dengan serbuk sabut kelapa atau coco peat," jelasnya.

Setelah terpisah, serbuk hasil penggilingan tidak langsung dipasarkan. Bahan tersebut terlebih dahulu direndam dalam air selama sekitar 10 hingga 15 hari.

Proses perendaman dilakukan untuk mengurangi kadar zat tertentu yang dapat memengaruhi kualitas media tanam. Setelah itu, bahan dikeringkan menggunakan metode penjemuran alami di bawah sinar matahari.

Usai kadar air berkurang dan tekstur dianggap siap, coco peat kemudian dikemas sebelum dipasarkan ke konsumen.

Selain coco peat, hasil pengolahan sabut kelapa lainnya berupa coco fiber juga memiliki pasar tersendiri. Serat kasar dari sabut kelapa itu dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk rumah tangga maupun kebutuhan industri.

Mulai bahan pengisi jok mobil, spring bed, keset, sikat hingga sapu diproduksi menggunakan serat sabut kelapa. Kondisi itu membuat limbah kelapa memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar dibanding sekadar dibuang atau dibakar.

Fenomena tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa berbasis potensi lokal. Di tengah meningkatnya tren produk ramah lingkungan, pengolahan limbah organik seperti sabut kelapa diperkirakan akan semakin diminati.

Tidak hanya mengurangi limbah, pemanfaatan sabut kelapa juga memberi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal Banyuwangi. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#sabut kelapa Banyuwangi #coco peat Banyuwangi #limbah organik #usaha coco fiber #Desa Gendoh Sempu