BI Dinilai Berhasil Tahan Rupiah dari Level Rp18 Ribu, Pengusaha Khawatir Biaya Produksi Kian Membengkak

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 19 Mei 2026 | 15:37 WIB
Rupiah disebut berpotensi menembus Rp18 ribu per dolar AS tanpa intervensi BI dan pemerintah. (JawaPos.com)
Rupiah disebut berpotensi menembus Rp18 ribu per dolar AS tanpa intervensi BI dan pemerintah. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah disebut berpotensi menembus level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat apabila pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak melakukan intervensi di pasar keuangan. Tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan sentimen pasar terhadap kondisi domestik.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Fithra Faisal mengatakan gejolak geopolitik global, kenaikan harga minyak dunia, penguatan yield obligasi Amerika Serikat, hingga meningkatnya volatilitas pasar menjadi faktor utama pelemahan rupiah.

“Kalau misalnya tanpa intervensi, berdasarkan simulasi saya memang sudah Rp18 ribu lewat,” ujar Fithra dalam program Prime Plus CNN Indonesia TV, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Jelang Puncak Haji Armuzna, Jemaah Indonesia Diminta Perbanyak Zikir dan Doa di Arafah: ‘Al-Hajju Arafah’

Selain faktor global, pelemahan rupiah juga dipengaruhi rebalancing indeks MSCI dan arus pembayaran dividen ke luar negeri yang meningkat pada Mei. Meski demikian, Fithra menilai kondisi fundamental Indonesia masih relatif aman dengan cadangan devisa mencapai US$146 miliar.

Menurut dia, tanpa tekanan geopolitik global, kurs rupiah seharusnya masih berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS. Pemerintah dan BI pun disebut terus menjaga stabilitas melalui intervensi pasar valuta asing sejak awal tahun.

Sementara itu, ekonom Ferry Latuhihin menilai persoalan rupiah kini tidak hanya terkait fundamental ekonomi, tetapi juga menyangkut tingkat kepercayaan investor terhadap pemerintah. Ia menyoroti perubahan outlook Indonesia oleh Fitch dan Moody’s dari stabil menjadi negatif.

“Kalau ngomong ketidakpercayaan, itu sebenarnya terjadi setelah kabinet diumumkan,” katanya.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS, Rupiah Kian Tertekan di Tengah Penguatan Dolar Amerika

Ferry juga menyoroti defisit fiskal kuartal I yang mencapai Rp240 triliun dan penarikan utang baru sebesar Rp258 triliun. Kondisi tersebut dinilai memunculkan keraguan pasar terhadap kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Di sisi lain, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Apindo Sarman Simanjorang menyebut pelemahan rupiah mulai membebani dunia usaha. Kenaikan biaya bahan baku impor dinilai dapat memicu penyesuaian harga hingga efisiensi tenaga kerja bila tekanan terus berlanjut.

“Kalau sudah menyentuh angka Rp18 ribu, ini sudah mulai harus menyesuaikan,” ujar Sarman.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : CNN Indonesia
Nilai Tukar Dolar Defisit Fiskal Bank Indonesia ekonomi indonesia rupiah