Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

MinyaKita Jadi Barang Langka di Banyuwangi, Harga Tembus Rp 18 Ribu per Liter

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 11 Mei 2026 | 09:30 WIB
BAHAN POKOK: Deteran Minyakita kemasan botol di pasaran Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MULAI LANGKA: Deteran Minyakita kemasan botol di pasaran Banyuwangib beberapa waktu lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Minyak goreng subsidi merek MinyaKita mulai menjadi “barang langka” di Banyuwangi. Di sejumlah pasar tradisional, stok minyak goreng subsidi tersebut sulit ditemukan. Kalaupun tersedia, harganya sudah melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Kondisi itu memicu kekhawatiran masyarakat di tengah tren kenaikan harga bahan pokok pasca-Idul Fitri. Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop UMP) Banyuwangi menilai terbatasnya pasokan MinyaKita ke pasar menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan tersebut.

Di sisi lain, Bulog Banyuwangi memastikan stok minyak goreng subsidi sebenarnya masih dalam kondisi aman dan distribusi terus berjalan secara bertahap.

Kepala Diskop UMP Banyuwangi Nanin Oktaviantie mengatakan, salah satu faktor yang memengaruhi terbatasnya stok MinyaKita di pasar adalah penyaluran minyak goreng subsidi untuk program Bantuan Pangan (Bapang).

Menurut dia, distribusi MinyaKita untuk kebutuhan bantuan sosial membuat pasokan ke pasar tradisional ikut berkurang sehingga stok yang beredar di masyarakat menjadi terbatas.

“MinyaKita beberapa waktu ini juga difokuskan untuk bantuan pangan. Hal itu ikut memengaruhi stok yang didistribusikan ke pasar-pasar,” ujarnya.

Akibat stok yang mulai langka, harga jual MinyaKita di lapangan juga ikut melonjak. Padahal pemerintah telah menetapkan HET minyak goreng subsidi tersebut sebesar Rp 15.700 per liter.

Namun berdasarkan hasil pemantauan Diskop UMP Banyuwangi, sejumlah pedagang menjual MinyaKita dengan harga Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per liter.

Kenaikan harga itu terjadi karena pedagang mendapatkan harga kulakan yang juga sudah tinggi sehingga sulit menjual sesuai HET.

Diskop UMP Banyuwangi pun meminta Bulog menambah pasokan MinyaKita, terutama di pasar-pasar yang ditemukan menjual minyak subsidi di atas harga resmi pemerintah.

“Kami minta Bulog memasok lebih banyak lagi supaya harga di pasar bisa ditekan,” kata Nanin.

Menurut dia, penambahan distribusi menjadi langkah penting agar masyarakat tetap bisa memperoleh minyak goreng subsidi dengan harga terjangkau.

Sementara itu, Kepala Bulog Cabang Banyuwangi Dwiana Puspitasari memastikan stok MinyaKita di gudang Bulog Banyuwangi masih aman.

Bulog Banyuwangi, kata dia, terus menerima tambahan pasokan secara bertahap sehingga distribusi minyak goreng subsidi tetap berjalan.

Sejak awal tahun hingga saat ini, Bulog Banyuwangi tercatat telah mendistribusikan sebanyak 759.608 liter MinyaKita ke masyarakat dan pasar.

“Untuk stok kondisinya terus berubah karena kedatangan bertahap. Jadi setiap saat ada penambahan,” ujarnya.

Meski Bulog memastikan stok aman, kondisi di lapangan menunjukkan MinyaKita masih sulit ditemukan di sejumlah pasar tradisional Banyuwangi. Banyak pedagang bahkan memilih tidak lagi menjual minyak subsidi karena harga kulakan dinilai sudah terlalu tinggi.

Sebagian pedagang kini beralih menjual minyak goreng non subsidi yang selisih harganya dinilai tidak terlalu jauh dengan MinyaKita.

Situasi tersebut membuat masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak. Sebab, minyak goreng subsidi selama ini menjadi salah satu kebutuhan pokok utama rumah tangga.

Pemerintah daerah berharap distribusi MinyaKita dapat segera kembali normal sehingga harga minyak goreng di pasaran bisa stabil dan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah kenaikan kebutuhan pokok lainnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#MinyaKita langka Banyuwangi #harga minyak goreng subsidi #HET MinyaKita #Bulog Banyuwangi #Diskop UMP Banyuwangi