Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

MinyaKita Langka di Pasar Srono Banyuwangi, Pedagang Pilih Jual Minyak Non Subsidi

Zamrozi Wahyu • Senin, 11 Mei 2026 | 08:00 WIB
STOK MINYAKITA KOSONG: Salah satu pedagang di Pasar Srono sedang bersiap-siap untuk menutup lapak dagangannya Minggu (10/5). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
STOK MINYAKITA KOSONG: Salah satu pedagang di Pasar Srono sedang bersiap-siap untuk menutup lapak dagangannya Minggu (10/5). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan minyak goreng subsidi merek MinyaKita mulai dirasakan pedagang dan masyarakat di Pasar Srono, Banyuwangi. Setelah Idul Fitri, stok minyak goreng bersubsidi tersebut semakin sulit ditemukan di pasaran. Kondisi itu membuat banyak pedagang memilih berhenti menjual MinyaKita karena harga kulakan dinilai sudah tidak masuk akal.

Alih-alih memperoleh keuntungan, pedagang justru terancam merugi jika tetap menjual minyak subsidi sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Akibatnya, sebagian besar kios di Pasar Srono kini lebih memilih menjual minyak goreng non subsidi.

Salah satu pedagang di Pasar Srono, Sugito, mengaku sudah cukup lama tidak lagi menjual MinyaKita. Selain barangnya sulit diperoleh dari distributor, harga kulakan yang diterima pedagang juga sudah jauh di atas HET pemerintah.

“Terakhir kulakan menjelang Idul Fitri. Setelah itu saya tidak ambil untuk dijual lagi,” ujarnya.

Menurut Sugito, jika pedagang tetap memaksakan menjual MinyaKita, maka harga jual di tingkat konsumen akan sulit bersaing dengan minyak goreng non subsidi.

Pasalnya, harga kulakan yang tinggi membuat pedagang terpaksa menjual MinyaKita di kisaran Rp 20.500 per liter. Harga tersebut dinilai terlalu mahal untuk ukuran minyak goreng subsidi.

Di sisi lain, minyak goreng non subsidi saat ini dijual sekitar Rp 21 ribu per liter dengan kualitas yang dianggap lebih baik oleh konsumen.

“Harga minyak goreng non subsidi Rp 21 ribu per liter dengan kualitas jauh lebih bagus dibandingkan minyak goreng subsidi,” katanya.

Karena selisih harga yang tipis, lanjut Sugito, masyarakat cenderung memilih minyak goreng non subsidi dibanding MinyaKita. Kondisi tersebut membuat banyak pedagang memutuskan tidak lagi menjual minyak subsidi.

“Kalau harganya di bawah Rp 20 ribu, mungkin masih banyak yang jual,” imbuhnya.

Kelangkaan MinyaKita juga dibenarkan pedagang lain, Nur Janah. Ia mengatakan, menjelang Idul Fitri lalu minyak goreng subsidi tersebut masih mudah ditemukan dengan harga sekitar Rp 16 ribu per liter.

Namun setelah Lebaran, pasokan mulai menghilang dari pasaran. Bahkan grosir tempat pedagang biasa mengambil barang partai besar disebut sudah tidak menyediakan MinyaKita.

“MinyaKita tidak ada. Grosir tempat belanja partai besar juga tidak menyediakan, sehingga saya hanya menjual minyak goreng tanpa subsidi,” tuturnya.

Tidak hanya minyak goreng, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah bahan kebutuhan dapur lainnya di Pasar Srono. Stok yang terbatas membuat harga komoditas pangan terus bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir.

Harga bawang merah misalnya, pekan lalu masih berada di kisaran Rp 28 ribu per kilogram. Namun kini melonjak menjadi Rp 35 ribu per kilogram.

Sementara harga cabai rawit juga mengalami kenaikan cukup signifikan, dari Rp 65 ribu menjadi Rp 75 ribu per kilogram.

“Untuk cabai rawit, naik dari Rp 65 ribu menjadi Rp 75 ribu per kilogram,” ungkap Nur Janah.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin terbebani karena harus menghadapi kenaikan sejumlah kebutuhan pokok secara bersamaan. Pedagang berharap pasokan minyak goreng subsidi dan bahan pangan lain segera kembali normal agar harga di pasar dapat terkendali.

Kelangkaan MinyaKita yang terjadi pasca-Lebaran juga memunculkan kekhawatiran terhadap distribusi minyak subsidi di tingkat bawah. Sebab, jika pasokan terus tersendat, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak akibat kenaikan harga kebutuhan dapur. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Minyakita langka #minyak goreng subsidi #harga minyak goreng Banyuwangi #harga bahan pokok naik #pasar srono