RADARBANYUWANGI.ID - Petani semangka di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, tengah menikmati manisnya panen raya tahun ini. Di saat produksi melimpah, harga jual semangka justru bertahan tinggi hingga mencapai Rp 8 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani semringah karena keuntungan yang diperoleh dinilai cukup menjanjikan.
Tingginya harga semangka saat panen raya menjadi kabar baik bagi petani setelah sebelumnya kerap dihantui fluktuasi harga dan biaya produksi yang terus meningkat.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Muncar, Eva, mengatakan harga jual semangka yang relatif tinggi tidak lepas dari kekompakan petani dalam menjaga kualitas buah yang dipanen.
Menurut dia, kualitas semangka yang baik membuat permintaan pasar tetap tinggi meski pasokan sedang melimpah.
“Alhamdulillah, petani bisa kompak menjaga kualitas semangka sehingga harganya mahal, yaitu Rp 8 ribu per kilogram,” ujarnya.
Eva menjelaskan, panen semangka di wilayah Kecamatan Muncar rata-rata dilakukan saat tanaman berumur sekitar 55 hari setelah tanam.
Luas lahan pertanian yang ditanami semangka di wilayah tersebut mencapai sekitar 200 hingga 250 hektare dalam satu musim tanam.
Dari luasan itu, produksi semangka yang dihasilkan tergolong besar. Dalam satu hektare lahan, petani mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 ton buah semangka, tergantung kondisi cuaca dan perawatan tanaman.
“Jika panenan merata bisa menghasilkan 7,5 ribu ton semangka dalam satu kali musim,” katanya.
Saat ini, lanjut Eva, sebagian besar petani di Muncar sudah memasuki akhir masa panen raya. Hanya tersisa sedikit lahan yang belum dipanen.
Meski demikian, tingginya harga jual membuat banyak petani diperkirakan kembali menanam semangka pada musim berikutnya.
“Tinggal sedikit yang belum dipanen,” ungkapnya.
Panen raya semangka di Muncar selama ini menjadi salah satu penopang sektor hortikultura di Banyuwangi bagian selatan. Selain dipasarkan di wilayah lokal, hasil panen semangka juga banyak dikirim ke luar daerah.
Salah satu petani semangka asal Desa Tembokerejo, Kecamatan Muncar, Taufikurrohman, mengaku hasil panen tahun ini cukup menggembirakan.
Dia mengatakan, biaya perawatan semangka dalam satu musim tanam berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per hektare.
Besarnya biaya tersebut dipengaruhi kondisi cuaca dan intensitas perawatan tanaman.
“Kalau musim hujan, biasanya perawatan membengkak,” ujarnya.
Menurut Taufikurrohman, hasil panen semangka dalam satu hektare rata-rata mencapai 20 hingga 30 ton buah.
Dengan harga jual yang kini mencapai Rp 8 ribu per kilogram, petani dinilai masih bisa memperoleh keuntungan cukup baik meski biaya produksi terus naik.
Tingginya harga semangka saat panen raya juga menjadi fenomena yang cukup jarang terjadi. Sebab, pada kondisi normal, harga komoditas hortikultura biasanya cenderung turun ketika produksi sedang melimpah.
Karena itu, banyak petani memanfaatkan momentum tersebut untuk memaksimalkan hasil panen dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Selain faktor kualitas, cuaca yang relatif mendukung pada musim tanam kali ini juga disebut turut memengaruhi hasil produksi semangka di Muncar.
Petani berharap harga jual tetap stabil hingga akhir musim panen agar keuntungan yang diperoleh tidak tergerus biaya produksi.
Di sisi lain, tingginya harga semangka juga menjadi indikator meningkatnya permintaan pasar terhadap buah segar, terutama menjelang musim kemarau ketika konsumsi buah dengan kadar air tinggi cenderung meningkat.
Dengan hasil panen yang melimpah dan harga yang menguntungkan, musim panen semangka tahun ini menjadi salah satu momentum terbaik bagi petani hortikultura di Kecamatan Muncar Banyuwangi. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin