RADARBANYUWANGI.ID – Tekanan harga di Banyuwangi mulai menunjukkan pelonggaran. Pada April 2026, laju inflasi tahunan (year on year/y-o-y) tercatat 2,22 persen, sementara secara bulanan justru terjadi deflasi 0,28 persen. Sinyal ini menunjukkan harga kebutuhan masyarakat relatif terkendali setelah sempat mengalami kenaikan pada bulan sebelumnya.
Data tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi berdasarkan pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK). Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas masih mengalami kenaikan, namun laju peningkatannya mulai melandai.
Kepala BPS Banyuwangi, Abdus Salam, menjelaskan bahwa inflasi tahunan sebesar 2,22 persen terjadi akibat kenaikan IHK dari 109,47 pada April 2025 menjadi 111,90 pada April 2026.
“Untuk inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d), pada April 2026 sebesar 0,82 persen,” ujarnya dalam Berita Resmi Statistik (BRS).
Deflasi Bulanan, Harga Mulai Turun
Secara bulanan (month to month/m-t-m), Banyuwangi mengalami deflasi sebesar 0,28 persen. Artinya, terjadi penurunan harga sejumlah komoditas dibandingkan Maret 2026.
Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan inflasi tahun kalender. Pada Maret 2026, inflasi y-to-d tercatat 1,10 persen, sedangkan pada April turun menjadi 0,82 persen.
Deflasi ini menjadi indikator penting bahwa tekanan harga mulai mereda, memberikan ruang bagi daya beli masyarakat untuk pulih.
Komoditas Penyumbang Inflasi
Meski terjadi deflasi bulanan, sejumlah komoditas masih menjadi pendorong inflasi tahunan. Di antaranya emas perhiasan, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, jeruk, nasi dengan lauk, hingga minyak goreng.
Selain itu, sektor transportasi seperti angkutan udara juga turut menyumbang inflasi, menunjukkan adanya tekanan biaya pada mobilitas masyarakat.
Komoditas perikanan seperti ikan tongkol dan ikan lemuru juga tercatat memberi kontribusi terhadap kenaikan harga.
Pemicu Deflasi: Cabai hingga Bawang
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menjadi penyumbang deflasi, baik secara tahunan maupun bulanan. Bawang putih, bawang merah, kelapa, hingga sayuran seperti kangkung dan sawi hijau mengalami penurunan harga.
Pada level bulanan, komoditas seperti cabai rawit, telur ayam ras, dan bahan bakar rumah tangga juga berkontribusi terhadap deflasi.
Penurunan harga ini dinilai menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi agar tetap terkendali.
Tren Inflasi Cenderung Menurun
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, tren inflasi di Banyuwangi menunjukkan penurunan. Pada April 2025, inflasi y-o-y tercatat 2,38 persen, sedangkan pada April 2024 mencapai 3,01 persen.
Artinya, dalam dua tahun terakhir, laju inflasi cenderung melandai.
Sementara itu, inflasi tahun kalender juga mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, menandakan stabilitas harga yang mulai terjaga.
Indikasi Stabilitas Ekonomi Daerah
Kondisi inflasi yang terkendali dan deflasi bulanan menjadi indikator positif bagi perekonomian daerah. Stabilitas harga dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, fluktuasi harga komoditas pangan dan energi tetap perlu diwaspadai, terutama menjelang momentum tertentu yang berpotensi memicu kenaikan harga.
Dengan tren saat ini, Banyuwangi dinilai masih berada dalam jalur stabil, meski tetap membutuhkan pengendalian harga yang konsisten agar inflasi tetap terkendali di kisaran aman. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin