RADARBANYUWANGI.ID – Desa Sidowangi di Kecamatan Wongsorejo layak menyandang predikat “Surga Tembakau” di Bumi Blambangan, Banyuwangi. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Ratusan hektare lahan tembakau dengan kualitas unggulan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.
Hamparan daun tembakau berwarna kecokelatan yang dijemur di halaman rumah warga menjadi pemandangan khas saat musim panen tiba. Aktivitas ini berlangsung hampir di setiap sudut desa, menandakan tingginya produktivitas komoditas andalan tersebut.
Sebagian petani menjemur daun tembakau dalam bentuk lembaran kering atau dikenal sebagai krosok. Sementara lainnya memilih merajang daun tembakau sebelum dijemur untuk menghasilkan kualitas yang lebih tinggi dan nilai jual lebih mahal.
Kepala Desa Sidowangi, Muansin, menegaskan bahwa tembakau merupakan komoditas unggulan yang tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama petani, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Selain menjadi sumber penghasilan petani, tembakau juga menjadi sumber lapangan kerja bagi para buruh tani,” ujarnya.
Harga dan Produktivitas Menjanjikan
Pada musim panen 2025, harga krosok berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Krosok biasanya berasal dari daun tembakau yang mengering di batang atau daun yang gugur ke tanah.
Namun, nilai ekonomi yang lebih tinggi diperoleh dari tembakau rajangan. Dengan proses pengolahan yang lebih intensif, harga jualnya jauh melampaui krosok.
Dari sisi produktivitas, satu hektare lahan tembakau di Sidowangi mampu menghasilkan sekitar 3 hingga 5 ton. Angka ini menunjukkan potensi besar sektor tembakau dalam mendongkrak pendapatan petani.
Tak heran jika Desa Sidowangi juga kerap dijuluki sebagai “Tobacco Village” oleh sebagian kalangan.
Serap Ratusan Tenaga Kerja
Keberadaan sektor tembakau turut memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Ratusan warga terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari penanaman, perawatan, hingga pengolahan pascapanen.
Tercatat, sekitar 100 pekerja tembakau mendapatkan bantuan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp150 ribu per bulan.
Selain itu, sekitar 300 pekerja di sektor ini telah terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Perindustrian Banyuwangi. Langkah ini memberikan perlindungan sosial bagi para pekerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
DBHCHT Dorong Pembangunan Desa
Kontribusi sektor tembakau juga berdampak pada pembangunan infrastruktur desa. Melalui alokasi DBHCHT, sejumlah proyek strategis telah direalisasikan.
Pada 2021, misalnya, pembangunan jalan produksi dilakukan untuk memperlancar distribusi hasil panen. Selain itu, pembangunan sumur bor lengkap dengan pompa air turut membantu mendukung kebutuhan irigasi pertanian.
Program-program tersebut menjadi bukti nyata bahwa sektor tembakau tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga mendorong pembangunan desa secara berkelanjutan.
Harapan Peningkatan Kesejahteraan
Ke depan, pemerintah desa berharap produktivitas dan kualitas tembakau terus meningkat. Dengan demikian, kesejahteraan petani dan masyarakat dapat terus terdongkrak.
“Harapannya petani semakin berdaya, hasil panen meningkat, dan kesejahteraan warga ikut naik,” pungkas Muansin.
Dengan potensi besar yang dimiliki, Desa Sidowangi kian mengukuhkan diri sebagai salah satu sentra tembakau unggulan di Banyuwangi, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin