Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ledakan Petani Milenial di Banyuwangi: Dari Greenhouse Melon hingga Integrated Farming, Anak Muda Balik ke Sawah

Sigit Hariyadi • Sabtu, 2 Mei 2026 | 02:00 WIB
OPTIMALKAN POTENSI: Bupati Ipuk Fiestiandani mengunjungi green house melon hidroponik premium dalam rangkaian kegiatan Bunga Desa di Kecamatan Purwoharjo pada Rabu (29/4). (Dini for Radar Banyuwangi)
OPTIMALKAN POTENSI: Bupati Ipuk Fiestiandani mengunjungi green house melon hidroponik premium dalam rangkaian kegiatan Bunga Desa di Kecamatan Purwoharjo pada Rabu (29/4). (Dini for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah tren urbanisasi yang terus menggerus minat generasi muda ke sektor pertanian, fenomena sebaliknya justru terjadi di Banyuwangi. Anak-anak muda kini berbondong-bondong kembali ke sawah—bukan sekadar bertani, tapi membawa inovasi dan cara pikir baru yang mengubah wajah sektor pangan.

Perubahan arah ini tak lepas dari dorongan kuat Pemkab Banyuwangi di bawah kepemimpinan Ipuk Fiestiandani. Regenerasi petani menjadi agenda strategis, bahkan ditempatkan sebagai prioritas utama pembangunan daerah.

“Pertanian itu masa depan. Kami sadar harus ada regenerasi. Karena itu, kami dorong anak muda untuk terjun dan melihat sektor ini sebagai peluang besar,” ujar Ipuk, Jumat (1/5).

Langkah tersebut bukan tanpa hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, geliat petani milenial di Banyuwangi kian terasa. Desa-desa yang sebelumnya identik dengan petani berusia lanjut kini mulai dipenuhi wajah-wajah muda yang berani bereksperimen.

Salah satu motor penggeraknya adalah program Jagoan Tani—sebuah inisiatif yang tak hanya memberikan pelatihan, tapi juga pendampingan intensif, akses mentor, hingga stimulus permodalan.

Sejak digulirkan pada 2021, program ini telah melahirkan ratusan petani muda. Mereka tak hanya bergerak di sektor hulu seperti budidaya, tetapi juga merambah hilir—mengolah hingga memasarkan produk pertanian dengan pendekatan modern.

“Anak muda punya kreativitas dan energi besar. Mereka inilah yang akan jadi tulang punggung ketahanan pangan ke depan,” tegas Ipuk.


Dari Teknik Sipil ke Melon Premium

Salah satu contoh nyata datang dari Paul Corneles Hariyono, pemuda asal Desa Purwoharjo. Latar belakangnya bukan pertanian, melainkan teknik sipil. Namun, insting membaca peluang membawanya terjun ke bisnis yang kini sedang naik daun: melon hidroponik premium.

Berbekal pembelajaran mandiri dari media sosial, Neles—sapaan akrabnya—membangun greenhouse “Virgin Farm” di desanya. Dalam waktu tiga bulan, ia berhasil menanam 550 pohon melon dengan varietas unggulan seperti sweet lavender, sweet honey, dan dalmatian.

“Kita punya semua modal alam—tanah subur, matahari sepanjang tahun, air melimpah. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan serius,” ujarnya.

Produk yang dihasilkan bukan sembarang melon. Dengan tekstur lebih renyah dan rasa lebih manis, melon premium ini dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram—jauh di atas harga pasar melon biasa.

Tak berhenti di situ, Neles juga membidik sektor wisata. Greenhouse miliknya akan dikembangkan menjadi destinasi petik buah, membuka peluang ekonomi baru berbasis agrowisata.


Integrated Farming: Nol Limbah, Maksimal Hasil

Inovasi lain datang dari Rega, 29, pemuda asal Desa Karetan. Ia mengembangkan konsep integrated farming di lahan seluas satu hektare—menggabungkan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem terpadu.

Di lahannya, Rega menanam jeruk dan jagung, memelihara lebih dari 100 ekor domba berbagai jenis seperti cross merino dan cross texel, serta membudidayakan ikan nila.

Yang menarik, seluruh limbah diolah kembali. Kotoran ternak menjadi pupuk organik, batang jagung diolah menjadi pakan (silase), dan air kolam ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.

“Hampir tidak ada yang terbuang. Semua saling terhubung. Biaya produksi bisa ditekan, hasilnya juga lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Setelah empat tahun menjalankan sistem ini, Rega mengaku jauh lebih efisien. Ia tak lagi bergantung pada pupuk kimia atau pakan dari luar.


Pertanian Jadi Arena Rebutan Masa Depan

Fenomena ini menunjukkan pergeseran besar: pertanian bukan lagi sektor “tertinggal”, melainkan ladang peluang yang menjanjikan. Apalagi dengan sentuhan teknologi dan inovasi, sektor ini mampu bersaing secara ekonomi.

Bupati Ipuk yang turun langsung meninjau lahan para petani muda itu pun memberikan apresiasi. Ia menilai, keberanian dan kreativitas mereka menjadi contoh nyata bahwa pertanian bisa menjadi pilihan karier yang menjanjikan.

“Ini bukti bahwa pertanian bisa modern, menguntungkan, dan membanggakan. Kami berharap semakin banyak anak muda mengikuti jejak mereka,” ujarnya.

Dengan tren ini, Banyuwangi tak hanya bicara soal ketahanan pangan, tetapi juga tentang masa depan ekonomi berbasis desa yang digerakkan generasi muda. Sebuah pergeseran yang bukan sekadar harapan—melainkan sudah menjadi kenyataan. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Integrated Farming #Melon Hidroponik #pertanian modern #jagoan tani #petani milenial Banyuwangi