Transportasi Kereta Api Jadi Tulang Punggung, KAI Layani 128 Juta Pelanggan dalam Tiga Bulan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 28 April 2026 | 09:33 WIB
KAI Group melayani 128 juta pelanggan di Triwulan I 2026, naik 9,97 persen. (Antara)
KAI Group melayani 128 juta pelanggan di Triwulan I 2026, naik 9,97 persen. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Pola pergerakan masyarakat pada awal 2026 mengalami pergeseran. Transportasi berbasis rel kini tak lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjelma menjadi tulang punggung mobilitas nasional.

Kinerja PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencerminkan tren tersebut. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, KAI melayani 128.055.072 pelanggan. Angka itu tumbuh 9,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan ini bukan hanya menandakan tingginya mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap geliat ekonomi di kawasan sekitar stasiun yang semakin hidup.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa tren positif ini tidak lepas dari integrasi layanan yang semakin kuat.

“Kereta api semakin menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dari perjalanan harian hingga antarkota, semuanya terhubung dalam satu sistem layanan yang semakin terintegrasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Antara.

Layanan Kereta Api Jarak Jauh dan Lokal menjadi salah satu pendorong utama. Sepanjang triwulan pertama, segmen ini melayani 14.515.350 pelanggan atau tumbuh 18,40 persen. Momentum libur Lebaran turut menjadi faktor signifikan, terutama dalam mendorong arus mudik dan wisata antarprovinsi.

Di sisi lain, mobilitas perkotaan tetap mendominasi. Layanan Commuter Line mencatat 101,3 juta pelanggan, meningkat 8,11 persen. Sementara itu, LRT Jabodebek menunjukkan pertumbuhan paling progresif sebesar 22,10 persen dengan total 7,75 juta pengguna.

Fenomena ini mengindikasikan meningkatnya ketergantungan masyarakat di kawasan penyangga ibu kota terhadap transportasi cepat dan tepat waktu untuk menunjang produktivitas.

Pertumbuhan juga terlihat di luar Pulau Jawa. Layanan KA Makassar–Parepare mencatat lonjakan signifikan hingga 66,45 persen dengan total 75.421 pelanggan. Di Sumatera, LRT Sumsel tumbuh 7,38 persen.

Sementara itu, kereta cepat Whoosh rute Jakarta–Bandung tetap menunjukkan tren positif dengan kenaikan 4,07 persen.

Tak hanya untuk kebutuhan mobilitas harian, kereta api juga mulai bergeser menjadi bagian dari gaya hidup. Layanan KAI Wisata, termasuk kereta panoramic, mencatat lonjakan hingga 110,10 persen.

“Kepercayaan masyarakat terus tumbuh. Kereta api digunakan oleh berbagai kalangan dengan kebutuhan yang beragam,” tambah Anne.

Selain efisiensi waktu dan biaya, transportasi rel juga memberikan kontribusi terhadap lingkungan. Penggunaan biodiesel B40 membantu menekan emisi karbon, dengan estimasi emisi sebesar 38,9 ribu ton CO2e pada triwulan pertama 2026.

Integrasi antarmoda yang semakin matang turut memperkuat daya tarik transportasi rel. Konektivitas antara Whoosh dan LRT di Stasiun Halim, serta simpul transportasi Dukuh Atas, menjadi contoh nyata ekosistem transportasi yang semakin terhubung.

“Konektivitas antar layanan membuat perjalanan lebih efisien. Setiap simpul transportasi saling melengkapi,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
transportasi KAI Kereta Api