Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Angkutan Peti Kemas KAI Tumbuh 14,57 Persen, Moda Kereta Api Didorong Jadi Tulang Punggung Logistik Nasional di Tengah Lonjakan Kebutuhan Distribusi

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 23 April 2026 | 09:17 WIB
Ilustrasi kereta api di terminal peti kemas. (JawaPos.com)
Ilustrasi kereta api di terminal peti kemas. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Kinerja angkutan peti kemas PT Kereta Api Indonesia (KAI) menunjukkan tren positif pada awal 2026.

Sepanjang Triwulan I 2026, volume angkutan mencapai 1.371.036 ton, tumbuh 14,57 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 1.196.600 ton.

Peningkatan ini terjadi di tengah lonjakan kebutuhan distribusi nasional seiring pertumbuhan jumlah penduduk.

Data Badan Pusat Statistik mencatat populasi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 281 juta jiwa pada 2025.

Skala tersebut menuntut sistem logistik yang mampu mengangkut barang dalam jumlah besar secara efisien dan terjadwal.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan bahwa kondisi tersebut memperkuat urgensi pengembangan logistik berbasis rel.

“Dengan volume logistik yang terus meningkat, dibutuhkan moda transportasi yang mampu mengangkut dalam skala besar secara konsisten. Kereta api menjadi salah satu opsi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung distribusi nasional yang lebih efisien dan terstruktur,” ujarnya, dikutip Antara.

Selain volume, kinerja operasional juga mengalami peningkatan.

Ketepatan waktu keberangkatan angkutan barang pada Triwulan I 2026 tercatat 95,97 persen, sementara kedatangan mencapai 91,77 persen.

Angka ini lebih baik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, masing-masing 95,89 persen dan 87,04 persen.

Konsistensi tersebut dinilai krusial dalam menjaga keandalan rantai pasok.

Dari sisi kapasitas, KAI terus melakukan penguatan.

Saat ini, gerbong memiliki kapasitas rata-rata 50 ton dan secara bertahap ditingkatkan menjadi 70 ton.

Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.

Efisiensi ini membuka peluang pengurangan ketergantungan terhadap angkutan jalan, terutama untuk distribusi jarak jauh.

Dalam konteks nasional, distribusi logistik masih didominasi moda jalan.

Kajian National Logistics Ecosystem (NLE) oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia pada 2024 menunjukkan biaya logistik Indonesia berada di kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini mencerminkan perlunya diversifikasi moda transportasi.

Sementara itu, dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) 2030 yang disusun Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, pangsa angkutan barang berbasis rel ditargetkan mencapai 15 persen pada 2030, dari posisi saat ini yang masih di bawah 5 persen.

Penguatan moda rel juga berdampak pada infrastruktur jalan.

Perpindahan sebagian distribusi ke kereta api berpotensi mengurangi beban kendaraan berat, menjaga umur jalan, sekaligus menekan biaya pemeliharaan.

Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan potensi terbesar.

Integrasi antara kawasan industri, pelabuhan, dan jaringan rel dinilai menjadi kunci peningkatan volume angkutan peti kemas ke depan.

Anne menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan logistik berbasis rel.

“Ke depan, pengembangan logistik berbasis rel perlu didukung oleh integrasi jaringan, peningkatan kapasitas, serta sinergi dengan berbagai pihak. Dengan langkah tersebut, distribusi barang dapat berjalan lebih efisien dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi yang terus berkembang,” pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#angkutan peti kemas #KAI #Kereta Api