RADARBANYUWANGI.ID – Euforia turunnya harga cabai di Banyuwangi belum sepenuhnya menenangkan dapur warga. Setelah sempat “meledak” hingga Rp 80 ribu bahkan mendekati Rp 100 ribu per kilogram menjelang Idul Fitri, kini harga cabai rawit merah memang mulai melandai. Namun, angka Rp 60 ribu per kilogram masih terasa “pedas” bagi konsumen.
Pantauan di Pasar Banyuwangi dan Pasar Blambangan pada Sabtu (19/4), harga cabai rawit merah bertahan di kisaran Rp 60 ribu per kilogram. Penurunan ini terjadi setelah lonjakan tajam sepanjang awal April hingga puncak Lebaran.
Baca Juga: CPNS 2026 Dibuka Agustus? Ini Formasi 160 Ribu yang Disiapkan, Pelamar Diminta Bersiap
Andri, pedagang sembako di Pasar Blambangan, mengakui adanya tren penurunan harga dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan ini belum signifikan jika dibandingkan lonjakan sebelumnya.
“Sekarang sudah turun jadi sekitar Rp 60 ribu per kilogram. Awal bulan sampai pekan lalu masih di kisaran Rp 80 ribu,” ujarnya.
Senada, Rohani, pedagang lain di pasar yang sama, menilai harga saat ini masih jauh dari kondisi normal. Ia menyebut, harga cabai rawit merah biasanya hanya berkisar Rp 30 ribu per kilogram.
“Kalau dibandingkan harga normal, sekarang masih mahal. Walaupun turun, tetap tinggi,” katanya.
Stabil, Tapi Belum Menenangkan
Di tengah fluktuasi cabai rawit, harga cabai merah besar relatif stabil. Sejak awal April hingga kini, komoditas tersebut dijual di kisaran Rp 30 ribu per kilogram.
Komoditas bumbu dapur lain seperti bawang merah dan bawang putih juga menunjukkan kestabilan harga di angka yang sama, yakni Rp 30 ribu per kilogram. Padahal, bawang merah sempat melonjak hingga Rp 45 ribu per kilogram pada akhir Maret lalu.
Seorang pedagang di Pasar Banyuwangi menyebut kondisi ini sebagai tanda pasar mulai kembali normal setelah tekanan permintaan tinggi saat Ramadan dan Lebaran.
“Sekarang sudah normal lagi di Rp 30 ribu per kilogram, baik bawang merah maupun putih,” ujarnya.
Konsumen Masih Tertekan
Meski ada penurunan, konsumen belum sepenuhnya lega. Juriyah, warga Kelurahan Kebalenan, mengaku harga cabai saat ini masih membebani pengeluaran rumah tangga.
“Menurut saya masih mahal. Kemarin waktu Lebaran bahkan sempat sampai Rp 100 ribu per kilogram,” tuturnya.
Baca Juga: JK Meradang Dituduh Lawan Jokowi: “Saya yang Bawa dari Solo ke Istana!”
Kondisi ini memperlihatkan bahwa stabilisasi harga belum sepenuhnya dirasakan di tingkat konsumen. Penurunan harga cabai rawit memang menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup kuat untuk mengembalikan daya beli masyarakat seperti sebelum lonjakan.
Sinyal Pemulihan atau Sekadar Koreksi?
Penurunan harga cabai rawit di Banyuwangi memunculkan pertanyaan: apakah ini awal tren stabilisasi atau hanya koreksi sementara pasca-Lebaran?
Secara historis, harga komoditas hortikultura seperti cabai sangat dipengaruhi oleh pasokan, cuaca, dan distribusi. Tanpa intervensi yang konsisten, fluktuasi tajam berpotensi kembali terjadi dalam waktu singkat.
Bagi warga, yang terpenting bukan sekadar harga turun, tetapi kembali ke level “wajar”. Selama cabai masih dijual dua kali lipat dari harga normal, rasa pedasnya belum hanya di lidah—tetapi juga di kantong. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin