RADARBANYUWANGI.ID – Belum reda persoalan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram, kini warga Banyuwangi kembali dihadapkan pada krisis bahan pokok lain: minyak goreng bersubsidi.
Produk Minyakita yang selama ini menjadi andalan masyarakat kecil, mendadak sulit ditemukan di pasaran.
Di Pasar Srono, salah satu pusat aktivitas ekonomi warga, stok minyak goreng subsidi nyaris menghilang sejak menjelang Lebaran. Kondisi ini memaksa pedagang dan konsumen beralih ke minyak goreng non subsidi dengan harga yang lebih tinggi.
Kelangkaan ini bukan sekadar gangguan distribusi biasa. Bagi pedagang kecil, hilangnya Minyakita berarti hilangnya produk dengan daya beli paling stabil. Sementara bagi konsumen, ini menjadi pukulan lanjutan di tengah tekanan harga kebutuhan pokok.
Baca Juga: Pertashop Berguguran di Banyuwangi: Tanpa Rem Regulasi, Persaingan Jadi “Senjata Makan Tuan”
Nur Janah, salah satu pedagang di Pasar Srono, mengaku sudah tidak lagi mendapatkan pasokan minyak goreng subsidi setelah Idul Fitri.
“Minyakita tidak ada, grosir tempat belanja dalam jumlah besar juga tidak menyediakan, sehingga kami hanya menjual minyak goreng tanpa subsidi,” ujarnya.
Akibatnya, harga minyak goreng di tingkat pedagang ikut merangkak naik. Jika sebelumnya minyak goreng kemasan dijual sekitar Rp 19 ribu per liter, kini tembus Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu per liter.
Padahal, minyak goreng subsidi biasanya menjadi pilihan utama masyarakat dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter atau dibulatkan menjadi Rp 16 ribu. Kini, opsi tersebut praktis menghilang dari rak-rak pasar.
“Itu pun (minyak non subsidi) harganya naik karena stoknya tidak banyak,” tambah Nur.
Di sisi lain, sejumlah komoditas dapur lain relatif stabil. Harga bawang merah dan bawang putih berada di kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit yang sempat melonjak, kini turun menjadi sekitar Rp 60 ribu per kilogram.
Namun, stabilnya harga komoditas lain tak cukup meredam keresahan warga. Minyak goreng tetap menjadi kebutuhan pokok harian yang sulit tergantikan.
Ayu, salah satu pembeli di Pasar Srono, mengaku sudah lama tidak menemukan Minyakita di pasaran.
“Sepertinya sejak Lebaran saya sudah tidak pernah melihat Minyakita,” katanya.
Kondisi ini memperpanjang daftar masalah distribusi barang subsidi di Banyuwangi. Sebelumnya, gas elpiji 3 kilogram juga sempat langka, bahkan di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Muncar kelangkaannya masih terasa hingga setelah Lebaran.
Situasi berulang ini memunculkan pertanyaan serius soal tata kelola distribusi barang subsidi. Di satu sisi, pemerintah menetapkan harga untuk melindungi daya beli masyarakat. Namun di sisi lain, ketersediaan barang justru tidak terjamin di lapangan.
Tanpa pengawasan distribusi yang ketat dan kepastian pasokan, masyarakat kecil kembali menjadi pihak yang paling terdampak—dipaksa membeli dengan harga lebih mahal, atau mengurangi konsumsi kebutuhan pokok.
Di tengah tekanan ekonomi pasca Lebaran, kelangkaan Minyakita menjadi sinyal bahwa persoalan pangan bukan hanya soal harga, tetapi juga soal akses. Dan ketika akses itu terputus, beban langsung jatuh ke dapur rumah tangga warga. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin