RADARBANYUWANGI.ID – Gelombang digitalisasi kian menggerus denyut ekonomi pasar tradisional di Banyuwangi, Jawa Timur.
Pedagang pakaian di Pasar Genteng I Banyuwangi kini tak hanya bersaing dengan toko sebelah, tetapi juga dengan ribuan etalase virtual yang beroperasi 24 jam tanpa batas ruang. Kondisi ini memaksa mereka beradaptasi cepat—atau tersingkir.
Perubahan pola konsumsi masyarakat yang beralih ke belanja daring menjadi tekanan nyata. Penurunan omzet bukan lagi ancaman, melainkan realitas harian yang dihadapi pedagang.
Bahkan, sebagian di antaranya mulai mempertanyakan keberlangsungan usaha yang telah digeluti selama puluhan tahun.
Hariyanto, 49, salah satu pedagang pakaian di Pasar Genteng I, mengakui ketertinggalan menjadi persoalan utama. Ia kesulitan mengikuti tren fesyen yang bergerak cepat di platform digital.
“Kalau disuruh mengikuti tren dengan memperbarui model pakaian kami kesulitan. Sudah kalah update,” ujarnya.
Baca Juga: Pertashop Berguguran di Banyuwangi: Tanpa Rem Regulasi, Persaingan Jadi “Senjata Makan Tuan”
Dalam kondisi serba terbatas, pedagang seperti Hariyanto memilih jalan tengah: menggabungkan penjualan konvensional dengan daring.
Model bisnis hibrida ini dinilai menjadi cara paling realistis untuk bertahan di tengah gempuran marketplace.
Namun, transformasi itu tidak mudah. Keterbatasan literasi digital menjadi kendala utama. Hariyanto mengandalkan bantuan anaknya untuk mengelola penjualan online.
“Alhamdulillah masih bisa bertahan, tapi ya harus dibantu anak agar penjualan online bisa jalan,” katanya.
Penurunan aktivitas jual beli sandang di pasar tradisional sejatinya sudah terjadi jauh sebelum pandemi Covid-19. Namun, pandemi mempercepat perubahan tersebut secara drastis.
Kebiasaan belanja masyarakat bergeser permanen ke platform digital, meninggalkan kios-kios yang semakin sepi pengunjung.
Kini, menjual dua potong pakaian dalam sehari pun menjadi tantangan.
“Sekarang di toko bisa menjual dua potong baju saja sepertinya sulit. Tapi ya masih bisa bertahan, berarti masih cukup,” ucap Hariyanto.
Di tengah tekanan tersebut, pedagang dituntut cermat mengelola keuangan. Prioritas utama bukan lagi keuntungan besar, melainkan menjaga usaha tetap hidup.
“Yang penting sewa terpenuhi, kemudian baru memikirkan uang yang untuk dibawa pulang,” tambahnya.
Baca Juga: Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Wafat Mendadak, Dunia Pers Kehilangan Sosok Penggerak
Petugas Pasar Genteng I, Arif Kurniawan, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut penurunan aktivitas ekonomi di sektor sandang sudah berlangsung lama dan belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan.
“Sudah sejak lama kondisinya sulit, mungkin bisa dibilang ramai hanya saat mendekati Lebaran dan libur hari besar lainnya saja,” jelasnya.
Fenomena ini memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara pelaku usaha tradisional dan ekosistem digital.
Tanpa dukungan serius—baik dalam bentuk pelatihan, akses teknologi, maupun pendampingan—pedagang pasar berpotensi semakin tertinggal.
Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Namun, bagi pedagang kecil dengan keterbatasan sumber daya, proses tersebut menjadi pertaruhan antara bertahan atau benar-benar hilang dari peta ekonomi lokal. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin