RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah derasnya isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat memicu kekhawatiran publik, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengambil keputusan strategis: tidak ada kenaikan harga BBM per 1 April 2026.
Keputusan ini berlaku untuk seluruh jenis BBM, baik bersubsidi maupun non-subsidi, dan tidak hanya berlaku di SPBU milik PT Pertamina (Persero), tetapi juga diikuti oleh SPBU swasta seperti BP-AKR dan Vivo.
Langkah pemerintah tersebut langsung menjadi perhatian luas karena sebelumnya sempat beredar spekulasi bahwa BBM non-subsidi berpotensi mengalami penyesuaian harga akibat tekanan harga minyak global.
Namun hingga Kamis, 16 April 2026, harga di lapangan masih terpantau tetap sama seperti periode Maret 2026.
Bahlil Tegaskan Perintah Presiden: Harga BBM Flat
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya telah menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden.
“Penyesuaian harga BBM subsidi tidak ada penyesuaian naik atau turun, flat pakai harga sekarang,” kata Bahlil dalam konferensi pers.
Untuk BBM non-subsidi, pemerintah bersama Pertamina dan SPBU swasta juga memutuskan belum melakukan perubahan.
“Belum ada penyesuaian harga, masih tetap sama,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus meredam rumor yang sempat ramai di media sosial mengenai potensi lonjakan harga Pertamax.
Fakta Lapangan: Pertamax Tetap Rp 12.300, BP dan Vivo Stabil
Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan harga BBM masih bertahan.
Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga BBM Pertamina masih sebagai berikut:
-
Pertalite: Rp 10.000/liter
-
Solar Subsidi: Rp 6.800/liter
-
Pertamax: Rp 12.300/liter
-
Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter
-
Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter
-
Dexlite: Rp 14.200/liter
-
Pertamina Dex: Rp 14.500/liter
Sementara di SPBU swasta:
BP-AKR
-
BP 92: Rp 12.390/liter
-
BP Ultimate: Rp 12.930/liter
-
BP Ultimate Diesel: Rp 14.620/liter
Vivo
-
Revvo 92: Rp 12.390/liter
-
Revvo 95: Rp 12.930/liter
-
Diesel Primus: Rp 14.610/liter
Harga-harga tersebut masih sama dengan periode Maret 2026.
Konflik Baru: Harga Tetap, Tapi Shell Masih Kosong
Di balik keputusan harga yang tetap, persoalan baru justru muncul di lapangan.
Sejumlah SPBU Shell plc terpantau masih tidak menjual BBM atau mengalami kekosongan stok di sejumlah wilayah.
Shell melalui laman resminya menyampaikan bahwa produk BBM mereka saat ini belum tersedia.
“Produk BBM Shell saat ini tidak tersedia,” demikian keterangan resmi yang dikutip dari situs Shell Indonesia.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran publik karena meski harga tidak naik, akses terhadap BBM di SPBU tertentu justru terganggu.
Di beberapa titik seperti Warung Buncit dan wilayah selatan Jakarta, konsumen dilaporkan tidak bisa membeli BBM Shell.
Inilah angle konflik yang kini menjadi perhatian: harga berhasil ditahan, tetapi distribusi di sebagian SPBU swasta belum sepenuhnya normal.
Keputusan Politik untuk Jaga Daya Beli
Keputusan pemerintah menahan harga BBM dipandang sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Kebijakan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, terutama setelah beredarnya isu kenaikan yang sempat memicu kepanikan.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kebijakan ini tetap perlu dievaluasi secara berkala agar tidak membebani APBN dalam jangka panjang. (*)
Editor : Ali Sodiqin