Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Inspiratif Mantri BRI Sri Malasarin, Perempuan di Balik Kebangkitan Ekonomi Petani NTB: Dari Petani, Pupuk, hingga Pemasaran Hasil Panen di Lombok Tengah

Ali Sodiqin • Kamis, 16 April 2026 | 13:27 WIB
Sri Malasarin, Mantri BRI di Lombok Tengah, menjadi motor penggerak ekonomi desa dengan mendampingi petani dari modal hingga pemasaran panen. (foto: BRI)
Sri Malasarin, Mantri BRI di Lombok Tengah, menjadi motor penggerak ekonomi desa dengan mendampingi petani dari modal hingga pemasaran panen. (foto: BRI)

RADARBANYUWANGI.ID – Di balik wajah lembut dan tutur yang tenang, tersimpan peran besar seorang perempuan yang setiap hari ikut menentukan denyut ekonomi masyarakat desa.

Adalah Sri Malasarin, tenaga pemasar mikro atau Mantri BRI yang bertugas di wilayah Mujur, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bagi perempuan yang akrab disapa Mala ini, pekerjaannya bukan sekadar profesi di sektor perbankan.

Ia hadir di garis depan, masuk ke sawah, menyambangi rumah-rumah petani, mendengar keluhan modal, hingga membantu mencarikan jalur distribusi hasil panen.

Di tengah tantangan ekonomi masyarakat pedesaan yang kerap bergantung pada musim, harga pupuk, hingga fluktuasi hasil pertanian, sosok Mala menjadi salah satu penggerak yang memastikan roda ekonomi tetap berputar.

Perannya bahkan melampaui fungsi pembiayaan.

Ia menjadi penghubung antara akses modal, edukasi keuangan, dan rantai usaha masyarakat desa.


Dari Lulusan Agribisnis ke Garda Depan Ekonomi Mikro

Perjalanan Mala hingga menjadi salah satu ujung tombak ekonomi mikro di Lombok Tengah tidak terjadi secara instan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Pertanian Agribisnis, ia sempat berkarier di sektor keuangan sebelum akhirnya bergabung dengan BRI pada tahun 2012 sebagai frontliner.

Namun, dua tahun kemudian, tepatnya pada 2014, langkah kariernya berubah signifikan.

Ia mengikuti rekrutmen internal bidang marketing dan berhasil terpilih menjadi Mantri BRI.

Jabatan tersebut membuka babak baru dalam hidupnya—lebih dekat dengan masyarakat, lebih intens menghadapi persoalan ekonomi riil di lapangan.

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.

Berhadapan langsung dengan masyarakat desa, terutama petani, menuntut lebih dari sekadar kemampuan administrasi dan angka.

Dibutuhkan pendekatan emosional, kesabaran, serta kemampuan membaca karakter setiap nasabah.

“Pendekatan ke nasabah itu yang utama, karena kita bertemu orang dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang lembut, ada juga yang karakternya keras, kita harus bisa hadapi dengan pendekatan yang baik,” ujar Mala.


Menjadi Penopang Tiga Desa, Mayoritas Petani

Saat ini, Mala membina nasabah di sekitar tiga desa di wilayah Mujur, Praya Timur.

Mayoritas nasabahnya merupakan petani yang setiap musim membutuhkan suntikan modal untuk menjaga produktivitas usaha pertanian mereka.

Mulai dari kebutuhan pupuk, obat tanaman, hingga biaya sewa lahan, semuanya membutuhkan perhitungan yang matang.

Di titik inilah peran Mala menjadi sangat strategis.

Ia tidak hanya menawarkan pembiayaan, tetapi juga melakukan analisis agar pinjaman tetap sesuai kemampuan usaha nasabah.

“Kami harus mengarahkan sesuai kebutuhan nasabah. Di sini umumnya untuk pupuk, obat, dan lahan, baik sewa maupun penambahan. Kami analisis jumlah pinjaman dan memastikan tetap sesuai koridor,” jelasnya.

Yang menarik, pendampingan tersebut tidak berhenti pada tahap pencairan modal.

Setelah masa panen, Mala kembali hadir untuk mengarahkan pengelolaan hasil usaha agar tidak habis untuk konsumsi jangka pendek.

Ia mendorong nasabah mulai berpikir tentang investasi dan pengembangan aset.

“Setelah panen, kami arahkan ke investasi. Jadi, meski utamanya pinjaman, kami juga menawarkan produk lain yang sesuai kebutuhan nasabah,” lanjutnya.


Bukan Sekadar Kredit, Tapi Menjembatani Pasar dan Produksi

Di lapangan, tantangan terbesar petani bukan hanya soal modal.

Persoalan distribusi hasil panen dan akses pasar sering kali menjadi konflik ekonomi yang lebih besar.

Harga panen yang tidak stabil, ketergantungan pada tengkulak, hingga keterbatasan fasilitas pengolahan kerap membuat keuntungan petani tergerus.

Mala justru mengambil peran lebih jauh di area ini.

Ia menjadi penghubung antara petani dengan pelaku usaha lain yang bisa membantu proses produksi hingga pemasaran.

“Kalau ada nasabah petani yang panen, saya juga yang menghubungkan ke nasabah lain yang punya penggilingan, atau ke tengkulak, sehingga membantu produksi dan pemasarannya,” tutur Mala.

Peran ini membuatnya bukan sekadar tenaga pemasar bank, tetapi juga simpul penting dalam ekosistem ekonomi desa.

Bahkan, ia turut membantu distribusi sarana pertanian melalui jaringan BRILink Agen yang menjual pupuk dan obat-obatan.

“Ada juga BRILink Agen yang jual pupuk dan obat, saya bantu distribusinya ke petani yang membutuhkan. Jadi, bisa membantu roda perekonomian masyarakat juga,” katanya.


11 Tahun Mengawal Perubahan, dari Omzet Kecil hingga Punya Rumah dan Mobil

Selama lebih dari 11 tahun menjalankan peran sebagai Mantri BRI, Mala mengaku kebahagiaan terbesar bukan terletak pada status profesinya.

Baginya, kebanggaan paling besar adalah melihat perubahan nyata pada kehidupan nasabah yang didampinginya.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana usaha kecil yang awalnya hanya beromzet minim perlahan berkembang menjadi usaha yang mapan.

“Rasanya senang dan bangga sekali melihat perubahan mereka. Dari nasabah yang mungkin sedikit omzetnya, lama-kelamaan jadi besar omzetnya,” ujarnya.

Perubahan itu bahkan terlihat dari peningkatan aset para nasabah.

“Dari yang sedikit asetnya, jadi punya mobil, punya rumah. Kita sebagai Mantri sangat senang sekali melihat keberhasilan seperti itu,” imbuh Mala.

Kedekatan emosional dengan masyarakat juga menjadi pengalaman yang paling membekas.

Ia mengaku merasa disayangi oleh nasabah, bahkan beberapa di antaranya mengaku kehilangan saat mendengar kabar kemungkinan dirinya pindah tugas.


BRI: Perempuan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa kisah Sri Malasarin merupakan gambaran nyata kontribusi besar perempuan dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Menurutnya, perempuan di lapangan tidak hanya mampu beradaptasi dengan tantangan, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan yang inklusif.

“Kami sangat mengapresiasi dedikasi yang ditunjukkan oleh para Mantri BRI di lapangan,” ujarnya.

Ia menilai peran seperti yang dijalankan Mala menjadi bukti bahwa kesetaraan kesempatan di sektor keuangan mikro mampu menghasilkan dampak sosial yang luas.

“Kisah ini menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. BRI percaya bahwa kesetaraan kesempatan adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Akhmad. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Sri Malasarin Mantri BRI #Mantri BRI Lombok Tengah #ekonomi desa petani NTB #perempuan penggerak UMKM #pembiayaan mikro BRI